Indonesia Punya 3B Smart City; Tiga Kota Meniti Jalan

Indonesia Punya 3B Smart City; Tiga Kota Meniti Jalan

Jakarta, Kabarindo- Di masa depan smart city (kota cerdas) adalah sebuah keniscayaan.

Semakin banyaknya jumlah penduduk dan banyak problematika kota, teknologi yang bisa meningkatkan pelayanan pemerintah kepada publik pun dirasa kian perlu.

Kendati punya sisi negatif, teknologi tak bisa dipungkiri punya dampak positif dalam memudahkan kehidupan manusia. Tengok Singapura, manula di sana diberikan kartu khusus yang mana saat ditempel ke lampu lalu lintas bisa membuat lampu merah menyala lebih lama, memberikan mereka waktu lebih untuk menyeberang.

Belum ada kota di Indonesia yang seperti itu, namun tetap ada yang merintis jalan ke sana. Tiga di antaranya Banda Aceh, Bandung, dan Banyuwangi yang bisa disingkat menjadi 3B.

Dalam diskusi pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan pelayanan publik dalam smart city yang dihelat di @America Jakarta Pusat, Rabu (28/1), Illiza Saaduddin Djamal (Wali Kota Banda Aceh), Ridwan Kamil (Wali Kota Bandung), dan Abdullah Azwar Anas (Bupati Banyuwangi) bercerita tentang daerah mereka masing-masing.

Di Banda Aceh, Illiza membanggakan sistem komplain publik melalui pesan singkat (SMS). Komplain itu ditujukan ke satu nomor, namun Sekretaris Daerah, Walikota, dan Wakil Walikota mengetahuinya dan menanggapinya langsung. Setidaknya begitulah pengakuan sang wali kota.

"Kami juga membuat perizinan satu kali pertemuan. Tujuannya agar masyarakat tidak usah bolak-balik ke kantor instansi. Lalu ada situs web yang mana masyarakat bisa melihat antreannya sejauh mana," kata Illiza.

"Banda Aceh kan dikenal sebagai kota seribu taman, kami sediakan wifi gratis di sana dan juga di sekolah, taman, balaikota, dan masjid. Tapi tetap ada kontrol, situs web yang tidak baik tidak bisa diakses. Dinas-dinas juga didorong untuk membuka data ke publik. Tahun lalu baru dua SKPD (satuan kerja perangkat daerah) yang open data, tahun ini targetnya 20% dan harapannya bisa 100% di 2017," ia melanjutkan.

Bupati berjilbab ini juga memperlihatkan inovasi situs web GIS Kota Banda Aceh. Di sana siapapun bisa melihat peta lokasi objek wisata, sarana pendidikan, sarana kesehatan, sebaran pasar, dan bahkan escape building (bangunan evakusasi) jika sewaktu-waktu bencana melanda.

Bandung barangkali lebih sering dikenal inovasinya dalam langkah menuju smart city. Ridwan Kamil sejak setahun lalu memang menekankan inovasi sebagai kerja utama satuan kerjanya.

Yang paling gampang dilihat adalah paksaan Kang Emil (sapaan akrabnya) agar semua dinas memiliki akun media sosial. Ini dilakukan agar masyarakat punya saluran untuk melaporkan sesuatu.

"Dulu kalau ada laporan saya sulit mengecek kalau enggak ada foto. Atau misal ada yang laporannya asal, ngakunya sudah beres dikerjakan padahal belum dan saya ada di sana. Tapi kalau ada laporan pakai foto sesudah dan sebelum kita jadi tahu kondisi riilnya," jelas Emil.

Selain itu ada pula Sistem Informasi Penilaian Bandung. Ini adalah sebuah sistem penilaian terbuka yang menjadi wadah partisipasi publik untuk menilai kinerja layanan di kecamatan dan kelurahan.

Tujuannya adalah menggelar penilaian yang objektif sehingga para pegawai negeri sipil terpacu untuk melayani publik sebaik mungkin.

Banda Aceh juga punya sistem serupa namun tak sama. Bahkan kinerja prestasi pegawai dibuat berbanding lurus dengan tunjangan prestasi. Semakin baik kinerja, semakin tinggi pula tunjangan prestasi.

Yang terbaru, Emil memperlihatkan perkembangan pembangunan Bandung Command Center (BCC), sebuah pusat kendali di mana sang wali kota bisa memantau kondisi di segala penjuru Bandung.

Fungsi utamanya adalah mengawasi kerja pegawai negeri sipil (PNS) dalam melayani publik, memasok data lengkap dari dinas serta badan, serta memantau kondisi kota melalui kamera pengawas. Pembangunan BCC kabarnya menelan dana Rp 27 miliar.

"Ini juga untuk efisiensi karena selama ini pemerintah sering menggelar rapat hanya untuk mengambil data. Dari sini saya bisa ambil data tanpa perlu rapat, waktu yang buat rapat bisa untuk kerja lain," wali kota yang juga arsitek itu menjelaskan.

Banyuwangi sedikit berbeda. Alih-alih membuat smart city, Anas memilih jargon smart kampung. Sebabnya, masalah yang dihadapi Banyuwangi berbeda.

Ia memulai paparannya dengan menunjukkan kondisi geografis Banyuwangi yang punya luas wilayah 5.782,5 kilometer persergi. Kondisi itu menjadi sebuah tantangan bagi pemimpin daerah untuk "melipat" jarak, meminjam istilah yang dipakai Anas.

"Di Banyuwangi, masalahnya adalah bagaimana melipat jarak. Untuk mengurus administrasi, kalau dari ujung sini ke sini (menunjuk peta Banyuwangi) bisa tiga jam naik mobil. Makanya harus disederhanakan," ucap Anas.

Dibuatlah banyak program yang diawali kata smart yaitu Smart Economy, Smart Mobility, Smart People, Smart Environment, Smart Living, Smart Governance, dan Smart Farming.

Dalam bidang ekonomi, masyarakat diajari untuk memanfaatkan internet sebagai saluran distribusi produk dagangan.

Uniknya, hewan ternak semacam kambing dan sapi pun dipasarkan secara daring. Anas juga bercita-cita agar Universitas Airlangga bisa didirikan di Banyuwangi.

Ia ingin Banyuwangi bisa seperti Depok yang ekonominya berkembang setelah dibangunnya Universitas Indonesia di sana.

Kebijakan lain, Banyuwangi sudah melarang izin baru pendirian ritel modern dan mal. Langkah ini diambil untuk melindungi pasar tradisional.

Bidang pertanian juga tak luput dari inovasi. Untuk meningkatkan produksi buah naga misalnya, dipakai teknologi penerangan lampu 5 watt terus menerus.

Ketiga pemimpin daerah ini sepakat bahwa yang menjadi tantangan adalah sumber daya manusia. Mereka mengakui mengajak masyarakat untuk berubah tidak mudah. Begitu pula mengajari para PNS untuk melek teknologi.

"Kuncinya di political will. Asal pemimpinnya mau berinovasi dan mengajak orang-orang ikut, pasti bisa. Sebutkan semua kebaikan perusahaan swasta, pemerintah mau kerjakan kok," ucap Emil.

Jalan masih panjang dan terjal. Untuk itulah mereka membangun sistem yang membuat langkah ini bisa berkelanjutan. Agar siapapun pengganti mereka nanti, apa yang saat ini mereka kerjakan tidak berhenti atau malah mundur seperti dilansir dari laman beritasatu.