Ibis Budget Surabaya Diponegoro; Jaring Pebisnis & Keluarga

Ibis Budget Surabaya Diponegoro; Jaring Pebisnis & Keluarga

Ibis Budget Surabaya Diponegoro; Jaring Pebisnis & Keluarga

Usung konsep nest design

Surabaya, Kabarindo- Hotel baru terus bermunculan di Surabaya. Kini hadir Ibis Surabaya Diponegoro yang merupakan hotel budget yang bergabung di merek Ibis.

Ibis budget telah memiliki 2 hotel di Surabaya yaitu Ibis Bandara Juanda dan Ibis HR Muhammad. Sementara hotel lain di bawah Accor di Surabaya yaitu Majapahit by Accor untuk bintang lima, Mercure Grand Mirama, Novotel Ngagel dan Novotel Samator untuk bintang empat, serta dua Ibis Styles untuk bintang tiga.

Director of Operations, Midscale & Economy Hotels, AccorHotels Sumatera, Kalimantan and East Java, Endrian Hananto, mengatakan Ibis Diponegoro bekerja sama dengan pemilik hotel untuk jangka waktu 10 tahun.

“Untuk 10 tahun pertama, kami ingin memastikan investasi yang dilakukan pemilik hotel memberikan hasil yang sukses. Setelah itu akan dievaluasi,” ujarnya pada pembukaan Ibis Diponegoro, Senin (27/8/2018).

Endrian menambahkan, Ibis Diponegoro hadir untuk memenuhi kebutuhan kamar bagi pebisnis maupun wisatawan yang datang ke Surabaya. Hotel ini memiliki 138 kamar dengan fasilitas lengkap dan 2 meeting room dengan kapasitas sampai 120 orang.

Ibis Diponegoro mengusung konsep kamar nest design dengan tambahan tempat tidur yang dapat ditarik ke bawah atau sweet bed. Menurut Endrian, kamar demikian cocok untuk menginap keluarga maupun pebisnis.

“Hotel budget masih menjadi pilihan bagi pebisnis maupun traveller. Mereka hanya butuh untuk tidur yang nyaman di kamar dengan fasilitas lengkap dan harga terjangkau. Selebihnya mereka ada urusan bisnis, jalan-jalan, belanja atau kulineran,” ujarnya

Hal ini dibenarkan General Manager Ibis Budget Surabaya Diponegoro, Michael Frank, yang mengatakan pihaknya mengutamakan kenyamanan kamar dengan tarif yang terjangkau.

“Dengan desain menarik dan modern, Ibis Diponegoro cocok untuk pebisnis ataupun keluarga yang berlibur dengan kamar untuk tiga orang,” ujarnya.

Michael optimis, hotelnya akan mampu menarik tamu karena lokasinya strategis di tengah kota. Surabaya juga merupakan kota terbesar kedua setelah Jakarta dan menjadi pusat ekonomi bisnis di Indonesia timur.

Endrian tidak mematok target okupansi Ibis Diponegoro. Ia mengatakan, okupansi awal mungkin sekitar 50%, karena baru dikenal masyarakat. Ia optimis, okupansi akan meningkat mengingat lokasi hotel ini strategis. Ia merujuk pada Ibis Bandara Juanda yang mampu mencatat okupansi di atas 80%.

Penulis: Natalia Trijaji