Dosen ITS; Gagas Metode Pengolahan Sampah Hasilkan Listrik

Dosen ITS; Gagas Metode Pengolahan Sampah Hasilkan Listrik

Dosen ITS; Gagas Metode Pengolahan Sampah Hasilkan Listrik

Melalui penelitian berbasis hydrothermal carbonization yang dapat mengurangi massa sampah secara signifikan pada prosesnya

Surabaya, Kabarindo- Berbagai metode telah dikembangkan oleh para peneliti untuk mengimplementasikan pengolahan sampah menjadi energi alternatif penghasil listrik.

Salah satunya dikembangkan oleh dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr.Ridho Hantoro ST MT, melalui penelitian berbasis hydrothermal carbonization yang mempunyai kelebihan dapat mengurangi massa sampah secara signifikan pada prosesnya.

Penelitian yang dilakukan tersebut berangkat dari masalah penumpukan sampah di Indonesia terutama di kota-kota besar. Sudah ada pemerintah daerah yang memanfaatkan sampah menjadi listrik, namun dari beberapa jenis metode, pengurangan massa masih tidak signifikan.

Dosen dari Departemen Teknik Fisika ITS tersebut terinspirasi dari konversi nilai energi dan banyaknya sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Salah satu TPA yang mengaplikasikan metode ini adalah TPA Putri Cempo di bawah Pemkot Surakarta.

“Hasil proses hydrothermal carbonization akan digunakan sebagai bahan baku gasifikasi dan gas engine untuk memproduksi listrik,” papar Ridho, dosen kelahiran 1976.

Melalui penelitiannya yang berjudul Studi Pembangkitan Energi melalui Pengolahan Sampah Kota (MSW) dengan Proses Hydrothermal Carbonization (HTC) dan Gasifikasi, Ridho fokus menggunakan metode HTC dan Gasifikasi.

Keunggulan metode ini mampu meningkatkan nilai kalori material sampah dalam bentuk padatan, sekaligus mengurangi massa sampah secara signifikan pada prosesnya,” terang dosen yang menggeluti bidang efisiensi energi ini.

Pada prosesnya, lulusan S3 Teknik Kelautan ITS ini mengungkapkan, limbah dipisahkan dari logam dan material toksik, lalu dimasukkan ke dalam reaktor HTC. Pada kondisi saturasi biasanya 23 bar harus tetap dikontrol. Hal ini juga bergantung kondisi dan komposisi karakteristik sampah. Bisa sampah plastik atau sampah organik seperti sayur-sayuran, limbah rumah tangga, plastik, kertas dan lainnya.

Ridho menambahkan, selama 4-10 jam akan terbentuk bubur karbon (char). Setelah itu bubur dihilangkan kadar airnya, lalu dikeringkan dan menjadi briket. Briket yang sudah dikeringkan dimasukkan ke dalam gasifier dan diperoleh metana murni yang di-treatment. Selanjutnya, dimasukkan ke dalam gas engine atau motor bakar yang akan menghasilkan listrik seperti genset. Jika dalam pemanfaatan limbah menjadi biogas akan dihasilkan gas organik, namun hasil yang dikeluarkan dari gasifier akan berupa gas sintetik (syngas).

Menurut dosen yang juga menggeluti bidang energi terbarukan tersebut, penelitian yang sudah dilakukan ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam menyelesaikan masalah sampah kota. Ia akan meneruskan penelitian ini dengan membuat prototype-nya, lalu mencoba mengaplikasikannya.

Penulis: Natalia Trijaji