Coding Bee Academy Tawarkan Pembelajaran Computer Science; Didik Anak-anak Jadi Pencipta Teknologi

Coding Bee Academy Tawarkan Pembelajaran Computer Science; Didik Anak-anak Jadi Pencipta Teknologi

Coding Bee Academy Tawarkan Pembelajaran Computer Science; Didik Anak-anak Jadi Pencipta Teknologi

Melalui coding, kita dapat membuat aplikasi apa saja yang dapat membantu pekerjaan, hiburan, bahkan solusi mengatasi masalah sosial

Surabaya, Kabarindo- Coding Bee Academy membuka cabang pertamanya d Surabaya pada Sabtu (15/2/2020) untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Indonesia timur.

Eko Haripin, Founder Coding Bee Academy, mengatakan Coding Bee Academy berdiri pada 2017 di Jakarta, merupakan sekolah coding khusus untuk anak berusia 5-17 tahun. Sekolah ini menawarkan pembelajaran computer science yang kini sudah menjadi standar baru kurikulum internasional.

Computer science menumbuhkan cara berpikir yang praktis, sistematis, kritis dan kreatif untuk menjadikan karya digital sebagai solusi dalam mengatasi isu sosial di masyarakat. Hal ini perlu diterapkan sejak usia dini. Coding menjadi bagian yang tak terpisahkan dari computer science.

“Coding berguna untuk semua bidang. Melalui coding, kita dapat membuat aplikasi apa saja yang dapat membantu pekerjaan, hiburan, bahkan solusi mengatasi masalah sosial,” ujar Eko.

Ia menjelaskan, belajar coding seperti belajar bahasa. Namun yang dihasilkan adalah piranti lunak atau aplikasi yang dapat membantu banyak pekerjaan di era digital ini. Dengan belajar coding, anak-anak dipicu untuk lebih peka terhadap permasalahan di sekitar dan bagaimana aplikasi tersebut menjadi solusi.

“Anak-anak tidak lagi menjadi konsumen teknologi, melainkan menjadi pencipta teknologi. Selama ini, kita kan cenderung menjadi pengguna teknologi yang diciptakan negara-negara lain,” ujar Eko.

Coding Bee Academy mengaplikasikan K12 CS Frameworks yang merupakan kurikulum computer science di Amerika Serikat (AS), yang dirancang untuk memperkenalkan computer science lebih jauh kepada anak-anak sejak pendidikan dasar mereka.

“Coding Bee Academy menawarkan metode pembelajaran dengan konsep fun dan exciting yang diadaptasi dari AS dan Inggris, sehingga tidak sulit dan membosankan. Ada tiga tingkatan mulai dari basic, intermediate dan advance disesuaikan dengan perkembangan usia anak. Mereka bisa belajar mulai dari nol dan kami tidak membatasi perkembangan mereka,” papar Eko.

Ia menyebutkan, lebih dari 80 sekolah nasional dan internasional di Indonesia sudah bergabung dengan Coding Bee Academy dalam menerapkan coding sebagai materi pembelajaran dalam bentuk ekstrakurikuler, mata pelajaran maupun workshop. Beberapa sekolah terkemuka itu di antaranya Al Azhar, BPK Penabur, IPEKA, National High Jakarta School, Raffles Christian School dan Singapore Intercultural School.

Coding Bee Academy mencatat mereka mempunyai lebih dari 2.000 murid yang aktif dan lebih dari 20.000 aplikasi maupun software yang sudah dihasilkan dari program ini.

Menurut Eko, hal itu menunjukkan prestasi yang menggembirakan. Ia merujuk data dari McKinsey & Company yang menyebutkan, Indonesia membutuhkan 600 ribu talenta digital setiap tahun yang akan mencapai 9 juta talenta pada 2030 mendatang.

Husen Halim, salah satu pengelola Coding Bee Academy di Surabaya yang juga orang tua siswa Coding Bee Academy di Jakarta, mengatakan ia harus cermat memilih investasi pendidikan bagi anak-anaknya, karena akan banyak profesi pada masa depan yang dapat digantikan oleh komputer.

“Kemampuan membuat program atau coding menjadi keahlian dasar pada semua profesi dan industri. Coding akan menjadi game changer dalam mewujudkan ide kreatif dan orisinal dalam menembus industri digital pada masa depan,” tuturnya.

Untuk memperluas akses pembelajaran computer science, Coding Bee Academy akan menggelar K12 Computer Science Education Fair pada 6-8 Maret 2020 di Emporium Pluit Mall, Jakarta. Acara ini akan menghadirkan olimpiade coding untuk siswa TK-SMA dan smart talkshow mengenai pentingnya belajar coding untuk masa depan anak-anak.

Penulis: Natalia Trijaji