Imam Prasodjo; Menyalami Warga Suku Baduy

Imam Prasodjo; Menyalami Warga Suku Baduy

Cikini, Jakarta, Kabarindo- Ada yang menarik dari fenomena whatsapp setelah berkali-kali menguntungkan redaksi karena satu dari sekian ratus anak negeri yang berprestasi dan sangat kondang berkontribusi untuk negerinya.

Tersebutlah sosiolog UI dan pengawal KPK paling setia, Imam Prasodjo, kerap disapa mas Imam oleh para awak media membeberkan cerita menarik 8-9 orang warga Suku Baduy Dalam di media WA-whatsappnya.

Tertulis seperti ini dari beberapa editan yang memudahkan untuk Anda baca, akhir pekan kemarin pagi, smartphone mas Imam berdering.

Rupanya salah seorang  kepala Suku Baduy Dalam (Wakil Jaro Tangtu, Cibeo) yang sudah beberapa tahun mas Imam kenal menelpon.

Namanya Ayah Mursyid, "

Bagi saya, ini surprise. Kita tahu bawa di tengah kehidupan yang berubah pesat, warga Suku Baduy masih ketat mempertahankan adat istiadat mereka. Di wilayah adat mereka, Banten, berbagai larangan masih diterapkan seperti larangan menggunakan listrik, radio, televisi, tilpon, kendaraan bermotor dan berbagai peralatan modern lainnya. Namun, kali ini salah seorang pimpinan mereka menghubungi saya dengan sebuah alat komunikasi modern. Ini luar biasa. Saya pun menduga, pasti orang Baduy ini sedang berada di luar wilayah adat mereka.

Bagi para sahabat yang belum mengenal suku Baduy, suku yang sangat unik ini terdiri dari dua kelompok besar, yaitu Suku Baduy Dalam dan Luar. Keberadaan mereka sangat mudah ditandai. Saat mereka keluar dari wilayah mereka, biasanya mereka berjalan bergerombol. Suku Baduy Dalam berpakaian warna putih, sedangkan suku Baduy Luar berpakaian warna hitam. Suku Baduy Dalam adalah kelompok yang masih ketat menjalankan adat istiadat mereka. Sedang Baduy Luar sudah lebih longgar, seperti mereka diperkenankan naik mobil. Nah, kali ini saya tengah berhubungan dengan Suku Baduy Dalam," tulisnya.

Lanjut, suara Ayah Mursyid terdengar: "Pak, saya sekarang berada di Jakarta. Pada 17 Agustus lalu saya diundang ke istana, tapi setelah upacara, saya belum bertemu seorang pun dari 'pamarintah'."

Bahasa Indonesia yang ia ucapkan terdengar lancar.

"Saya ingin bertemu dengan Pak Jokowi atau siapa pun untuk menanyakan kembali soal KTP. Apakah Bapak bisa bantu?"

Ayah Mursyid, memang seperti tak kenal lelah menjadi juru bicara Suku Baduy dalam memperjuangkan hak mereka agar agama mereka, Sunda Wiwitan, dapat diakui keberadaanya dan dapat dicantumkan pada KTP mereka. Selain itu, ia juga berjuang mendapatkan bantuan untuk mendirikan pusat kesehatan sendiri, yang tidak digabungkan dengan Puskesmas pada umumnya. Ia juga ingin mendirikan pusat informasi budaya Baduy di pintu masuk wilayah adat mereka agar setiap warga luar Baduy dapat memahami dan menghormati adat mereka.

Ternyata mas Imam telah mengenal Ayah Mursyid karena beberapa tahun belakangan ini ia terus mengajak diskusi tentang upaya peningkatan kesejahteraan ekonomi warganya. Di tengah beragam aturan adat yang ketat, warga Baduy Dalam telah sepakat untuk mengembangkan pertanian modern asalkan dilakukan di luar tanah adat mereka. Rupanya ini jalan keluar untuk merespon tekanan kebutuhan ekonomi mereka karena penduduk Baduy mengalami peningkatan pesat.

Konon, sekitar 20 tahun lalu, penduduknya tak lebih dari 6 ribu. Saat ini sudah mendekati 12 ribu.

