Mahasiswa ITS; Ciptakan Alat Pengering Cabai Inovatif

Mahasiswa ITS; Ciptakan Alat Pengering Cabai Inovatif

Mahasiswa ITS; Ciptakan Alat Pengering Cabai Inovatif

Gunakan teknologi vacuum drying untuk turunkan kadar air dalam cabai

Surabaya, Kabarindo- I Gede Angga Karuniawan, mahasiswa Departemen Fisika Fakultas Sains Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, berhasil merancang alat pengering cabai inovatif sebagai proyek tugas akhir (TA) untuk meraih gelar sarjana.

Untuk karyanya tersebut, mahasiswa yang biasa disapa Gede ini menggunakan teknologi vacuum drying sebagai alat untuk menurunkan kadar air dalam cabai. Pascapanen, pengeringan perlu dilakukan untuk mempertahankan kualitas cabai. Namun banyak petani yang kesulitan mengurangi kadar air cabai, karena sebagian besar masih mengandalkan matahari. Jika cuaca mendung, petani kesulitan untuk mengeringkan cabai.

Gede merancang alat pengering cabai dengan memanfaatkan tekanan vakum agar dapat mengeringkan tanpa mengurangi kandungan dan mengubah struktur cabai. Ide tersebut berasal dari hasil diskusi bersama dosen pembimbingnya, Drs. Bachtera Indarto, MSi. dan Drs Hasto Sunarno MSc.

Menurut Gede, pengering lain menggunakan pemanas dalam mesin vakum, sehingga membuat cabai terlalu kering yang bisa merusak sel cabainya. Biaya yang dikeluarkan juga cukup besar. Rancangannya tidak menggunakan pemanas dalam alatnya. Cara kerjanya dengan memasukkan cabai ke dalam ruang vakum dengan tekanan sebesar 80 kilo Pascal (kPa). Cabai dihisap selama tiga menit, lalu dikeluarkan dari ruang vakum untuk ditimbang beratnya secara manual. Hal ini dilakukan selama satu jam, dengan rentang waktu tiga menit selalu ditimbang.

Gede juga pernah mencoba mengeringkan pada tekanan 70 dan 75 kPa. “Pada tekanan ini sebenarnya masih bisa, cuma membutuhkan waktu yang lebih lama,” ujar pemuda yang pernah menjadi kru di ITS TV ini.

Gede mengaku membiayai sendiri pembuatan alat tersebut yang memakan waktu sekitar satu bulan. Sempat ada kendala, seperti tidak boleh ada kebocoran ruang, karena berhubungan dengan tekanan vakum. Ia bersyukur akhirnya dapat menyelesaikannya.

Gede mengatakan, saat ini alat tersebut masih dalam percobaan dan kajian lagi, karena masih memerlukan pembenahan. Ia berharap, alat tersebut dapat dikembangkan dan bermanfaat, terutama untuk pertanian.

Penulis: Natalia Trijaji