Yayasan KEHATIl; Sosialisasi 'Back To Besek'

Yayasan KEHATIl; Sosialisasi 'Back To Besek'

Jakarta, Kabarindo- Dari rilis yang diterima redaksi.

Ancaman partikel mikroplastik di Jakarta dari waktu ke waktu kian mengkhawatirkan. Partikel tersebut terutama dihasilkan dari limbah plastik dan styrofoam hasil aktivitas kehidupan manusia yang mencemari lingkungan kota megapolitan yang jumlahnya dari waktu ke waktu semakin meningkat.

Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), M.S. Sembiring, mengatakan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016, produksi sampah provinsi DKI Jakarta mencapai 7.099,08 meter kubik atau meningkat dari 7.046,39 meter kubik pada tahun sebelumnya.  Namun, hanya 84,7 persen dari jumlah sampah tersebut yang bisa terangkut. Sisanya terbuang di alam, termasuk mengalir ke laut. Parahnya, sampah yang tak terangkut ke tempat pembuangan dan sebagian mengalir ke laut tersebut didominasi oleh styrofoam dan jenis plastik lainnya.

Selain mengancam kesehatan manusia, partikel mikroplastik, terutama dari plastik-plastik kemasan, juga sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup flora dan fauna.

 “Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta harus memiliki strategi khusus dalam menangani permasalahan ini  untuk menyelamatkan Jakarta dari ancaman mikroplastik ini,” ujar Sembiring.

Terkait problematika limbah plastik dan styrofoam di atas, Yayasan KEHATI  memperkenalkan gerakan “back to besek” kepada Pemprov DKI Jakarta. Manajer Program Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Yayasan KEHATI Basuki Rahmad, menjelaskan, penggunaan besek sebagai bungkus makanan memberikan banyak keuntungan kepada masyarakat, baik yang tinggal di hulu maupun hilir daerah aliran sungai (DAS) Jakarta. Secara ekologis, masyarakat yang tinggal di hulu akan diminta menanam bambu untuk memenuhi bahan baku pembuatan besek, yang secara otomatis akan memberikan solusi banjir di Jakarta. Secara ekonomi, usaha kecil menengah masyarakat akan meningkat melalui usaha pembuatan besek.

 “Penggunaan besek bambu ini merupakan salah satu upaya konkret dan nyata untuk mengurangi ancaman mikroplastik sebagai dampak penggunaan plastik dan Styrofoam. Sebagai langkah awal, Pemprov DKI bisa mengeluarkan kebijakan dengan cara menggunakan besek pada acara-acara internal, seperti rapat, jamuan, maupun pemberian souvenir,” jelas Basuki.

Ke depan, KEHATI berharap Pemprov DKI bisa mendorong perusahaan waralaba untuk menggunakan besek melalui skema kerja sama dengan UKM pemasok besek, sehingga sinergi antara pengusaha kecil menengah dan pengusaha besar bisa terjalin.

KEHATI juga berharap Pemprov DKI bisa memanfaatkan momentum dunia internasional yang sedang gencar memerangi sampah plastik. Hal ini terlihat dengan kesamaan tema yang diusung dua hari besar internasional, yaitu Hari Bumi (22 April), dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (5 Juni) yaitu polusi plastik.

Tentang KEHATI

Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) sejak 12 Januari 1994 berdiri untuk menghimpun dan mengelola sumberdaya yang selanjutnya disalurkan dalam bentuk dana hibah, fasilitasi, konsultasi dan berbagai fasilitas lain guna menunjang berbagai program pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia dan pemanfaatannya secara adil dan berkelanjutan.

Keberadaan KEHATI erat kaitannya dengan komitmen Indonesia dalam melaksanakan Konvensi Keanekaragaman Hayati, yang dihasilkan dari KTT Bumi di Rio de Janeiro pada tahun 1992 dan Deklarasi Tokyo tahun 1993. Sesuai dengan kesepakatan dalam Deklarasi Tokyo, Pemerintah Amerika Serikat memberikan dukungan untuk konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia, yang selanjutnya menjadi cikal bakal keberadaan organisasi KEHATI. Dukungan tersebut diwujudkan dalam bentuk dana cadangan abadi (endowment fund), yang selanjutnya diputar di pasar modal dalam bentuk saham dan obligasi.

Hasil dari perputaran dana ini diperoleh imbalan yang dipakai untuk membiayai program bantuan hibah yang dilaksanakan oleh mitra KEHATI. Bantuan KEHATI dapat berbentuk dana hibah, tenaga ahli, konsultasi dan berbagai bentuk fasilitasi bagi kegiatan LSM, KSM, lembaga penelitian, pendidikan dan pelatihan serta berbagai organisasi dan komponen masyarakat madani yang memiliki program dan kegiatan sejalan dengan program KEHATI, pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara adil dan berkelanjutan.

Ada empat misi yang disandang KEHATI, antara lain: peningkatan kesadartahuan dan pemahaman untuk mendorong pengubahan perilaku masyarakat; penggalangan, pengelolaan dan penyaluran sumber daya; pemberdayaan lembaga masyarakat; dan pemberian dukungan kepada pertumbuhan gerakan ekonomi berbasis sumber daya alam terbarukan.  KEHATI melaksanakan program-programnya melalui pendekatan ekosistem, yang mencakup ekosistem hutan, pertanian, serta ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil.

Berbagai bentuk kerjasama dijalin dengan lembaga-lembaga yang dapat mendukung misi KEHATI, seperti pemerintah pusat dan daerah, komunitas bisnis, perguruan tinggi, LSM/KSM, asosiasi profesi, maupun media massa.