BPIPI Kampanyekan #IndonesiaMelangkah; Bangkitkan Industri Alas Kaki & Kulit

BPIPI Kampanyekan #IndonesiaMelangkah; Bangkitkan Industri Alas Kaki & Kulit

BPIPI Kampanyekan #IndonesiaMelangkah; Bangkitkan Industri Alas Kaki & Kulit

Gencarkan pemakaian produk l IKM, sharing kegiatan, buka peluang kolaborasi dan support, juga berikan inspirasi dan pengetahuan baru

Surabaya, Kabarindo- Pandemi Covid19 berdampak sangat besar terhadap industri alas kaki dan kulit. Untuk itu, Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIP) di bawah Kementerian Perindustrian RI melakukan upaya untuk membangkitkan industri ini, di antaranya dengan mengadakan kampanye #IndonesiaMelangkah.

Kampanye tersebut adalah bagian dari kampanye nasional #BanggaBuatanIndonesia yang diluncurkan Presiden Jokowi pada Mei 2020. Tujuannya mendorong mesyarakat untuk membeli produk-produk buatan IKM, sehingga mendukung keberlangsungan sektor industri alas kaki dan kulit selama pandemi.

Kampanye #IndonesiaMelangkah diulas dalam webinar Makers Talk # 4 pada Sabtu (14/11/2020) yang menghadirkan narasumber di antaranya Kepala BPIPI, Heru Budi Susanto, dan pengusaha Sandiaga Uno.

Heru mengatakan, #IndonesiaMelangkah melibatkan semua pelaku usaha alas kaki mulai dari hulu hingga ke hilir, mulai dari perajin, industri hingga merek lokal. Kampanye ini diharapkan mampu menggelorakan eksistensi dan nilai-nilai yang dimiliki industri alas kaki nasional, agar masyarakat Indonesia memilih, membeli dan menggunakan produk atau merek lokal.

Heru merujuk pada survei global industri alas kaki akibat Covid19 yang dilakukan pada Maret 2020, yang menunjukkan prediksi penurunan konsumsi alas kaki dunia sebesar 22,5%. Jika prediksi ini tepat, maka konsumsi alas kaki tahun ini akan turun menjadi 696 juta pasang di Amerika Utara (-21%), 908 juta pasang di Eropa (-27%) dan 2,4 miliar pasang di Asia (-20%). Dari data prediksi tersebut, diasumsikan pandemi berdampak sistematis terhadap industri alas kaki global, termasuk di Indonesia sebagai pusat produksi terbesar ke-4 di dunia (1.271 juta pasang) pada 2019 dan negara eksportir ke-3 terbesar dunia (406 juta pasang) pada 2019.

Aprisindo (Asosiasi Persepatuan Indonesia) mencatat dampak pandemi Covid-19 terjadi pada lini produksi dan distribusi. Kinerja produksi secara nasional turun hingga 70%, karena faktor daya beli yang menurun dan ketersediaan / keterbatasan bahan baku, sehingga terjadi pengurangan 60%-70% tenaga kerja hingga menjelang Lebaran. Kinerja distribusi selama April-Mei juga terganggu, karena dampak PSBB di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya). Terganggunya distribusi bertambah besar menjadi 80%, karena jaringan ritel dan penjualan alas kaki yang tutup akibat PSBB.

BPIPI mengajak seluruh komponen industri alas kaki & kulit dari hulu hingga hilir bergabung untuk mendukung kampanye #IndonesiaMelangkah guna menggalang semangat kebersamaan, komitmen dan kecintaan terhadap produk lokal alas kaki dan produk kulit untuk bangkit menghadapi dampak pandemi Covid-19,“ ujar Heru.

Untuk itu, BPIPI mengumpulkan komunitas untuk sharing kegiatan atau gerakan yang telah dilakukan oleh brand-brand. Melalui sharing ini, diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi dan support, juga memberikan inspirasi dan pengetahuan baru.

“Saya yakin, industri alas kaki tidak akan mati, karena semua orang butuh alas kaki. Tapi saat ini terdampak pandemi. Untuk itu, perlu dilakukan upaya agar kembali bangkit dengan melibatkan semua pelaku industri alas kaki dan sepatu yang didukung Kemenperin,” ujarnya.

Menurut Heru, IKM harus kreatif dan inovatif dalam menyiasati kondisi dan mengikuti perkembangan. Misalnya tren WFH membuat banyak orang harus tetap produktif dari rumah yang tentunya membutuhkan alas kaki yang nyaman. Hal ini perlu direspon IKM dengan memproduksi alas kaki yang simple, nyaman dan terjangkau.

Sandiaga juga mendorong para pelaku industri alas kaki dan kulit untuk terus memproduksi alas kaki yang berkualitas dengan harga terjangkau, agar mampu bersaing dengan produk luar. Ia mengatakan, banyak produk lokal yang sebenarnya tak kalah bagus dengan brand-brand asing dan ia mengapresiasinya serta memberikan support. Misalnya brand 910 NineTen yang memproduksi sepatu lari, pakaian dan aksesoris olahraga yang berkualitas.

Sandiaga menambahkan, sebenarnya banyak peluang yang bisa dicari di tengah pandemi. Para pelaku industri harus jeli dan pintar memanfaatkannya. Ia juga memberikan tips agar alas kaki produk lokal diminati konsumen.

“Alas kaki jangan hanya harganya terjangkau, tapi juga harus nyaman dipakai. Kalau bikin kaki sakit, meskipun harganya murah, orang juga enggan beli. Jadi produk yang dihasilkan harus berkualitas, nyaman dipakai serta terjangkau,” ujarnya.

Sandiaga terus mendorong masyarakat dan pasar Indonesia untuk menghargai dan bangga menggunakan produk lokal agar industri nasional mampu bangkit kembali.

Penulis: Natalia Trijaji