Surabaya Heritage Track; Ajak Masyarakat Ikuti Tur Barisan Kemerdekaan

Surabaya Heritage Track; Ajak Masyarakat Ikuti Tur Barisan Kemerdekaan

Surabaya Heritage Track; Ajak Masyarakat Ikuti Tur Barisan Kemerdekaan

Kunjungi gedung Polrestabes Surabaya, Penjara Koblen dan Polsek Bubutan

Surabaya, Kabarindo- Surabaya Heritage Track (SHT) mengajak masyarakat untuk mengikuti tur tematik ‘Barisan Kemerdekaan’ yang diadakan selama 19 November – 12 Desember 2019 pada Selasa sampai Kamis.

Trackers atau peserta tur akan diajak menelusuri rangkaian aksi heroik Polisi Istimewa Surabaya dengan mengunjungi tempat bersejarah terkait, yaitu gedung Polrestabes Surabaya, Penjara Koblen dan Polsek Bubutan.

Polisi Istimewa sebagai satuan elit keamanan bentukan Jepang dengan nama Tokubetsu Keisatsutai, berdiri untuk mempertahankan berkibarnya sang Merah Putih di Coen Boulevard, sekarang Jl. dr. Soetomo, setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Pada 21 Agustus 1945, mereka juga memproklamirkan diri sebagai Polisi Republik Indonesia.

Dengan persenjataan memadai serta kemampuan tempur yang terlatih, Polisi Istimewa di bawah komando Mohammad Jasin menjadi ujung tombak dalam pertempuran 3 hari (28-30 Oktober 1945) di Surabaya. Pada titik-titik konfrontasi seperti gudang senjata Don Bosco dulu berlokasi di Jl. Tidar, markas Kempetai yang sekarang menjadi kompleks Tugu Pahlawan serta markas Kaigun dulu di kawasan Embong Wungu dan Gubeng, Polisi Istimewa selalu mengawal perjuangan Indonesia dengan berada di garis depan. Memuncaknya pertempuran di Surabaya dengan terbunuhnya Jendral AWS Mallaby, membuat Polisi Istimewa meningkatkan kesiagaan untuk menghadapi segala kemungkinan.

Pertempuran 10 November 1945, menjadi pembuktian cita-cita Indonesia menjadi bangsa merdeka. Peran Polisi Istimewa pada periode ini dalam mempertahankan kota dari gempuran Sekutu sangat signifikan. Perlawanan sengit di beberapa sektor pertempuran membuat Sekutu kewalahan. Meskipun pada 28 November 1945, Sekutu dapat menduduki Surabaya, perjuangan Polisi Istimewa tetap dikenang sebagai barisan terdepan yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Gedung Polrestabes Surabaya

Berlokasi di Surabaya utara, gedung Polrestabes Surabaya pada masa pemerintah kolonial Belanda menjadi markas kepolisian (Hoofdbureau van Politie) dan berubah menjadi markas Polisi Istimewa Kota Surabaya pimpinan Soetjipto Danoekusumo paska proklamasi kemerdekaan.

Gedung bersejarah ini menjadi saksi ketika pesawat udara Sekutu menghujani Surabaya dengan bom dalam pertempuran 10 November 1945. Salah satu anggota Polisi Istimewa yang menjadi korban adalah Agen Polisi II Eman.

Sekarang kompleks ini menjadi kantor Polrestabes Surabaya dan pelayanan masyarakat. Di sini terdapat bunker bawah tanah yang dulunya bekas penjara, ruangan Mohammad Jasin dan Museum Perjuangan POLRI dimana pengunjung dapat menilik koleksi otentik terkait kiprah kepolisian di Surabaya.

Penjara Koblen

Ketika masa revolusi Surabaya, Penjara Koblen menampung tentara Jepang yang ditawan ketika pelucutan senjata. Tentara Sekutu kemudian mempersenjatai mereka untuk melawan arek-arek Surabaya. Untuk mencegah hal itu terjadi, pada 29 Oktober 1945, Polisi Istimewa menerobos masuk. Terjadilah pertempuran antara para tawanan Jepang dan tentara Sekutu melawan Polisi Istimewa.

Penjara Koblen juga memiliki keterkaitan sejarah dengan Liem Seng Tee, pendiri Sampoerna. Ia dipenjarakan Jepang di Koblen atas tuduhan menyokong pertempuran melawan Jepang di Cina. Liem Seeng Tee dibebaskan pada 27 Agustus 1945.

Polsek Bubutan

Bangunan polsek Bubutan merupakan pos polisi sectie 3 Surabaya yang dibangun pemerintah kolonial untuk mengawasi gerakan orang-orang di kawasan ini. Dulu polsek ini uga menjadi tempat berkantornya Mohammad Jasin. Namun pada masa revolusi Surabaya, Mohammad Jasin mendengar kabar bahwa pos polisi Bubutan di bawah kendali tentara Sekutu. Mohammad Jasin menyuruh anggotanya Luwito dan Gontah untuk mempimpin satu pasukan Polisi Istimewa yang dilengkapi dengan mobil lapis baja untuk menyerang. Penyerbuan ini membuat Sekutu yang menduduki pos polisi Bubutan terpukul mundur dan menyerah.

Penulis: Natalia Trijaji