Tale of The Land Karya LoeLoe Hendra: Ikut Hong Kong Asia Film Financing Forum 2018

Tale of The Land Karya LoeLoe Hendra: Ikut Hong Kong Asia Film Financing Forum 2018

HKEC,  Wanchai, Hong Kong,  KABARINDO-Portal- Redaksi pun melongok ke forum Hong Kong-Asia Film Financing Forum yang ke-16.

"Kami memulai development film ini sejak tahun 2016. Di tahun 2017 project ini terseleksi di Torino Film Lab. Ini yang membuat kami terpacu untuk memperkuat pondasi film ini secara internasional melalui film market. HAF menjadi project market kedua kami sejauh ini.Kami bangga bisa masuk seleksi di HAF 2018, apalagi bisa datang bersama 2 project Indonesia lain yaitu dari film dari Eddie Cahyono yang diproduseri Ifa Isfansyah dan film dari Edwin yang diproduseri Meiske Taurisia. Mereka adalah senior kami, salah satu alasan kami berkarya juga karena terinpirasi dari sepak terjang mereka selama ini, " papar Siska Raharja sebagai produser dari Elora Production. 

"A girl is suffering from a peculiar syndrome. She faints every time she steps on the land."

Menarik yah? Redaksi beralih ke sineasnya untuk bercerita tentang filmnya. 

"Di sebuah rumah apung di hamparan sungai pedalaman KALIMANTAN, INDONESIA. Seorang gadis Dayak bernama May (15th) hidup bersama kakeknya, Tuha (65th). Konflik tanah adat sepuluh tahun yang lalu meninggalkan jejak duka baginya. Ia dipaksa melihat orang tuanya di kubur hidup-hidup di daratan. Sejak saat itu May dan kakeknya mengasingkan diri dan tinggal bersama di sebuah rumah apung. Kini, bersama rumah apung itu mereka menyusuri sungai menuju ke tempat perairan yang baru. Mereka ingin memulai hidup tanpa bayang-bayang masa lalu.
Perairan danau menjadi tempat pilihan mereka menambatkan rumah apung. Di tempat itu, May menjadi pembicaraan anak-anak penggembala kerbau air. Mereka percaya May mengalami kutukan," jelas Loeloe Hendra asal kota gudeg Jogja. 

Lanjut ia jelaskan bahwa konon setiap kali May menginjakkan kakinya di atas tanah, ia jatuh pingsan. May seperti anak bisu karena sangat pendiam. Tidak ada anak yang ingin menjadi temannya, kecuali, Lawa (16) salah satu anak penggembala kerbau.
Harapan mereka untuk hidup damai semakin sulit mereka dapatkan. Kepindahan di tempat yang baru justru membawa bencana bagi mereka. May kembali ingin menginjakkan kakinya ke tanah hingga terjatuh pingsan. Sedangkan Tuha terjerat masalah dengan perusahaan tambang.
Hingga akhirnya, May melihat kakeknya mati misterius terkapar di daratan. Tempat dimana May tidak mampu menjangkaunya. Ia kini tinggal di rumah apung ditemani Lawa dan memenuhi keinginan terakhir kakeknya untuk menenggalamkan jasadnya ditenggelamkan di perairan.

Indonesia patut bangga dengan kepiawaian anak bangsa dalam menyapa dunia dengan sentuhan kearifan lokal. 

Salah satu yang sudah dapat Anda nikmati dari HAF 2012 adalah karya Kamila Andini berjudul The Seen and Unseen kolaborasi Indonesia,  Netherlands,  Australia dan Qatar yg sudah tayang di bioskop tanah air,  tentu saja sebelumnya sudah meraih banyak prestasi termasuk Hong Kong International Film Festival 2018.

Penulis: AruL Muchsen - Senior Editor