Lemhanas Giatkan Internalisasi PANCASILA; Gelar PPSA XIX

Lemhanas Giatkan Internalisasi PANCASILA; Gelar PPSA XIX

Lemhanas, Kebon Sirih, Jakarta, Kabarindo- Menarik, apakah betul Pancasila sudah tidak populer ?

Dari penelitian atau study dari Lemhanas dengan sebaran angket dengan membandingkan hasil lembaga survei walaupun ditengarai ada ronrongan terhadap dasar negara Indonesia, Pancasila.

"Masih banyak yang mencintai Pancasila, mereka rata-rata silent majority, jadi tetap populer walau memang Lemhanas menengarai ada ronrongan dari beberapa kelompok yang tidak saya sebutkan dari beberapa kelompok tapi yang jelas Lemhanas mengantisipasi dengan tetap memposisikan diri sebagai lembaga strategis pelestari Pancasila dengan sosialisasi dengan contoh-contoh nilai luhur Pancasila kepada masyarakat tentu saja dengan banyak hal yang strategis seperti yang didiskusikan dalam seminar yang menghadirkan sejarawan Anhar Gongong, Said Agil Siradj dari PBNU, Prof Nasaruddin Umat selaku Wamen Kemenag, Wamen Dikbud, dan lainnya," papar Budi Susilo Supandji selaku Gubernur Lemhanas.

Lanjut juga dijelaskan oleh Ketua Steering Comitte, Iza Fadli bahwa perlu ada revitalisasi nilai-nilai Pancasila dengan internalisasi sehingga ada pelembagaan di tiap lini kementerian dan departemen termasuk daerah jadi tidak hanya pusat.

Lanjut dijelaskan oleh Budi bahwa Program Pendidikan hari ini berasal dari berbagai instansi dan departemen sehingga dapat komprehensif menemukan formulasi mempopulerkan lagi Pancasila dan tentu saja karena peserta tersebut masih menjabat sehingga efektif mengimplementasikan.

Dalam pendidikan untuk anak didik seperti gotong royong, jujur, kesetiakawanan serta religi harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi pola sikap dengan keteladanan. Menurut Lemhanas peran sekolah, museum dan budaya menjadi penting mempopulerkan Pancasila.

Lemhanas bisa ikut serta untuk dapat hadir di daerah perbatasan, perantauan serta pelosok/pedesaan untuk mempopulerkan Pancasila sehingga dasar negara itu berupa gambar maupun uraian dari nilai-nilai yang ada untuk masyarakat bawah termasuk internalisasi serta reviltaslisasi lembaga negara.

"Jadi revitalisasi dan internalisasi ini bukan indoktrinasi jadi seakan-akan Lemhanas saja pemilik Pancasila, kalaupun penting Perpres juga tidak apa-apa terpenting sejarah untuk anak didik di sekolah-sekolah dan museum," imbuh Budi lebih lanjut.\

Seminar juga menghadirkan Dipo Alam Sekab sebagai undangan dan diingatkan Lemhanas akan mengundang para caleg jelang pilpres untuk internalisasi dan pemahaman Pancasila sampai seribuan orang.