Surabaya Heritage Track; Ajak Masyarakat Ikuti Tur Tematik Kampung Londo

Surabaya Heritage Track; Ajak Masyarakat Ikuti Tur Tematik Kampung Londo

Surabaya Heritage Track; Ajak Masyarakat Ikuti Tur Tematik Kampung Londo

Eksplorasi kawasan Eropa dulu di Surabaya

Surabaya, Kabarindo- Surabaya Heritage Track (SHT) mengajak masyarakat untuk mengikuti tur tematik Kampung Londo yang diadakan selama 20 Desember 2019-19 Januari 2020 pada Jumat - Minggu pukul 15.00-16.30.

Masyarakat diajak untuk merasakan kembali bagaimana bangsa Eropa menduduki dan memodifikasi Surabaya dengan melihat serta mengunjungi tempat bersejarah terkait seperti kawasan Jalan Rajawali, Jembatan Merah dan Jalan Tunjungan.

Berawal dari sejarah ketika kerajaan Mataram menginvasi Surabaya pada kurun 1620-1625 serta perjanjian yang dilakukan antara Pakubuwono II dengan VOC pada 1743 yang berdampak dilepasnya Surabaya menjadi wilayah yang dikuasai VOC.

Masuknya Belanda sebagai penguasa Surabaya dan ditempatkannya Gezaghebber van den Oosthoek, Gubernur Letnan Ujung Timur, mengubah banyak hal demi memenuhi kepentingan politik dan perdagangan. Utamanya memindahkan letak pusat pemerintahan mendekati muara Kalimas di utara.

Infrastruktur dan fasilitas lain dibangun untuk mendukung pemerintahan seperti benteng, pos jaga, gudang amunisi dan mesiu, pekantoran, pergudangan serta gereja. Pada 1866 diberlakukan peraturan segregasi etnis (wijkenstelsel) yang mewajibkan etnis Cina, Arab dan Melayu untuk menetap di timur Kalimas. Pemerintah Hindia Belanda menciptakan kampungnya sendiri.

Fungsi Surabaya sebagai collecting center pada masa pemberlakuan cultuurstelsel berakibat langsung pada struktur kota ini secara keseluruhan. Pada periode inilah muncul sebutan beneden stad (kota bawah) yang merujuk pada sisi utara di sekitar Jembatan Merah sebagai sentra bisnis serta boven stad (kota atas) di sisi selatan sebagai kawasan hunian orang-orang Eropa di sekitar Gubeng, Ambengan, Keputran, Darmo dan Ketabang.

Perluasan wilayah kota diawali dengan dibongkarnya tembok kota pada 1871 dan semakin masif seiring ditetapkannya Surabaya sebagai gemeente (kotamadya) pada 1906 serta dibangunnya stadhuis (kantor pemerintahan) baru di Ketabang. Pada masa ini, kawasan selatan kota berkembang pesat menjadi pusat pemerintahan, hiburan dan permukiman elit bagi orang-orang Eropa.

Tur tematik SHT diselenggarakan pada periode-periode tertentu guna memperkenalkan sejarah kota Surabaya serta berbagai bangunan dan kawasan yang memiliki nilai sejarah tinggi. Sejak 2010, SHT telah menyelanggarakan 47 tur tematik dan mengunjungi lebih dari 70 bangunan cagar budaya berupa museum, institusi pemerintahan dan swasta, tempat peribadatan, monumen, kampung, pasar, perpustakaan, pabrik dan sebagainya.

Hal ini juga menginisiasi Heritage Walk dengan nama Klinong-klinong ning Suroboyo yang menjadi pengembangan SHT dengan mengajak trackers untuk secara langsung berinteraksi dengan masyarakat sekitar.

Jalan Rajawali

Pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, jalan ini bernama Heerenstraat (Jalan Para Tuan). Ini merupakan salah satu jalan utama pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan termasuk jalan yang padat sekarang ini. Pada 1905, pusat Surabaya terletak di jalan ini, sehingga menjadi pusat segala kegiatan ekonomi maupun pemerintahan. Karena itu, di Jalan Rajawali banyak berdiri bangunan tua yang berfungsi sebagai perkantoran seperti Gedung Internatio yang digunakan oleh Asosiasi Perdagangan dan Kredit Internasional ‘Rotterdam’ serta Gedung Cerutu yang ditempati oleh Algemeen Syndicaat van Suikerfabrikanten in Nederlandsch-Indië.

Jembatan Merah

Kawasan Jembatan Merah merupakan daerah perniagaan yang mulai berkembang akibat Perjanjian Paku Buwono II dari Mataram dengan VOC pada 11 November 1743. Dalam perjanjian itu, sebagian daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan penguasaannya kepada VOC. Jembatan Merah juga sebagai pemisah antara daerah tempat tinggal etnis Belanda dengan etnis pendatang seperti etnis China, Arab dan Melayu.

Jalan Tunjungan

Pada 1923, kawasan Tunjungan telah menjadi salah satu pusat komersial di Surabaya. Perusahaan perdagangan besar dari Inggris, Whiteaway Laidlaw & Co, memutuskan untuk membangun toko di ujung utara Jalan Tunjungan. Toko inilah yang kemudian membuat Tunjungan semakin terkenal sebagai pusat perbelanjaan. Juga terdapat toko serba ada bernama Aurora yang berganti menjadi gedung bioskop, Toko Mattalitti yang menjual piringan hitam gramophone dan terdapat Hotel Oranye, hotel terkenal yang sekarang menjadi Hotel Majapahit.

Penulis: Natalia Trijaji