Pasar Properti Masih Positif; Unit 88AVENUE Diminati Pembeli

Pasar Properti Masih Positif; Unit 88AVENUE Diminati Pembeli

Pasar Properti Masih Positif; Unit 88AVENUE Diminati Pembeli

Menguatnya nilai dollar tak surutkan minat pembeli

Surabaya, Kabarindo- Meski saat ini nilai dollar AS menguat terhadap Rupiah, minat pembeli properti tidak surut. Ini dibuktikan dengan penjualan unit di tower The Residence dan The SOHO yang baru dilakukan topping off. Pembangunan kedua tower ini dianggarkan Rp.1,2 triliun.

“Masuk triwulan keempat, penjualan properti di Surabaya relatif masih positif. Surabaya tetap menjadi kota yang menarik untuk lokasi pembangunan properti baik apartemen maupun SOHO,” ujar Direktur PT Darmo Permai, Kevin Sanjoto, saat Topping Off Ceremony Megaproyek 88AVENUE di Raya Darmo Permai III Kavling 88, Surabaya.

Kevin menyebutkan, Tower The Residence yang berlantai 38 sudah terserap pasar sebesar 80% dan The SOHO dengan 17 lantai sudah terserap 60%. Sebanyak 60% pembeli unit megaproyek 88AVENUE berasal dari Surabaya, 20% dari Jakarta dan sisanya dari Indonesia Timur terutama dari Makassar dan Tarakan.

Menurut Kevin, di tengah penguatan nilai dollar, justru merupakan kesempatan terbaik bagi kastemer untuk memiliki unit di 88AVENUE. Pasalnya, harga yang ditawarkan relatif terjangkau jika dibandingkan dengan unit properti lainnya di Surabaya.

”Sejak megaproyek 88AVENUE diluncurkan pada 2016, pertumbuhan harga unit di kisaran 10% per tahun. Saat nilai dollar menguat, hanya sedikit dampak yang kami rasakan, karena sudah dilakukan topping off kedua tower. Biasanya, kalau terjadi kenaikan nilai dollar terhadap Rupiah akan berpengaruh pada biaya kontruksi. Kami sudah melampaui tahapan itu, karena pembangunan unit tinggal finishing saja,” terangnya.

Tipe Studio di The Residence tersisa sekitar 100 unit dengan tipe luasan lebih besar. Sementara The SOHO juga menyisakan 100 unit saja. Untuk unit The Residence ditawarkan dengan harga mulai Rp.900 jutaan. Sedangkan unit The SOHO di kisaran Rp.2,7 miliar.

Kevin menjelaskan, The Residence dibangun untuk memenuhi hunian idaman yang memperhatikan kenyamanan hidup modern dan layout ruang yang stylish. Smart living concept diterapkan pada setiap unit menggunakan digital hi-tech yang terintegrasi dengan smartphone. Sementara The SOHO didesain untuk menjawab kebutuhan tren gaya hidup modern di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Peranan SOHO mampu menggeser popularitas ruko yang mulai ditinggalkan.

“The SOHO bisa jadi tempat usaha, bekerja atau hunian yang eksklusif. Bagi start-up company, ini merupakan pilihan terbaik untuk tempat bekerja dengan fasilitas yang lengkap. Mengangkat konsep industrialist luxury dengan ketinggian atap 5,8m floor to floor, wide balcony dengan pemandangan kota Surabaya dan jembatan Suramadu, panoramic window, layout yang fleksible dan mezzanine yang multi fungsi,” paparnya.

Masih kuatnya daya beli masyarakat terhadap properti juga disampaikan Business Development Director PT Waskita Karya Reality, Luki Theta H. Ia mengatakan, konsumen yang membeli properti dari kelompok menengah ke bawah untuk ditinggali terus meningkat. Namun jika untuk tujuan investasi, banyak yang menahan diri.

“Artinya, membeli untuk dijual kembali agar dapat keuntungan itu berhenti. Mereka yang membeli untuk investasi kemudian melepasnya saja sulit,” ujarnya.

Menurut Luki, banyak pengembang yang mempertimbangkan kondisi saat ini. Mereka memilih untuk mengumpulkan kastamer dulu. Jika prosentase terjual dirasa cukup, baru mulai membangun.

Penulis: Natalia Trijaji