Kota Riau Punya Rudenim; Tampung 151 Pencari Suaka

Kota Riau Punya Rudenim; Tampung 151 Pencari Suaka

Jakarta, Kabarindo- Anda perlu tahu bahwa Rumah Detensi Imigrasi atau disingkat Rudenim pertama kali ada di Denpasar.

Lalu bersama-sama 12 (dua belas) Rumah Detensi Imigrasi lainnya dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia nomor M.01.PR.07.04 Tahun 2004 tanggal 09 Maret 2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Detensi Imigrasi.

“Immigration Detention Center” dalam bahasa Indonesia disebut Rumah Detensi Imigrasi. Rumah Detensi Imigrasi adalah unit pelaksana teknis yang menjalankan Fungsi Keimigrasian sebagai tempat penampungan sementara bagi Orang Asing yang melanggar Undang-Undang Imigrasi yang telah direvisi pada tahun 2011. Bab III Undang-Undang ini menyatakan soal di mana Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) bisa dibangun, kondisi yang menyebabkan seseorang ditempatkan dalam rumah detensi dan jangka waktu penahanan. Dinyatakan juga juga di dalamnya bahwa memberikan pelayanan keimigrasian, penegakan hukum, keamanan negara dan memfasilitasi kesejahteraan masyarakat, adalah tugas Pemerintah.

Jadi termasuk yang masih baru adalah yang ada di Riau-Pekanbaru.
Disana kini ada hampir 200-an Deteni,  ada istilah Deteni yakni para pencari suaka yang tinggal di Rumah Detensi Imigrasi.

Penamaan Rumah Detensi Imigrasi pasti memiliki maksud tertentu. Mengenakan kata ‘rumah’ bagi sebuah tempat yang mengurangi kebebasan penghuninya, merupakan sebuah paradoks. Rumah bagi sebagian besar orang adalah tempat yang aman dan menyenangkan, yang menghadirkan cinta melalui orang-orang yang kita sayangi. Rumah menjadi perkenalan pertama kita dengan peradaban manusia serta menjadi tempat untuk bertumbuh di dalamnya. Rumah menjadi sebuah kerinduan ketika jarak ragawi memisahkannya.

Apakah ‘rumah’ menjadi ideal ketika disematkan dalam sebuah tempat yang membuat banyak orang merasa terkurung dan tidak merasakan cinta, bahkan dari mereka yang setiap hari hadir dan dekat? Rumah menjadi konsep abstrak yang tidak relevan dengan keseharian deteni. Rumah tidak lagi bermakna dekat, melainkan jauh, baik secara ragawi maupun rohani. “Bagi kami ini bukan rumah,” ungkap pencari suaka asal Afganistan.

Mungkin para perumus kebijakan negeri ini sadar bahwa pencari suaka dan pengungsi lintas batas bukan pelaku kejahatan yang melanggar hukum Indonesia. Menyamakan Rumah Detensi Imigrasi dengan lembaga pemasyarakatan adalah sebuah kesalahan besar. Dalam pedoman penanganan pengungsi dan pencari suaka secara jelas disebutkan bahwa para pencari suaka dan pengungsi tidak boleh ditempatkan bersama pelaku tindak kriminal. Kesadaran itu pada akhirnya mendorong mereka untuk menggunakan kata rumah daripada kata lembaga atau fasilitas. Ini merupakan kesadaran bahwa mereka yang nantinya menempati Rumah Detensi Imigrasi adalah orang-orang yang jauh, terusir atau kehilangan ‘rumah’.