Olimpiade Bahasa Prancis 2020; Pilih 8 Video Terbaik Tingkat SMA & 14 Video Terbaik Tingkat Perguruan Tinggi

Olimpiade Bahasa Prancis 2020; Pilih 8 Video Terbaik Tingkat SMA & 14 Video Terbaik Tingkat Perguruan Tinggi

Olimpiade Bahasa Prancis 2020; Pilih 8 Video Terbaik Tingkat SMA & 14 Video Terbaik Tingkat Perguruan Tinggi

Penilaian berdasarkan relevansi dengan tema lomba, kualitas teknis dan artistik serta pilihan kata dan pesan yang disampaikan

Surabaya, Kabarindo- Institut Prancis di Indonesia (IFI) - Kedutaan Besar Prancis di Indonesia bekerja sama dengan Perhimpunan Pengajar Bahasa Prancis Seluruh Indonesia (APFI) dan Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Bahasa Prancis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia telah menggelar Final Olimpiade Bahasa Prancis Tingkat SMA/SMK/MA dan Perguruan Tinggi se-Indonesia secara daring.

Pada babak penyisihan tingkat provinsi, panitia menerima total 660 video kreatif yang terdiri dari 559 video pelajar setingkat SMA bertema “Kata yang Saya Suka dalam Bahasa Prancis” dan 101 video mahasiswa dengan tema “Ciri Khas Daerah Saya”. Dewan juri terdiri dari perwakilan IFI-Kedubes Prancis, perwakilan APFI dan perwakilan P4TK Bahasa Prancis Kemdikbud.

Setelah diseleksi dengan pertimbangan relevansi dengan tema lomba, kualitas teknis dan artistik serta pilihan kata dan pesan yang disampaikan, terpilih 8 video terbaik tingkat SMA dan 14 video terbaik tingkat perguruan tinggi. Mereka kemudian berkompetisi di babak final. Format lomba di babak final adalah cerdas cermat seputar budaya, sastra, sosial politik dan geografi Prancis serta pertanyaan terbuka untuk menguji kemampuan lisan berbahasa Prancis.

Di tingkat SMA, Ahmad Erwin Syah Darbi (SMAN 1 Jepara) meraih skor tertinggi dan keluar sebagai Juara I. Cornelia Talita (SMAN 3 Bogor) meraih Juara II, sedangkan Juara III diraih Fatur Arkan (SMAN 9 Bandar Lampung). Juara I mendapatkan tiket dan akomodasi serta kursus di Prancis selama dua minggu bersama 1 guru pendamping. Juara II dan III mendapatkan perangkat elektronik. Auliya Zahra (SMAN 9 Bandar Lampung) terpilih untuk Video Terfavorit dengan perolehan “Likes” terbanyak di media sosial.

Erwin bangga bisa mewakili Provinsi Jawa Tengah. Ia mengatakan, finalis tingkat SMA diwajibkan membaca karya sastra berjudul ‘Le Mystere du Vieux Port’ karya Pascal Paoli. Guru pendampingnya, Yusmanto, membantu berlatih seputar buku tersebut sehingga ia bisa menjawab dengan baik. Karena itu, kemenangannya adalah hasil persiapan dan kerja sama yang baik dengan gurunya.

Di tingkat perguruan tinggi, Pandu Galih Prakoso (Program Studi Sastra Prancis Universitas Negeri Semarang) meraih skor tertinggi dan berhak atas hadiah perjalanan 2 minggu ke Prancis untuk wisata dan mengikuti summer course. Juara II diraih mahasiswa Program Pendidikan Bahasa Prancis Universitas Negeri Jakarta, Kris Ardansyah Nasution, yang sekaligus peraih kategori Video Terfavorit dengan 4836 “Likes” di media sosial. Juara III diraih Yondry Imanuel Sapulete (Prodi Sastra Prancis Universitas Padjadjaran Bandung).

Pandu dari UNNES menuturkan, ia telah mempersiapkan diri secara intensif dengan banyak membaca buku dan berita daring seputar aktualitas sosial politik Prancis. Ia juga membaca harian Le Monde untuk membiasakan diri berbahasa Prancis formal. Selain itu, Wikipedia dan YouTube menjadi sarana belajar yang informatif dan menyenangkan.

“Dalam pembuatan video maupun persiapan babak final, saya banyak mendapat masukan dan bimbingan dari 2 dosen favorit saya, Bapak Suluh Edhi Wibowo dan Bapak Sunahrowi,” ujarnya.

Kepala P4TK Bahasa Prancis Kemdikbud Elvira Ratnasari mengatakan, olimpiade ini memberikan para pengajar ide dan inisiatif terkait teknik dan model pengajaran bahasa Prancis. Dari lomba tersebut bisa dilihat anak didik menyukai hal-hal yang dekat dengan teknologi dan keseharian mereka.

“Para guru dan dosen sebisa mungkin mengupayakan padu-padan pengajaran bahasa dengan teknologi informasi agar proses pembelajaran lebih menyenangkan,” ujarnya.

Hal senada dikatakan oleh Ketua Perhimpunan Pengajar Bahasa Prancis Seluruh Indonesia (APFI), Tri Indri Hardini. Ia melihat, para pelajar dan mahasiswa, terlebih di masa pandemi, sangat bergantung pada gawai untuk pendidikan dan hiburan.

“Terbukti dari olimpiade ini, keakraban mereka dengan teknologi berbuah kreativitas,” ujarnya.

Prof. Dadang Sunendar, Kepala Bidang Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemdikbud RI yang turut menjadi anggota dewan juri mengatakan, pelajar dan mahasiswa pertama-tama harus menguasai bahasa Indonesia. Kemudian jangan lupa menguasai dan melestarikan bahasa daerah. Terakhir, pelajari dan kuasai bahasa asing.

“Penguasaan bahasa-bahasa ini akan membuka pintu kesempatan dalam perjalanan studi dan karir di masa depan,” ujarnya.

Penulis: Natalia Trijaji