HoS Pamerkan Singo Mengkok; Batik Legendaris Sendang-Lamongan

HoS Pamerkan Singo Mengkok; Batik Legendaris Sendang-Lamongan

HoS Pamerkan Singo Mengkok; Batik Legendaris Sendang-Lamongan

Sarat makna filosofi kehidupan, namun sayangnya kini sudah mulai jarang dibuat

Surabaya, Kabarindo- Sebagai salah satu Kabupaten di Jawa Timur, Lamongan juga menyimpan seni tradisi rakyat yang bernilai tinggi di antaranya batik. Nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal yang berkembang di masyarakat setempat tegambar secara apik hingga menjadi corak khas Batik Lamongan.

Singo Mengkok, salah satu motif batik legendaris di kalangan masyarakat Sendang, Lamongan, dikenal sarat akan makna filosofi kehidupan, namun sayangnya kini sudah mulai jarang dibuat.

Dalam upaya untuk terus aktif menjaga kelestarian kain khas Nusantara, Galeri Paviliun House of Sampoerna (HoS) bekerja sama dengan Komunitas Batik Jawa Timur (KIBAS), menggelar pameran batik bertajuk “Singo Mengkok” hingga 15 Desember 2018.

Singo Mengkok dimaknai sebagai perwujudan dari binatang mitologi berkaki empat dan bertubuh unik. Dalam budaya Tiongkok, Singo Mengkok identik dengan kilin yang memiliki komposisi badan kijang dengan kepala naga, serta memiliki api di badannya. Bagi sebagian masyarakat Lamongan, binatang ini dipercaya mampu mendatangkan kesuburan, kemakmuran dan kejayaan daerahnya. Menariknya binatang mitologi ini mampu menyatukan dua elemen dalam satu kesatuan yang harmonis yaitu budaya dan agama, seperti di makam Sunan Drajat, beragam ukiran di dinding, gamelan hingga corak dan motif batiknya.

Menurut penuturan beberapa sesepuh, Singo Mengkok tidak mudah untuk digambarkan dalam batik. Seseorang yang ingin menggambar Singo Mengkok harus bisa memvisualisasikan wujud dari binatang mitologi ini dengan benar secara detil, misalnya jumlah kuku pada kaki yang dimiliki Singo Mengkok, sehingga mereka harus melakukan ritual lebih dahulu seperti puasa (tirakat).

Selain motif legendaris Singo Mengkok, dalam pameran ini juga ditampilkan motif-motif lain yang masih banyak ditemui di Sendang, Lamongan, di antaranya Gendagan, Petetan, Kluwung, Grinsing, Kawung dan Sido. Motif-motif ini tercipta melalui proses yang masih bersifat tradisional dengan menggunakan canting untuk melukiskan malam di permukaan kain. Untaian motif tersebut memiliki detil yang rumit dan kecil, sehingga dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam setiap proses pembuatan batiknya.

Dari sekitar 30 koleksi batik yang dipamerkan, semuanya mengandung makna tentang budaya dan keharmonisan nilai hidup yang dijunjung tinggi oleh warga Lamongan sehingga kelestariannya wajib dijaga.

Diharapkan pameran ini memberikan inspirasi kepada semua pihak terutama pemerintah daerah Kabupaten Lamongan untuk mengeksplorasi batik Lamongan dengan lebih detil. Peran akademisi, pecinta batik dan masyarakat secara umum sangat ditunggu untuk pengembangan batik Lamongan,” ujar Lintu Tulistiyantoro, Ketua KIBAS.

Melalui pameran ini, masyarakat diharapkan bisa semakin mengapresiasi dan ikut melestarikan batik khususnya batik Jawa Timur. Sebagai bentuk dukungan terhadap perkembangan UMKM di Jawa Timur, HoS juga memberi kesempatan bagi pengrajin batik Lamongan untuk memperkenalkan dan menjual karya mereka di Cendera.mata.

Penulis: Natalia Trijaji