Bangka Belitung Jajaki Gandeng ITS; Kembangkan Transportasi Listrik

Bangka Belitung Jajaki Gandeng ITS; Kembangkan Transportasi Listrik

Bangka Belitung Jajaki Gandeng ITS; Kembangkan Transportasi Listrik

Butuh motor listrik, mobil listrik dan perahu listrik

Surabaya, Kabarindo- Kepulauan Bangka Belitung (Babel) merupakan provinsi yang memiliki 463 pulau dengan 48 pulau yang berpenghuni. Seperti di daerah kepulauan lainnya, masalah distribusi bahan bakar minyak ke pulau-pulau yang tersebar masih sulit dan menjadi tantangan bagi pemerintah daerah.

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, H. Erzaldi Rosman, pada kunjungannya ke Institut Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), mengatakan setiap hari nelayan dari pulau besar Bangka dan Belitung membawa BBM ke pulau-pulau kecil, kemudian menjualnya lagi di sana. Hal ini mengakibatkan harga BBM di sejumlah daerah di Babel cukup mahal. Kunjungan Rosman ke ITS bertujuan meninjau peluang kerja sama antara Provinsi Babel dengan ITS.

“Salah satu yang ingin kami kerja samakan adalah bagaimana kapal nelayan bisa dioperasikan lebih efisien dan pulau-pulau butuh energi pengganti untuk minyaknya. Saya rasa motor listrik, mobil listrik dan perahu listrik yang kami butuhkan,” ujar Erzaldi.

Ia menambahkan, solusi terbaik untuk Babel adalah mengembangkan inovasi transportasi yang semula berbahan bakar minyak menjadi bertenaga listrik. Hal ini didukung data dari PLN yang menyebutkan pasokan listrik di Babel mengalami surplus atau kelebihan produksi.

ITS sudah dapat memproduksi motor dan mobil listrik, sehingga bukan hal yang tidak mungkin untuk memproduksi perahu listrik juga. Hal ini ditegaskan oleh tim dari National Ship Design and Engineering (Nasdec) atau UPT Desain dan Rekayasa Kapal Nasional ITS.

Pengembangan transportasi bertenaga listrik bisa dilakukan di Babel. Erzaldi menjelaskan, selama ini pertambangan timah di wilayahnya menghasilkan juga 17 mineral ikutan seperti lithium, zikron dan torium. Lithium merupakan bahan baku untuk pembuatan baterai listrik. Namun selama ini, 17 mineral ikutan tersebut dimanfaatkan oleh oknum tertentu dan diekspor ke Tiongkok.

“Untuk masalah ini, kami sudah membuat turunan Perda Pertambangan dan bulan depan sudah clear,” ujarnya.

Erzaldi yakin jika terjalin kerja sama dengan ITS, segala kelebihan sumber daya alam di Babel dapat dimanfaatkan secara maksimal dan untuk kesejahteraan masyarakat, terutama untuk nelayan dan wisatawan di sana.

Menanggapi hal itu, Rektor ITS, Prof Ir Joni Hermana MSc ES PhD, mengatakan ini merupakan langkah yang baik untuk menjalin kerja sama dengan wilayah Indonesia bagian barat. Selama ini kerja sama ITS lebih banyak dengan wilayah Indonesia timur. Ia berharap kerja sama ini bisa cepat terealisasi.

Erzaldi menargetkan pada 2 Juli nanti pihaknya akan mengajak perwakilan antara lain dari Dinas Lingkungan Hidup, Bappeda, Dinas Pertambangan, Dinas Kelautan dan Perikanan serta Disperindag Bangka Belitung untuk kembali berkunjung ke ITS guna membahas detail kerja sama kemudian mengarah pada penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU).

Sebelumnya ITS sudah melakukan survei langsung ke Babel untuk memetakan kebutuhan masyarakat. Joni mengatakan, seperti pada pemaparan tim Nasdec ITS, masyarakat nelayan di Babel lebih menyukai perahu yang terbuat dari bambu atau kayu daripada fiber. Untuk itu, Nasdec ITS telah menyiapkan desain kapal bamboo laminasi yang siap diproduksi jika kerja sama ini sudah terjalin.

Erzaldi mengatakan, selain motor listrik, yang ingin cepat dikerjasamakan dengan ITS adalah soal TPA (Tempat Pembuangan Akhir) agar bisa dimanfaatkan menjadi energi terbarukan.

Penulis: Natalia Trijaji