Ati Raja Adalah Film Keberagaman; Tayang 07 November

Ati Raja Adalah Film Keberagaman; Tayang 07 November

Mengenal Ho Eng Dji; Ati Raja Adalah Warisan 

Ati Raja Tayang 07 November; Ho Eng Dji Pencipta Lagu Ati Raja

Mari simak lirik lagu Ati Raja berikut ini;

"Jailebang ni rampe
 i bau...
Ati Raja to sunggua ri pau pau kodong
Raja le ala ni ani puji ati ati raja....
Ni a tom mo ni calla dodu...
Puna ni a to sunggu bau....
Ati Raja nata ena
Raja le allara panji sero ati ati raja...
Kek ke kini pela tomi
Laku apa mi sunggu ta bau...
Ati Raja nama jai balla batu ta kodong...
Raja le ala puna kodia ati ati raja...
Keleleang mange mange bau.....
Mange mange bau.

Apa artinya? Ini dia arti yang sarat makna dan penuh makna, diantaranya adalah mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan yang maha kuasa. Di dalamnya juga di kuatkan kepada kita tentang bahwa Tuhan itu hanya satu (Esa).

Jakarta, Kabarindo- Tidak lupa juga di dalam liriknya juga di jelaskan kepada Tuhan lah tempat kita untuk meminta dan memohon.

Namun meskipun manusiau sudah berhasrat tetapi Tuhan lah yang tau dan yang mengabulkan mana yang terbaik untuk di berikan kepada kita umat manusia.

Nah, 07 November mendatang menjadi Film Nasional yang inspiratif disutradarai oleh budayawan Bugis Makassar yakni Shaifuddin Bahrum yang kerap disapa Daeng Uddin.

Ia menampilkan vitalitas anak muda yang selalu kreatif dan  produktif untuk berkarya, sosok Ho Eng Dji (HED) siap menginspirasi anak Muda Zaman Now.

Dialah sang pencipta lagu yang luar biasa di atas.

Sementara itu dijelaskan perihal lokasi shooting film tersebut di daerah Makassar, Barru, Pare-pare dan Gowa yang masih asri kala itu.

"Dalam masa sulit perjuangan kemerdekaan dia (HED, red) masih berkarya meskipun dalam barisan pengungsian. Di era tahun 30-40an tidak banyak musisi daerah yang berhasil merekam lagu-lagunya. Tapi HED punya piringan hitamnya mencapai 2000 keping hingga tahun 1939 dan  beredar secara nasional bahkan sampai ke Malaysia dan Singapura.

Ia jelaskan juga bahwa Ho Eng Dji adalah sosok seniman dan budayawan utama pada eranya. Bahkan setelah kemerdekaan dan hingga kini karya-karyanya tetap abadi. 

Ho Eng Dji, sosok yang meleburkan sekat-sekat etnik dalam masyarakat di Makassar. 

Menurutnya, tidak ada istilah orang Pribumi dan nonpribumi tapi masyarakat multi etnik lebur dalam satu yakni masyarakat Makassar.

Menarik juga paparan Ancu Amar yang ikut menulis skenarionya bahwa film Ati Raja adalah  biopic Ho Eng Dji, dia peranakan Tionghoa Makassar yang lewat syair-syair lagunya "bicara" tentang pemaknaan hidup yang "lebih hidup". 

"Lewat syair lagu dan musik,  ia bicara banyak hal; Kearifan lokal, toleransi, dan Cinta. 

Kesuksesannya di dunia musik tidak semulus kehidupannya. Hampir semua karyanya diberangus oleh pencabutan hak cipta lalu menjadikannya karya NN (No Name) sampai saat ini, " papar Ancu yang juga seorang acting coach alumnus IKJ.

Ho Eng Dji sempat diundang ke Istana Negara pada tahun 1950-an oleh Presiden Soekarno sebagai bentuk apresiasi atas kiprah HED lewat seni, membangun kerukunan umat beragama, bermasyarakat, dan berbangsa.
Sebagai bentuk apresiasi kepada seniman-seniman yang kadang terpinggirkan oleh pencatatan sejarah, film Ati Raja ini mencoba mengapresiasinya lewat biopic ini.

SINOPSIS;
Film ATI RAJA adalah film biografi seorang seniman  Ho Eng Dji.

Ia adalah seorang penyair dan musisi Makassar yang lahir di Kassi Kebo tahun 1906 dan wafat 1960 di Makassar. 

Dengan latar budaya kehidupan kaum Tionghoa peranakan yang hidup bergaul dengan harmonis dengan masyarakat Makassar.

Pada usia belia Baba Tjoi nama panggilan Ho Eng Dji  sempat mengenyam pendidikan rendah di sekolah partikelir milik orang melayu ince bau sandi di makassar. