Parade 101 Kebaya Millenial; Usung Karya 13 Desainer

Parade 101 Kebaya Millenial; Usung Karya 13 Desainer

Parade 101 Kebaya Millenial; Usung Karya 13 Desainer

Tampilkan karya mulai desainer yunior hingga senior dalam berbagai gaya

Surabaya, Kabarindo- Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April tak pernah membuat mereka yang menggeluti dunia fashion kehabisan ide untuk menujukkan antusiasme.

Hal ini tampak di acara Parade 101 Kebaya Millenial yang digelar di atrium Grand City Mall Surabaya. Embran Nawawi, penggagas acara tersebut, mengatakan event ini merupakan hasil kolaborasi antara para desainer dan make-up artist (MUA) sebagai wujud kecintaan kepada warisan Ibu Kartini yang sudah memperjuangkan hak-hak kaum perempuan di Indonesia dan menginspirasi mereka pada masa kini.

Acara tersebut melibatkan 13 desainer dan brand dari Surabaya yaitu Ade Leo, Aryani Widagdo, Ayok Dwipancara, Biqi Wibawa, Buba by Jayanti Kartini, Elok Renapio, Entura, Imam Mustafa, Lilik Noer – Afiti, Maya Raisa, Rodeo Pradani, Sakamade Boutique dan Sisca Signature.

“Parade ini menampilkan karya mulai dari desainer pemula yang masih sekolah yaitu Biqi Wibawa hingga Aryani Widagdo yang sudah sangat senior,” ujar Embran.

Ia menjelaskan, para desainer tersebut menghadirkan rancangan kebaya dengan gaya dan ciri khas masing-masing dibantu oleh para MUA yang membuat para model tampak cantik, anggun dan elegan dalam balutan kebaya modern.

“Mereka berusaha memberikan yang terbaik dalam acara ini dengan menghadirkan 101 kebaya modern dan elegan mulai dari yang simple hingga mewah,” ujar Embran.

Ia menjelaskan, gelaran tersebut dinamai Parade 101 Kebaya Millenial, karena menghadirkan beragam kebaya yang bisa dikenakan para perempuan generasi millenial.

Salah satu desainer, Biqi Wibawa, masih menempuh pendidikan di Alvera Fashion & Creative Surabaya. Kebaya rancangannya tak kalah indah dengan karya para desainer senior lainnya. Ia mengusung tema Chinese New Year untuk kebaya rancangannya yang menunjukkan passionnya terhadap busana tradisional ini.

“Saya menghadirkan tiga kebaya, dua kebaya ready to wear berupa minidress warna gold dan jumpsuit kebaya warna hitam. Saya bikin yang ready to wear supaya bisa dikenakan anak muda millenial. Satu lainnya kebaya bernuansa Imlek yang dominan warna merah dan hijau dengan mengambil gaya cheongsam, busana perempuan khas Cina,” papar Biqi.

Ia menuturkan, dirinya merancang kebaya bernuansa Imlek karena ingin menampilkan sesuatu yang berbeda, menarik dan unik dengan memadukan unsur Jawa dan Cina. Kebayanya terbuat dari bahan semi Prancis, batik Cirebon dan lurik Jogja. Memiliki belahan tinggi di tengah seperti pada cheongsam dengan brokat chantyly pada bagian dada serta obi di pinggang dari beludru dipadu lurik. Tampilan kebaya dipercantik dengan layer dalam warna nude dari tile.

“Sanggulnya ala Cina yang tinggi dengan hiasan tusuk konde gaya Jawa dan sumpit Cina. Kipasnya warna merah bertulisan huruf Cina,” terang Biqi.

Penulis: Natalia Trijaji