Insan Perfilman Senior; Puji Karya-karya Usmar Ismail yang Berbobot

Insan Perfilman Senior; Puji Karya-karya Usmar Ismail yang Berbobot

Insan Perfilman Senior; Puji Karya-karya Usmar Ismail yang Berbobot

Layak menjadi pahlawan nasional bidang seni budaya, sosok yang santai dan humoris

Surabaya, Kabarindo- Para insan perfilman senior memuji tokoh perfilman Indonesia dan sutradara lawas Usmar Ismail yang telah melahirkan karya-karya berbobot.

Pujian tersebut dilontarkan dalam webinar Sinergi Hari Film Nasional 2021 Songsong 100 Tahun Almarhum Usmar Ismail yang berlangsung pada Rabu (17/3/2021). Kegiatan ini menghadirkan nara sumber beberapa insan perfilman senior yaitu aktris lawas Alice Iskak, Widyawati, Lenny Marlina dan Ninik L.Karim, juga pengamat perfilman Yan Widjaja, Wina Armada, sutradara senior Adisurya Abdy dan Yusmawati yang membacakan sambutan dari Ahmad Mahendra, Direktur Perfilman, Musik dan Media Baru.

Mahendra dalam sambutannya mengatakan, Usmar Ismail telah mengorbitkan aktris terkenal pada masanya di antaranya Alice Iskak, Widyawati, Lenny Marlina. Seiring perkembangan zaman, perempuan tak hanya bisa menjadi pemain film, namun mampu menjadi sutradara, bahkan produser.

Kemampuan akting pemain film perempuan di Indonesia bisa dilihat dalam film-film yang bagus seperti Cut Nyak Dien dan Pasir Berbisik. Kemampuan ini perlu dikembangkan ke tingkat yang lebih tinggi sebagai sutradara yang menghasilkan film-film yang berkualitas, sehingga dapat menjadi tontonan sekaligus tuntutan.

Sementara itu, Alice Iskak menuturkan pengalamannya selama bergaul dengan Usmar. Ia menggambarkan sosok Usmar yang santai dan humoris, akrab dan membaur dengan kru film. Ia senang bisa syuting dalam film garapan Usmar.

“Dulu saya nggak pakai casting. Langsung datang dan diajak main. Kebetulan beliau teman ayah. Saya terkesan dengan beliau. Dia orangnya akrab dan menyenangkan,” terangnya.

Menurut Alice, Usmar telah melahirkan banyak karya yang berbobot dan populer di antaranya film Asrama Dara dan Tiga Dara. Kedua film Indonesia ini tergolong modern pada masa itu. Ia berharap, film-film Indonesia saat ini juga akan bagus dan berkualitas.

Widyawati menambahkan, ia mengaku beruntung mengenal Usmar yang dikenalkan oleh ibunya. Semula ia menonton film Pejuang yang dibintangi sang ibu dan disutradarai Usmar. Widyawati kemudian diajak main di film Ya Mualim.

“Saya lupa honornya waktu itu. Yang mengurusi ibu. Saya main, ya main aja. Just fun,” tutur aktris lawas yang cantik dan awet muda ini.

Senada dengan Alice, menurut Widyawati, Usmar telah melahirkan banyak film yang berkualitas dan fenomenal seperti Darah dan Doa, Asrama Dara dan Tiga Dara.

Sementara Lenny Marlina menuturkan kenangan manis bersama Usmar. Ia mengatakan, waktu itu ia mengikuti casting di Bandung dan lolos untuk membintangi film Ananda. Usmar bisa meyakinkan orang tua Lenny, bahwa putrinya bisa bermain bagus. Film ini membawanya menjadi Pendatang Baru Terbaik di Festival Film Asia.

“Beliau bisa cepat tahu orang itu berbakat atau tidak. Saya kan belum pernah main film, tapi beliau membimbing saya,” ujarnya.

Lenny bersyukur mengenal Usmar yang sangat berjasa baginya, karena membuka jalan hidup dan karirnya di dunia film. Penghasilan yang diperolehnya sangat membantu dirinya dan keluarganya, bisa membeayai sekolahnya maupun adik-adiknya.

Sedangkan Ninik L.Karim mengatakan belum pernah bertemu Usmar, namun mengagumi karya-karyanya. Ia suka menonton film-film garapan Usmar. Menurut Ninik, karya-karya Usmar memiliki visi dan misi yang mulia dan bermakna.

Pengamat film Yan Wijaja menambahkan, Usmar menghasilkan 28 film sepanjang karirnya. Ia menilai Perjuangan adalah film terbaik yang komplit, dihiasi lagu-lagu perjuangan seperti Selendang Sutra dan Sepasang Mata Bola. Film ini sampai dirilis ulang dengan judul-judul lain, namun menurut ia, Perjuangan tetap yang terbaik.

Yan menceritakan, Usmar dulu belajar seni penyutradaraan di Hollywood. Namun karyanya tidak dipengaruhi film-film Amerika, justru terpengaruh film-film Italia misalnya Lewat Jam Malam yang fenomenal.

Sutradara senior Adisurya Abdy turut memberikan kesannya tentang Usmar. Ia mengatakan, sosok Usmar dan karyanya telah menginspirasi sineas Indonesia, karena menceritakan manusia Indonesia dan perjuangan manusia Indonesia.

Wina Armada juga memuji karya Usmar yang telah banyak berjasa dalam memberikan sumbangsih terhadap perfilman Indonesia. Ia berpendapat, Usmar layak dijadikan pahlawan nasional di bidang seni budaya. Pemikirannya maju dan telah melahirkan karya-karya yang tak kalah dengan film-film asing.

“Usmar bisa disebut perintis semua hal di perfilman Indonesia. Ia peletak sinema Indonesia pertama, juga peletak sinema Indonesia di mata internasional. Ia perintis film-film berkualitas dan disukai masyarakat. Ia juga perintis Festival Film Indonesia,” pungkasnya.

Penulis: Natalia Trijaji