Sharp Bangun Sistem Panel Surya; Di Pusat Reintroduksi Orangutan Samboja Lestari

Sharp Bangun Sistem Panel Surya; Di Pusat Reintroduksi Orangutan Samboja Lestari

Sharp Bangun Sistem Panel Surya; Di Pusat Reintroduksi Orangutan Samboja Lestari

 

Solar panel menyerap cahaya matahari, mengkonversikan energinya menjadi energi listrik yang digunakan untuk menunjang kegiatan di baby house

 

Surabaya, Kabarindo- Habitat yang makin menyusut karena kawasan hutan hujan yang berubah fungsi sebagai lahan perkebunan dan pertambangan serta penebangan liar merupakan beberapa penyebab menyusutnya jumlah orangutan di Kalimantan Timur.

 

Akibat deforestasi ini, orangutan terpaksa menjelajah ke luar habitat dan berusaha bertahan hidup seperti dengan masuk ke ladang perkebunan, sehingga dianggap sebagai ancaman oleh manusia dan harus dibunuh. Perburuan dan perdagangan orangutan pun menjadi penyabab lain semakin berkurangnya jumlah orangutan.

 

Pada 2016, orangutan masuk ke dalam klasifikasi hewan yang sangat terancam punah (Critically Endangered) dalam The International Union for Conservation of Nature ( IUCN ). Walaupun sudah dilindungi oleh hukum international dan masuk dalam Appendix I daftar Convention on International Trade In Endangered Species (CITES) yang melarang perdagangan orangutan, namun faktanya masih banyak bayi orangutan yang diperjualbelikan.

 

Bersama dengan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation, PT SHARP Electronics Indonesia menyebarkan informasi kepada masyarakat luas melalui komunitas SHARP Greenerator dengan cara memberikan informasi seputar orangutan dan habitatnya. SHARP juga secara berkelanjutan mengadopsi 3 orangutan bernama Kopral, Shelton dan Sura, ketiganya memiliki cacat fisik akibat ulah manusia.

 

Pada tahun ini, sebagai kontribusinya kepada pelestarian orangutan, melalui Program Solar Panel Project, SHARP mengunjungi Samboja Lestari, salah satu pusat rehabilitasi dan reintroduksi orangutan milik BOS Foundation. Di lokasi ini, SHARP memasang 6 unit solar panel yang mampu menghasilkan 1400 watt energi listrik. Melalui prinsip photovoltaic, keenam solar panel yang terbuat dari bahan semiconductor ini akan menyerap cahaya matahari kemudian mengkonversikan energi dari cahaya matahari tersebut menjadi energi listrik yang dapat langsung digunakan untuk menunjang kegiatan di baby house.

 

Orangutan memiliki DNA 97% mirip dengan manusia yang menyebabkan mereka bisa tertular penyakit dari manusia. Bayi orangutan membutuhkan perawatan ekstra untuk perlindungan ini. Di setiap pusat rehabilitasi dan reintroduksi, BOS Foundation mendirikan baby house, sebagai tempat tinggal sementara dan wadah pendidikan dasar bagi bayi orangutan. Lokasi yang berada dalam hutan menimbulkan kendala kurangnya asupan listrik untuk menunjang kegiatan di baby house.

 

“Ini adalah proyek kedua yang dilakukan oleh SHARP untuk menunjang pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia. Melalui Solar Panel Project, SHARP membantu menyediakan tenaga listrik dengan memanfaatkan energi terbarukan yaitu sinar matahari. Semoga SHARP dapat membantu agar orangutan tetap menjadi harta keanekaragaman hayati kebanggaan bangsa Indonesia,” ujar Pandu Setio, PR, CSR & Promotion Manager PT SHARP Electronics Indonesia.

 

Di Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari, orangutan dewasa dan balita hasil temuan dan sitaan dari bermacam lokasi seperti sirkus hingga perumahan, dilatih untuk kembali ke alam liar. Mereka diajarkan keterampilan memanjat pohon, membangun sarang, mencari pakan alami serta mengenali hewan predator hingga pada akhirnya siap untuk dilepaskan kembali ke hutan.

 

Sistem panel surya yang didirikan di sini sangat bermanfaat untuk menunjang aktivitas kami mengurus bayi orangutan hingga dewasa dan siap untuk dilepaskan,” ujar drh. Agus Irwanto, Program Manager Pusat Reintroduksi Orangutan Samboja Lestari.

 

Banyak orang yang belum menyadari jika manusia membutuhkan orangutan untuk menunjang kehidupan. Hutan sebagai pengatur iklim bumi sangat bergantung pada setiap satwa di dalamnya termasuk orangutan.

 

Orangutan adalah penyebar biji yang efektif dan membuka tajuk hutan. Setiap hari, orangutan mampu menjelajah sejauh 20 km. Selain menyebarkan biji dari buah-buahan yang mereka makan, orangutan juga membuka tajuk hutan dengan membuat sarang di atas pohon. Hal ini membuat sinar matahari masuk menembus kanopi hutan dan membantu tanaman untuk tumbuh besar, menghasilkan oksigen dan menyerap karbon dioksida. Hutan yang sehat memberi kita udara segar, air bersih dan mengikat tanah yang menghindarkan manusia dari bencana alam,” jelas drh. Agus.

Penulis: Natalia Trijaji