Pameran OKI Sukses; Menangguk Potensi Dagang dari Negara-Negara Islam

   Pameran OKI Sukses; Menangguk Potensi Dagang dari Negara-Negara Islam

Jakarta, Kabarindo– Dalam upaya meningkatkan kehadiran Indonesia di pasar non tradisional negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) sekaligus memperbaiki neraca perdagangan bilateral dengan Iran, Indonesia melalui Kementerian Perdagangan berpartisipasi pada pameran dagang negara anggota OKI ke-14 pada 28 Oktober-1 November 2013 di Teheran Permanent International Fairground, Teheran, Iran.

Pada penyelenggaran tahun ini, pameran diikuti oleh 34 dari 57 negara anggota OKI dengan lebih dari 500 perusahaan yang turut berpartisipasi menampilkan aneka produk dan jasa.

Pameran dibuka tanggal 28 Oktober 2013 oleh Wakil Presiden Republik Islam Iran, Eshagh Jahangiri didampingi oleh Menteri Perdagangan, Industri dan Pertambangan Republik Islam Iran, Mohammad Reza Nematzadeh, Menteri Perdagangan dari beberapa negara anggota OKI, anggota parlemen Iran, para Duta Besar negara-negara anggota OKI serta perwakilan dari delegasi negara-negara peserta pameran.

Pada sambutannya, Wapres Iran menyampaikan bahwa masih terdapat kesenjangan ekonomi dan perdagangan diantara sesama negara anggota OKI. Untuk itu diharapkan agar sesama negara muslim dapat meningkatkan kerja sama di berbagai bidang termasuk bidang perdagangan, sehingga kesenjangan yang masih ada akan semakin berkurang.

Wapres Iran juga menyampaikan bahwa dalam bidang perdagangan, negara-negara anggota OKI harus melakukan kerja sama Free Trade Area (FTA) untuk mengurangi hambatan tarif dan non-tarif yang masih menghambat laju perdagangan diantara negara anggota OKI.

Setelah selesai acara pembukaan pameran, Wapres Iran dan Menteri Perdagangan Iran berkesempatan mengunjungi Paviliun Indonesia. Kunjungan tersebut sekaligus dimanfaatkan sebagai pembukaan Paviliun Indonesia yang ditandai dengan upacara pemotongan pita secara bersama-sama dengan Duta Besar Republik Indonesia di Tehran.

Paviliun Indonesia dengan tema “Trade with Remarkable Indonesia” menampilkan produk dari 13 perusahaan skala besar dan Usaha Kecil Menengah (UKM). Perusahaan yang berpartisipasi yaitu: 1) Tan Putra Tama, PT (bubuk kakao); 2) Selatan Jadi Jaya, PT. (bagian otomotif-baterai); 3) Tjiwi Kimia Paper Products, PT (produk kertas); 4) Mayora Indah, PT (produk makanan dan
kopi instan); 5) Indo Nusa Enterprise (perhiasan); 6) Timur Mas Abadi (bahan bangunan-atap); 7) Indokom Citra Persada (kopi dan seafoods); 8) Ariega Hospitality (produk interior dan furnitur); 9) OT Group (produk makanan dan minuman); 10) Betrien Shoes, CV (sepatu); 11) Dua Kelinci (kacang); 12) Mapat, PT (kain batik Besurek); 13) Ende, CV (makanan kering siap makan).

Prospective kontak dagang yang diperoleh perusahaan Indonesia selama pameran adalah sebesar USD 2.625.000 untuk produk biji kopi, kopi instan, dan bubuk kakao. Adapun transaksi ritel yang terjadi adalah sejumlah USD 8.000.
Selain produk-produk tersebut, permintaan (inquiry) terhadap produk-produk Indonesia lainnya yang tercatat adalah untuk kertas gulung, bubur kertas, baterai kendaraan bermotor, karet alam, barang-barang konsumen lainnya, serta bahan bangunan.

Selama berlangsungnya pameran, paviliun Indonesia mendapat kunjungan dari tamu VIP lainnya, seperti Gholamre za Mesbahi Moghadam, Anggota Parlemen Iran dan Ketua Badan Anggaran Parlemen Iran, serta Dr. El Hassane Hzaine, Director General of Islamic Centre for Development of Trade – OKI. Mereka menyampaikan apresiasinya atas partisipasi Indonesia pada kegiatan ini sekaligus mengharapkan Indonesia semakin berperan dalam peningkatan kerja sama antara negara-negara anggota OKI.

Capaian lain yang diperoleh Paviliun Indonesia adalah The 3rd Prize Award yang diberikan oleh Dr. El Hassane Hzaine kepada Direktur Pengembangan Promosi dan Citra Kemendag, Pradnyawati. Penghargaan paviliun terbaik ketiga setelah Iran dan Kuwait tersebut diberikan berdasarkan kriteria desain paviliun dan keanekaragaman produk yang ditampilkan.

Dalam rangkaian partisipasi Indonesia pada pameran ini, Kemendag juga telah bekerja sama dengan Kementerian Perindustian, KBRI Tehran dan Iran Chamber of Commerce, Industries, Mines and Agricultures (ICCIMA), terutama dalam menyelenggarakan Forum Bisnis Indonesia- Iran pada 29 Oktober 2013 bertempat di KADIN ICCIMA.

