Papua Barat Siap Gelar ICBE 2018; Oktober Mendatang

Papua Barat Siap Gelar ICBE 2018; Oktober Mendatang

Papua Barat Siap Gelar ICBE 2018; Oktober Mendatang

Kemukakan prioritas pembangunan dan pelestarian keanekaragaman hayati untuk mendukung pembangunan berkelanjutan

Surabaya, Kabarindo- Pemerintah Provinsi Papua Barat bersama mitra pembangunan di Tanah Papua akan melaksanakan Konferensi Internasional pada Oktober mendatang yang bertajuk International Conference on Biodiversity, Ecotourism and Creative Economy (ICBE) in Tanah Papua 2018.

Berangkat dari tindak lanjut rekomendasi dari hasil konferensi ICBE sebelumnya yang dilaksanakan di Jayapura pada 2016, maka penting untuk menyelenggarakan pertemuan ICBE 2018 yang mengemukakan prioritas pembangunan dan pelestarian keanekaragaman hayati untuk mendukung pembangunan berkelanjutan di Papua Barat khususnya dan Tanah Papua umumnya. Diharapkan keputusan pembangunan di Papua Barat, berkontribusi bagi kepentingan nasional Indonesia dan secara global untuk menjaga bumi.

Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, mengatakan ICBE 2018 adalah terobosan yang dapat menghubungkan semua capaian misi pembangunan Provinsi Papua Barat di dalam kerangka inisiatif Provinsi Konservasi dalam rangka pembangunan berkelanjutan.

“Suksesnya perhelatan ICBE akan menjadi tolak ukur sejauh mana Papua Barat mengikuti perkembangan dan mengalami kemajuan di dalam pembangunan, serta berkontribusi dalam pelestarian lingkungan hidup dan peningkatan kesejahteraan baik di Tanah Papua, Indonesia dan global,” ujarnya.

Ketua Tim Kerja ICBE 2018, Prof. Dr. Charlie D. Heatubun, S.Hut, M.Si, FLS, mengatakan ICBE 2018 memiliki arti strategis tidak hanya bagi Papua Barat, tapi juga Tanah Papua, Indonesia dan dunia. Penyelenggaraan ICBE akan menghasilkan warisan tak ternilai bagi generasi masa depan, dimana alam dan lingkungan akan terjaga kondisinya seperti saat ini. Hal ini tentunya dengan pencapaian dalam peninjauan kembali RTRW Provinsi Papua Barat yang mengakomodir ciri khas Provinsi Konservasi dan ruang kelola masyarakat adat, pencadangan yang lebih besar terhadap kawasan lindung, peluang insentif fiskal dan skema pendanaan berkelanjutan serta inisiatif kemitraan global dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.

Pelaksanaan ICBE 2018 di Tanah Papua memiliki manfaat untuk mendorong pemahaman pentingnya pembangunan berkelanjutan dan kegiatan pelestarian keanekaragaram hayati, pemanfaatan jasa lingkungan dan ekonomi kreatif berbasis keanekaragaman hayati dan budaya. Membangun komitmen bersama untuk memberikan tempat dan peran sentral masyarakat lokal dalam pelestarian alam, pemanfaatan sumber daya alam. Sarana untuk meningkatkan kerjasama/koordinasi berbagai pemangku kepentingan dalam provinsi, antar provinsi, nasional dan masyarakat global. Memperkuat dan memperbaiki rencana maupun pelaksanaan Provinsi Konservasi lewat kerja sama berbagai pemangku kepentingan. Tersedianya data dasar (data base) serta mendorong pembangunan museum sejarah alam Tanah Papua (Papua Natural Museum) di Manokwari.

ICBE 2018 merupakan konferensi internasional yang bertujuan menyelaraskan kegiatan pembangunan dan pelestarian keanekaragaman hayati, serta pemanfaatan sumber daya alam secara lestari dan berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat. ICBE 2018 juga merupakan usaha untuk memberikan peran dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Papua dalam kegiatan pelestarian dan pemanfaatan sumber daya alam di Tanah Papua.

Tanah Papua yang merupakan pulau terbesar di Indonesia, secara administratif terbagi ke dalam dua pemerintahan yaitu Provinsi Papua dengan luas 319.036 km2 dan Provinsi Papua Barat dengan luas wilayah 140.376 km2. Tanah yang dikenal juga sebagai pulau terbesar kedua di dunia ini diberkahi kekayaan alam dan keanekaragaman ekosistem yang luar biasa melimpah, diantaranya hutan, pantai, terumbu karang, danau dan sungai serta gletser tropis. Keanekaragaman hayati Tanah Papua adalah setengah dari total keanekaragaman hayati Indonesia, secara khusus flora dan fauna endemik yang hanya dijumpai di tanah ini. Tanah Papua juga kaya sumber daya alam berupa bahan tambang, beragam gas dan mineral serta budaya. Tercatat sekitar 265 bahasa lokal yang menunjukkan banyaknya suku dengan kearifan lokalnya.

Penulis: Natalia Trijaji