Kenali Karakteristik Tanah Surabaya; Minimalkan Kemungkinan Dampak Gempa

Kenali Karakteristik Tanah Surabaya; Minimalkan Kemungkinan Dampak Gempa

Kenali Karakteristik Tanah Surabaya; Minimalkan Kemungkinan Dampak Gempa

Penelitian didasarkan pada penemuan patahan Surabaya dan patahan Waru

Surabaya, Kabarindo- Adanya patahan yang berpotensi menimbulkan gempa di kota Surabaya serta berkaca dari bencana alam yang menimpa Lombok, Palu, Donggala dan yang terbaru di sekitar Situbondo, pakar geologi dari Pusat Studi Kebumian, Bencana dan Perubahan Iklim (PSKBPI) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya melakukan penelitian terkait kondisi tanah di Surabaya.

Penelitian tersebut dilakukan Dr. Ir. Amien Widodo MSi, dosen Teknik Geofisika ITS, yang bertujuan sebagai sarana mitigasi agar bisa menekan kerugian materiil ataupun non-materiil akibat gempa. Ia menjelaskan, penelitian ini didasarkan pada penemuan adanya dua patahan aktif yang melewati Surabaya yang diterbitkan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) awal September tahun lalu.

Kedua patahan tersebut adalah patahan Surabaya dan patahan Waru. Patahan Surabaya meliputi kawasan Keputih hingga Cerme. Sedangkan patahan Waru yang lebih panjang melewati Rungkut, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Saradan bahkan sampai Cepu.

“Dengan adanya data seperti ini, kita harus memetakan akibat gempa yang dihasilkan,” ujar pria dengan bidang keahlian Geologi Bahaya ini.

Menurut Amien, selain dipengaruhi kuat oleh struktur bangunan, kondisi tanah juga menjadi parameter untuk melihat efek yang ditimbulkan oleh gempa. Sebab tanah memiliki karakteristik yang berbeda saat terkena beban gempa.

“Tanah memiliki karakter sendiri saat terkena gempa, bisa saja mengalami likuifaksi ataupun amplifikasi,” papar Kepala Laboratorium Geofisika Teknik dan Lingkungan ini.

Amien mengatakan, likuifaksi merupakan peristiwa yang terjadi pada tanah yang memiliki lapisan pasir. Di dalam tanah tersebut terdapat air dalam kondisi jenuh yang kemudian akan mendorong ke atas dan mengakibatkan pasir dan air langsung keluar. Air itu menjadi bertekanan saat terkena beban gempa.

Untuk kawasan Surabaya timur dan utara yang jenis tanahnya berupa endapan rawa, lebih berpotensi untuk mengalami amplifikasi yang merambat melalui tanah yang lunak dan menghasilkan amplitudo yang besar. Pembesaran ini bisa mempengaruhi energi dari gempa tersebut. Kekuatannya akan berlipat beberapa kali.

Mengenai cara pencegahannya, menurut Amien, pemadatan tanah menjadi salah satu hal yang solutif untuk dilakukan. Penggunaan pondasi tiang pancang pada bangunan bertingkat juga bisa dilakukan untuk mengurangi dampak amplifikasi.

“Sebenarnya sudah banyak yang tahu kalau kualitas tanah di Surabaya kurang baik. Ini terlihat dari tingginya pengurukan tanah sebelum membuat bangunan,” ujarnya.

Dalam penelitian yang masih berlanjut ini, Amien menambahkan masih ada kemungkinan terjadi likuifaksi di wilayah Surabaya. Hal ini karena selain endapan rawa, juga terdapat tanah yang berjenis endapan pasir pantai. Namun untuk rincian luas tanah yang terdampak masih belum bisa ditentukan, karena penelitian tanah yang berlangsung sifatnya hanya memindai lapisan.

“Kalau dilanjutkan dengan melakukan pengeboran, bisa dilihat berapa luas tanah yang berpasir dan sebagainya,” ujarnya.

Penulis: Natalia Trijaji