Jerih payah Ayah Mursyid, sedikit demi sedikit mulai terwujud. Dengan bantuan berbagai pihak, kini rumah pengobatan Baduy mulai terbangun, walaupun sekedar berbentuk rumah sederhana tempat berobat dan melahirkan. Namanya "Imah Pangubaran." Kini juga telah tersedia tanah di luar tanah adat seluas empat hektar yang siap mereka jadikan tanah pertanian modern. Tinggal menunggu siapa yang bisa membantu. Namun Pusat Informasi Budaya Baduy yang diimpikan, hingga kini belum tersedia. Kelihatannya belum ada yang tertarik membantu.

Itulah buah tangan Ayah Mursyid yang selalu rajin menjalin komunikasi dengan pihak luar melalui HPnya, walau pun tentu HPnya hanya boleh digunakan selama ia berada di luar wilayah adat.

"Sekarang ada di mana?" Saya melanjutkan pembicaraan dalam tilpon pagi itu.

"Saya bersama tujuh teman warga Baduy lain, sekarang berada di sekitar Bundaran Hotel Indonesia. Bisakah kami bertemu Bapak?"

Tanpa fikir panjang, saya pun bergegas. Saya menyadari mereka tentu datang ke Jakarta dengan berjalan kaki berhari hari. Saat ini pun, sayalah yang harus menghampiri mereka karena bila mereka yang datang ke rumah saya, tentu akan memakan waktu lama.

Saat saya sampai di sekitar bundaran Hotel Indonesia, saya tak mengalami kesulitan mencari mereka karena tampilan mereka yang unik. Saat bertemu, kami pun duduk di bangku trotoir di Bundaran HI untuk berbincang. Sekali lagi, Ayah Mursyid membicarakan keinginan mereka untuk bertemu salah seorang pejabat pemerintah yang dapat mendengarkan keluhan mereka terkait keinginan pencantuman identitas agama mereka dalam KTP.

Saat itu saya mencoba menghubungi beberapa pejabat. Dan saya pun berupaya menilpon Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin, tapi tak tersambung.

"Wah...belum diangkat nih. Kita tunggu saja ya.  Saya sudah kirim sms sambil menunggu jawaban sms saya kepada Menteri Agama, saya pun terfikir untuk mengajak mereka jalan jalan di sekitar wilayah Budaran HI. Warga Baduy sebenarnya sudah terbiasa ke kota. Mereka biasanya berjalan kaki tanpa alas kaki berhari hari untuk berjualan hasil bumi dan kerajinan mereka spt madu, kain, parang, pisau, ke rumah rumah warga kota.

Namun saya menduga mereka selama ini tidak pernah mendapat gambaran lebih dekat tentang budaya kota lebih dalam. Tiba-tiba, entah mengapa saya terdorong untuk sekali kali mengajak mereka melihat produk produk kerajinan yang dihasilkan orang luar Baduy. Bahkan saya terfikir mengajak mereka. mengenal produk produk peralatan rumah tangga modern yang dijual dalam Mall. Siapa tahu akan memberi inspirasi pada mereka dalam mengembangkan kerajinan Baduy. Karena itu saya bawa mereka ke Alun Alun, Grand Indonesia.

Setelah mereka sepakat dengan ajakan ini, saya pun mengajak mereka tour ke Ace Hardware sebelum melihat barang barang kerajinan ke Alun Alun.

"Apa pernah masuk gedung beringkat?" Saya bertanya ingin tahu.

"Belum!" Ayah Mursyid menjawab singkat.

Saya sedikit terperanjat. Rupanya selama ini mereka sering ke kota hanya berjalan  mengitarinya dan melihat gedung tanpa pernah masuk ke dalamnya. Mungkin juga mereka tak yakin bisa masuk ke dalam seandainya mereka ingin sekali pun. Benar saja.
Saat saya antar masuk Grand Indonesia, seorang Satpam mendatangi mereka yang berjalan beriringan.

"Mau ke mana? Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang Satpam di Grand Indonesia. Saya pun dengan sigap menghampiri Satpam itu untuk menjelaskan. Satpam kelihatannya mengenali wajah saya dan alhamdulillah ia tak menghambat.

Saat saya mengajak rombongan ini naik eskalator dan lift, wajah mereka berbinar. Saya perlu menjelaskan apa itu lift agar mereka tak takut. Sepanjang perjalanan dari tingkat demi tingkat, saya mencoba menjelaskan apa yang mereka lihat, seperti toko jam tangan, toko parfum bermerk, hingga beragam pakaian. Saat saya antar mereka ke toilet ketika ada di antara mereka ingin buang air kecil, saya juga tunjukkan pada mereka bagaimana menggunakan toilet dan wastafel. Mereka terlihat sangat tertarik. Bahkan mereka mencoba berkali kali alat pengering tangan setelah saya beri tahu kegunaannya. Namun dahi mereka berkerut, mungkin terheran
heran, saat saya jelaskan kegunaan toilet paper.