Acara Bisnis Forum tersebut dipandu oleh Ali Asghar Farschi, Director General of Asia and Oceania, ICCIMA serta dihadiri oleh Duta Besar RI di Tehran, Dian Wirengjurit; Direktur Pengembangan Promosi dan Citra Kemendag; Perwakilan Kementerian Perindustrian RI; perusahaan Indonesia peserta pameran; serta perusahaan Iran dari berbagai sektor.

Penyelenggaraan forum bisnis ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada pelaku usaha kedua negara mengenai kondisi riil masing-masing negara serta upaya peningkatan kerja sama di bidang perdagangan. Acara dilanjutkan dengan business matching antar pengusaha Indonesia dengan perusahaan Iran untuk menjajagi peluang menjadi mitra dagang.

Dalam kesempatan presentasi tersebut Pradnyawati menyerukan agar “Indonesia dan Iran harus terus mengupayakan kerja sama perbankan di antara kedua negara, sehingga dapat memfasilitasi transaksi antara pengusaha Indonesia-Iran. Ini tentunya akan berdampak terhadap peningkatan riil nilai perdagangan kedua negara.”

Lebih lanjut Pradnyawati mengatakan bahwa kerja sama di bidang keuangan dimaksud akan membuka kerja sama bilateral yang lebih luas di berbagai bidang potensial, antara lain ilmu pengetahuan dan teknologi, industri, infrastruktur, jasa konstruksi, pendidikan, dan pariwisata.

Dari hasil pengamatan selama kegiatan pameran, embargo atau sanksi ekonomi yang dikenakan kepada negara tersebut sejak lebih dari tiga dekade yang lalu membuat Iran terus berupaya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dengan memperkuat ketahanan pangan dan sektor industri. Iran saat ini relatif self-sufficient dan memiliki beberapa industri unggulan, antara lain makanan dan minuman, petrokimia, otomotif, mesin-mesin industri, turbin.

Kendala sementara yang dihadapi Indonesia untuk masuk ke pasar Iran secara langsung adalah mekanisme pembayaran. Pembayaran harus dilakukan melalui perbankan di negara ketiga seperti Uni Emirate Arab (Dubai), Turki, dan Malaysia. Namun demikian Bank Jabar dilaporkan telah bersedia menjadi settlement bank untuk perdagangan antara Indonesia dan Iran. Bank
tersebut telah menyusun skema payment and banking arrangement dan selanjutnya akan menyusun pedoman bagi para pelaku usaha Indonesia yang akan memanfaatkan skema pembayaran ini. Bank Indonesia sendiri pada dasarnya mendukung upaya peningkatan perdagangan dengan Iran dan tidak melarang kerja sama dengan Iran.

Dari interaksi peserta pameran dengan calon mitra bisnisnya juga terdapat indikasi awal adanya eskalasi tarif yang berpotensi untuk menjadi kendala. Sebagai contoh produk makanan olahan dikenakan tarif bea masuk sebesar 32% ditambah dengan VAT sebesar 6%.

Kondisi ini nampaknya tidak dihadapi oleh peserta pameran yang membawa produk setengah jadi, misalnya bubuk kakao, karena menurut importir Iran harga yang ditawarkan oleh Indonesia cukup kompetitif.

Untuk menjaga agar harga produk Indonesia tetap kompetitif maka beberapa
komoditas/produk unggulan ekspor Indonesia perlu diturunkan tarifnya.

Komoditas/produk tersebut antara lain adalah kertas, minyak sawit, minyak goreng, produk karet, benang tekstil, elektronika, produk toiletries, barang konsumen lainnya, serta teh dan kopi. Penurunan tarif tersebut kiranya dimungkinkan dengan diaktifkannya kembali perundingan Preferential Trade
Agreement yang terhenti sejak tahun 2010.

Pameran Negara-Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Pameran negara-negara anggota OKI ini sendiri diselenggarakan untuk meningkatkan kerja
sama perdagangan diantara negara-negara anggota OKI. Dalam kurun waktu lima tahun terakhir, perdagangan negara-negara anggota OKI meningkat rata-rata lebih dari 14% setahun.

Tahun 2012 nilai ekspor non migas Indonesia ke negara-negara OKI berjumlah USD 20,3 miliar dengan tren sebesar 10,31%.

Dua tahun lalu, pameran serupa diadakan di Sharjah, Uni Emirat Arab yang diikuti oleh 500 eksibitor dari 27 negara anggota OKI dan komunitas muslim dari tiga negara non-anggota OKI (India, China, dan Thailand). Dikunjungi oleh lebih dari 1.500 pengunjung bisnis, partisipasi Indonesia pada pameran OKI di Sharjah tersebut menghasilkan total transaksi dagang sebesar USD 452.435.

Sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia, keterlibatan Indonesia pada pameran ini merupakan kesempatan yang baik dalam rangka pengembangan hubungan ekonomi, perdagangan dan investasi di antara sesama negara-negara anggota OKI, khususnya dalam peningkatan ekspor nonmigas.

Produk utama ekspor nonmigas Indonesia ke negara OKI antara lain minyak sawit, briket batu bara, alat transportasi, kertas, dan kelapa. Khusus dengan Iran, Indonesia banyak mengimpor dari Iran minyak mentah serta kacang-kacangan, sementara produk ekspor Indonesia ke Iran antara lain minyak kelapa sawit, benang, bahan baku tekstil, ban, suku cadang mobil, karet, bubuk coklat, kopi, karton dan kayu.