Beras Dalam Kemasan; Wajib Gunakan Label Bahasa Indonesia

Beras Dalam Kemasan; Wajib Gunakan Label Bahasa Indonesia

Jakarta, Kabarindo- Direktur  Jenderal  Standardisasi  dan  Perlindungan  Konsumen  (SPK) Kementerian Perdagangan  Widodo terus  mengingatkan  pedagang  agar  mematuhi  aturan  dalam perlindungan konsumen.

Dalam paparannya di Pasar Induk Cipinang Jakarta, Rabu (18/11) Widodo mengingatkan    pedagang    beras    agar    mematuhi    ketentuan    yang    berlaku    dan    kewajiban pencantuman label bahasa Indonesia pada beras jualan mereka.

“Keterangan pada label harus mudah  dibaca  dan  mudah  dimengerti,  tidak  mudah  lepas,  tidak mudah luntur  atau  rusak,  serta  disertakan  informasi  lainnya  bila  perlu.  Hal  ini  harus  dipenuhi untuk menjamin perlindungan konsumen," tegas Widodo.

Widodo hadir dalam dalam kegiatan “Sinergitas Peningkatan Pemahaman Ketentuan Perlindungan Konsumen,  Pengawasan Barang dan  Penegakan Hukum  Sebagai  Upaya  Pelaksanaan  Perlindungan Konsumen dan Pemberantasan Penyelundupan Komoditas Beras" di Pasar Induk Cipinang.

Widodo  menyampaikan  bahwa  pedagang  harus  memperhatikan  kebenaran  label  dengan  barang jualannya. Kebenaran label
meliputi jenis dan kualitas beras, berat, dan tingkat kepecahannya.

“Selain wajib berlabel dalam bahasa Indonesia, kemasan beras yang sesuai ketentuan, dalam hal ini food grade, juga wajib mencantumkan logo tara pangan dan kode daur ulang,” katanya.

Logotara pangan merupakan penandaan yang menunjukkan bahwa suatu kemasan pangan aman digunakan  untuk  pangan.  Sementara  itu,  kode  daur  ulang  adalah  penandaan  yang  menunjukkan bahwa   suatu   kemasan   pangan   dapat   didaur   ulang.

"Itu instrumen   yang   digunakan dalam melakukan pengawasan terhadap distribusi beras impor," katanya.

Widodo  mengajak  kementerian  dan  lembaga  nonkementerian  lainnya  untuk  ikut  mengawasi peredaran   beras.   Misalnya,   mengajak   Otoritas   Kompeten   Keamanan   Pangan   Kementerian Pertanian,  maupun  dinas  terkait  di  provinsi  dan  kabupaten/kota  mengenai  jaminan  keamanan
beras.

“Pelaksanaan pengawasan dapat dilakukan sendiri-sendiri  atau  terpadu  dengan  instansi terkait atau dengan dinas di daerah,”tuturnya.

Kegiatan  sinergitas  ini  diadakan  Direktorat  Jenderal  SPK  bersama  dengan  Direktorat  Jenderal  Bea dan  Cukai  Kementerian  Keuangan,  Badan  Ketahanan  Pangan  Kementerian  Pertanian, Direktorat Bahan Pokok dan Barang Strategis Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Direktorat Impor Ditjen   Perdagangan   Luar   Negeri   Kemendag,   dan   Badan   Reserse   Kriminal   Kepolisian   Negara Republik Indonesia.

Widodo   mengharapkan   kegiatan   ini   dapat   meningkatkan   pemahaman   kebijakan   di   bidang perberasan,   mendorong   terciptanya   iklim   usaha   yang   sehat,   serta   menjamin   perlindungan konsumen.

Pada  kegiatan  ini,  Widodo  juga  menyampaikan  tata  cara  ekspor  dan  impor  beras,  distribusi  dan hal-hal   yang   terkait   dengan   keamanan   pangan,   serta   penegakan   hukum   guna   memberikan peningkatan pemahaman bagi pelaku usaha di bidang perberasan.