Surabaya Heritage Track; Ajak Masyarakat Rekreasi Kota Kolonial

Surabaya Heritage Track; Ajak Masyarakat Rekreasi Kota Kolonial

Surabaya Heritage Track; Ajak Masyarakat Rekreasi Kota Kolonial

Kunjungi Tunjungan Straat, Simpangsche Societeit Renato, Zangrandi's Ijspaleis

Surabaya, Kabarindo- Pada masa Kolonial Surabaya merupakan kota yang semarak dengan ragam sarana hiburan bagi warganya. Terutama setelah kawasan kota bawah di sekitaran Ketabang, Darmo dan Gubeng dikembangkan menjadi areal hunian bagi orang-orang Eropa.

Surabaya menjadi meriah dengan aneka restoran, bioskop, hotel, pusat perbelanjaan dan klub dansa bagi mereka yang ingin bersosialisasi atau sekedar melepas penat di ujung hari.

Tunjungan straat (kini adalah Jl. Tunjungan) dikenal sebagai pusat komersial kota. Diwarnai deretan pertokoan seperti Whiteaway Laidlaw, Hoen Kwee Huis dan lainnya, kawasan ini makin menarik antusiasme warga dengan adanya trem yang melintas.

Urusan bersantap sedap pun tidak kalah semarak. Renato Zangrandi’s Ijsplais (kini Es Krim Zangrandi), Grimm and Co maupun Hellendoorn memenuhi selera para elit Eropa dengan roti, pastry dan rijsttafel yang populer kala itu. Klub elit untuk berdansa dan menonton pertunjukan, De Simpangsche Societeit (kini Balai Pemuda), tak pernah lengang. Klub yang berada di sudut Jl. Simpang ini menjadi andalan para elit Eropa unutk berkumpul.

Tempat-tempat tersebut bisa dikunjungi masyarakat dalam program tematik tur Surabaya Heritage Track (SHT) ‘Rekreasi Kota Kolonial’ yang diadakan mulai 7 Juni – 30 Juni 2019, Jumat Minggu pukul 15.00 – 16.30. Masyarakat diajak untuk napak tilas di kawasan Jl. Tunjungan, Balai Pemuda di Jl. Gubernur Suryo dan Graha Es Krim Zangrandi di Jalan Yos Sudarso.

Tunjungan Straat

Jl. Tunjungan yang dulu disebut Petoendjoengan menjadi primadona bagi para tuan dan nyonya yang ingin bersantai sekaligus berbelanja. Pada 1923, kawasan Tunjungan menjadi salah satu pusat komersial di Surabaya. Sebuah perusahaan perdagangan besar dari Inggris, Whiteaway Laidlaw & Co, memutuskan untuk membangun toko di ujung utara Jl. Tunjungan yang kemudian menjadikan Tunjungan semakin terkenal sebagai pusat perbelanjaan. Di sini dulu juga terdapat toko serba ada bernama Aurora yang berganti menjadi gedung bioskop, toko Mattalitti yang menjual piringan hitam gramophone dan Hotel Oranye yang merupakan hotel terkenal dan sekarang menjadi Hotel Majapahit.

Simpangsche Societeit

Gedung Balai Pemuda didirikan pada 1907. Dulunya merupakan gedung pertemuan bagi orang-orang Belanda yang dinamakan Simpangsche Societeit. Tempat ini menjadi salah satu tempat hiburan dan berkumpulnya orang-orang Eropa di Surabaya. Pada masa kolonial hanya orang-orang kulit putih yang memiliki akses masuk ke gedung ini.

Renato Zangrandi's Ijspaleis

Dibangun oleh Renato Zangrandi pada 1930 guna memenuhi kebutuhan warga Eropa di Surabaya pada waktu itu. Depot es krim ini dulu bernama Renato Zangrandi's Ijspaleis dan berlokasi tepat di seberang Simpangsche Societeit yang sekarang bernama kompleks Balai Pemuda. Sebagian dari menu-menu yang ditawarkan juga telah ada sejak 1930. Misalnya es krim potong Tutti Frutti, yang merupakan menu original paling tua di Zangrandi yang memiliki bermacam varian rasa es krim yang dicampur dengan potongan buah kering.

Penulis: Natalia Trijaji