Saat memasuki pusat belanja Ace Hardware, seorang manager segera menghampiri saya. Rupanya ia dengan suka rela menugaskan pelayan khusus untuk mengantar kami selama kami berada di pusat perbelanjaan ini. Satu demi satu barang diperkenalkan. Kipas angin, speaker, kursi goyang, vacuum cleaner hingga tempat mandi sauna.

Seorang dari mereka bertanya: "Siapa yang buat barang barang ini?" Saya pun menelan ludah: "Ya..ini semua dikirim dari China." Saya terdiam sejenak mencoba menebak apa yang tengah difikirkan orang ini. Seorang Baduy kelihatannya memahami apa yang terjadi di negara ini.

Saat waktu makan siang tiba, acara makan di restauran juga menjadi peristiwa menarik. Mereka saya antar keliling untuk memilih beragam makanan yang tersedia di FOOD LOUVERS, Sky Bridge, Grand Indonesia. Mereka awalnya terlihat bingung karena banyaknya pilihan makanan. Akhirnya mereka memutuskan makan mie saja. Namun saya katakan ini bukan mie seperti yang biasa ada di jalan jalan. Ini makanan Vietnam. Mereka tetap ingin makan saja, dan kami pun makan bersama sambil menikmati pemandangan Jakarta yang tampak dari kaca gedung. Tak lupa mereka saya minta cuci tangan dulu di wastafel. Dan mereka pun sekarang dengan sigap dapat menggunakannya.

Lanjut ditulis mas Imam," Saya tawari mereka nonton film. Dan mereka pun bersedia dengan senang hati. Tadinya saya terfikir mengajak mereka menonton film 4D. Namun saya urungkan karena takut mereka pusing kepalanya. Dan akhirnya, kami pun menonton film di Blitzmegaplex, sebuah pengalaman yang belum pernah mereka alaminya sama sekali. Salah seorang dari mereka mengatakan bahwa yang pernah ia lihat adalah film layar tancap. Bukan film dalam gedung bioskop.

Saat film akan dimulai, mereka ribut saling tertawa. Saya pun mencoba mencari tahu sebabnya. Rupanya mereka bingung karena lampu dimatikan dan ruangan menjadi gelap.

Akhirnya acara nonton film pun berlangsung. Perhatian saya tidak pada film namun pada wajah wajah mereka dari kegelapan yang tampak gembira. Bahkan ada di antara mereka yang duduknya maju ke depan, tampak antusias dan sesekali wajahnya terlihat tersenyum.

Sayang, acara nonton bersama harus diakhiri sebelum film selesai. Sambil berbisik, saya katakan pada Ayah Mursyid bahwa saya baru mendapat sms dari Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin. Pak Menteri siap menerima mereka Jam 17.45,".

Ayah Mursyid memilih bertemu dengan Menteri Agama segera. Karena mereka harus berjalan dari Grand Indonesia ke Kompleks Perumahan Menteri, Rumah Dinas Menteri Agama di Jalan Widya Chandra 3, No.9, Jakarta Selatan, akhirnya mereka putuskan keluar gedung bioskop sebelum film selesai.

Sambil jalan keluar gedung, saya sempatkan mereka mampir ke Alun Alun untuk melihat kerajinan dan tenun. Masing masing mereka mengamati satu persatu kerajinan yang dijajakan di sana. Mereka berkali kali bertanya pada saya apakah tempat ini juga menjual barang kerajinan dan tenun Baduy. Saya coba mencari tapi sayang saat itu tak satu pun produk Baduy ditemukan. Syukurlah ada salah seorang perempuan staf manager Alun Alun yang tengah berjalan dengan menggunakan selendang Baduy. Saya segera mengejarnya, mencoba bertanya. Kami pun berbincang singkat dan tukar nomor tilpon. Ayah Mursyid begitu cekatan memohon agar perempuan itu mengupayakan produk Baduy dapat dijual di sini. Saya pun tersenyum melihat kecerdikan Ayah Mursyid.

Masih ada lanjutannya dan Anda pasti penasaran sama dengan redaksi, apa yang terjadi saat dialog dengan Menteri Agama ?

Mas Imam berjanji untuk waktu mendatang karena katanya cukup lelah menulis kalimat panjang seperti yang Anda baca ini via WA di smartphonenya.


Penasaran?