Memetik Sasandu Di Nusa Lontar; Jadi Film Terbaik Eagle Award 2015

Memetik Sasandu Di Nusa Lontar; Jadi Film Terbaik Eagle Award 2015

Grand Studio MetroTV, Kedoya, Jakarta, Kabarindo- Masyarakat suku Rote Nusa Tenggara Timur pasti berbangga.

Dari tangan dua sineas muda berbakat Wisnu Dwi Prasetyo dan Ryak Rinaldy mempromosikan alat musik tradisional suku Rote NTT, Sasandu Gong.

Anda pasti tahu, bukan ? Lagu Rote, tembang daerah yang liriknya sarat nasehat dan kearifan memang pas diiringi oleh alat musik Sasandu Gong yang terbuat dari daun lontar dan bambu yang hanya punya lima nada pentatonik.

Dalam film tersebut dikisahkan perjualan seorang guru SD di Rote, Esau Nalle yang tak rela alat musik sarat cerita dan sejarah ini tergerus jaman. Film yang berjudul 'Memetik Sasandu di Nusa Lontar ini terpilih oleh 3 dewan juri handal yaitu Hanung Bramantyo (sineas), Christine Hakim (aktris) dan Tino Saroenggallo (aktor, produser & sutradara) sebagai film terbaik Eagle Award 2015.

Memang sudah tak terasa memasuki tahun ke-11 dimana Yayasan Eagle Institute Indonesia yang tahun ini digandeng oleh Lemhanas berhasil memilih 3 terbaik dari 5 film dokumenter yang ada.

Selain itu, Tinta Perajut Bangsa karya Visian Pramudika.dan Diana Noviana didaula film favorit Eagle Award 2015.

Sementara sineas Debi Ahyar dan Runniyati Tahir untuk film dokumenternya Sekolah Tapal Batas jadi pemenang pilihan dewan juri Eagle Award 2015..

"Saya jatuh cinta dan tertarik dengan keasrian dari sineas Sekolah Tapal Batas, apalagi mereka memang anak-anak yang tumbuh dan dewasa di perbatasan sehingga tahu apa yang ingin mereka ingin ceritakan di film tersebut. Apalagi cerita adik alm. Pramoedya Ananta Toer yakni Soesilo Toer seorang Doktor lulusan Rusia dalam film berjudul Tinta Perajut Bangsa yang diceritakan berhasil membangun sebuah perpustakaan gratis dengan tujuan menularkan minat baca dan tulis bagi masyarakat sebagai wujud kecintaannya pada negara," papar Hanung yang terlihat sumringah dengan karya Eagle Award tahun ini.

Kedua film lainnya yang belum beruntung adalah, Pejuang Dari Gua Purbakala karya Nurtaqdir Anugrah bersama rekannya Muhammad fahmi Iskandar dari kota Makassar dan anak kota besar, Jakarta yakni Alexander Averil dan Ernest Meikel yang membuat film dokumenter berjudul Suara Tembok Kota.


Selamat untuk para pemenang Eagle Award 2015.............!