The Color of Life; Tampilkan Karya Agus Koecink & I Made Somadita

The Color of Life; Tampilkan Karya Agus Koecink & I Made Somadita

The Color of Life; Tampilkan Karya Agus Koecink & I Made Somadita

Latar belakang budaya menjadi inspirasi penciptaan karya

Surabaya, Kabarindo- Latar belakang budaya kedua seniman, Agus Koecink dan I Made Somadita, menjadi inspirasi dalam proses penciptaan karya mereka.

Bagi mereka, perbedaan melahirkan beragam warna kehidupan yang dapat bersanding dengan harmonis seperti tersirat pada 30 karya lukis dalam pameran bertajuk “The Color of Life” yang digelar di Galeri House of Sampoerna (HoS) selama 6-28 April 2018.

Pesona Bali tak pernah luntur sebagai salah satu pulau cantik di Indonesia yang kaya warna seni dan budaya. Menurut Agus Koecink, Bali merupakan masa lalu yang hilang dari Jawa. Seniman sekaligus kurator yang lahir di Tulungagung pada tahun 1967 ini mengungkapkan ketika menginjakkan kaki di Bali, ia merasa menemukan kembali masa lalu itu.

Suasana lingkungan, seni, budaya dan masyarakatnya memberikan gambaran atau imajinasi kehidupan di Jawa pada masa kerajaan Majapahit. Hubungan antara satu dengan yang lain tampak pada karya Agus berjudul “Unity” yang menggambarkan hubungan antara manusia, alam dan hewan. Sementara karyanya berjudul “Sehabis Sembayang 2” menggambarkan hubungan Manusia dengan Tuhan.

Bagi I Made Somadita, yang lahir dan dibesarkan di Tabanan, Bali, pada 1982, Bali merupakan tempat percampuran budaya yang saling silang. Menurut pria yang pernah mengikuti pameran bersama di Malaysia, Thailand, Filipina dan Jerman ini, satu budaya membutuhkan budaya lainnya agar tumbuh dan berkembang bersama nilai-nilai yang ada pada budaya asalnya. Segala sesuatu saling bergantung dan terkoneksi. Berangkat dari pemahaman inilah, ia menuangkan ide kreativitasnya ke dalam karya lukisnya berjudul “Interconnection”, “Interdependent” dan “The Color of Life”.

“Latar belakang budaya kami yang berbeda memberikan gagasan tentang kekuatan elemen seni rupa baik warna, garis, bentuk sebagai pesan untuk membangun citraan artistik. Seperti dalam pameran ini, kami menawarkan proses penciptaan intuitif baik melalui garis, warna, komposisi dan bentuk yang terinspirasi dari suasana hiruk pikuk dinamika masyarakat Bali. Warna-warna dalam lukisan kami merupakan refleksi atas proses yang dilalui dalam kehidupan sehari-hari ketika berbaur mencari inspirasi. Apakah warna yang tervisualisasi merupakan simbol yang bermakna atau warna hanya sekedar mewakili emosi yang lahir dari dalam jiwa,” ujar Agus.

Penulis: Natalia Trijaji