Film Sultan Agung; Siap Tayang 23 Agustus 2018

Film Sultan Agung; Siap Tayang 23 Agustus 2018

XXI Epicentrum, Jakarta, Kabarindo- Indonesia bangga bersama Hanung Bramantyo.

Tradisi kebangsaan HUT RI 2018, ia mempersembahkan bersama timnya Allan Sebastian- Artistik, Music Scoring- Tya Subijakto, Om Pao Faozan Rizal- DOP dan lainnya film kepahlawanan kolosal berjudul Sultan Agung.

"Saya ikut berinvestasi dalam film ini dengan set production yang diberikan kepada negara sehingga siapapun bisa menggunakan lokasinya untuk syuting berkenaan budaya Jawa. Saya penyukan Saur Sepuh dengan pertempuran yang kolosal sehingga film ini makin memberikan tantangan kepada saya, semoga bisa diterima oleh anak negeri," papar Hanung tadi malam (12/8).

Asal Usul sebagai Trah dari Sultan Agung :
Namanya, Sultan Agung Hanyokrokusumo. Raja Mataram dengan jabatan Senopati ing Ngalogo , Sayidin Panotogomo ( 1593 – 1645 )
Sultan Agung menurunkan Kerajaan di Kartasura (Jawa) :
1680 – 1703     Amangkurat II
1726 – 1743     Pakubuwono II di Kartasura
1743 – 1745    Geger Pecinan
Diteruskan dengan Perjanjian Giyanti, Keraton Kartosuro, mulai Pakoe Buwono III, Raja Kartosuro, pindah ke Kerajaan Surakarta dan terpecah belah menjadi Sampeyan Dalem Pakoe Boewono IV, daerah Kerajaan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Mangkunegaran dan Paku Alaman, yang merupakan Devide et Impera (Politik pecah belah Belanda).

Ibukota Mataram berada di Kota Gede. Istana baru dibangun Sultan Agung, di Desa karta  (1614). Sultan Agung Mataram, berhasil menyatukan Madura, Brang Wetan, Surabaya, Brang Tengah, dan Brang Kulon, dan Kadipaten Batang, menyatu dalam pemerintahan Kerajaan Mataram, bersatu memerangi VOC yang dipimpin Gubernur Jendral JP Coen ,1628, mengalami kekalahan, dan penyerangan kedua dilanjutkan tahun 1629. Kita menganggap sejarah Sultan Agung, patut diapresiasi, karna Film Perjuangan yang kolosal, yang patut ditonton masyarakat, karena suatu real story, dan dapat menjadi tuntunan bagi generasi muda, sebagai suatu pendidikan sejarah. Keteladanan, karna kita pernah memiliki kepemimpinan yang dapat kita hidupkan kembali.

Redaksi takjub dengan pengadeganan dan semua detil dari film.

"Sultan Agung Mataram, yang memimpin 1613-1645 sebagai pahlawan, yang masa itu memiliki spirit dan semangat pluralism, persatuan dan kesatuan bangsa, yang menyatukan bagian-bagian daerah, untuk merintis, semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan bergotongroyong, melawan penjajah yang tidak tahu tata cara kesepakatan dengan tanah air orang lain. Sultan Agung menyatukan, kalender jawa (Saka) dengan kalender Islam Muharam 1 Suro tahun Alib 1553 yang bertepatan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah. Masyarakat Jawa sebelumnya, mengikuti sistem perjalanan Matahari mengitari bumi (Syamsiyah), sedangkan kalender Sultan Agung, kemudian mengikuti bulan, yang mengitari bumi (Komariyah)," jelas BRA Mooryati Soedibyo (91 tahun).

Terlihat para pendukung film, semua adalah aktor ternama dan dua peraih Piala Citra 2017 yakni Putri Marino (Lembayung) dan Tengku Rifnu Wikana bersama dengan Alm Dedi Sutomo, Lukman Sardi, Adinia Wirasti, Christine Hakim, Meriam Bellina dan lainnya.

"Tidak banyak film kolosal seperti ini apalagi berkenaan budaya Jawa yang sangat patriotik dan nasionalis. Terus terang saya jadi belajar sejarah dan menjadi tahu, mengagumi dan akhirnya berterima kasih kepada sosok kepahlawanan Sultan Agung yang sama sekali tidak meminta tapi diminta menjadi Raja. Banyak pelajaran bijak dan inspiratif dari film ini untuk anak didik dari SD, SMP dan SMA dan wajib tonton sehingga saya sudah berkoordinasi para guru IPS dapat mengajak anak didiknya untuk mengenal pahlawan nasional di dalam bioskop dan ruang kelas mereka juga belajar," seloroh Rosida Kepala Sekolah Dasar Negeri Sumur Batu Kemayoran Jakarta Pusat bersama dengan Kepala Sekolah dan aktivis Sahabat Anak Indonesia tadi malam.


Siap Tayang 23 Agustus mendatang.......!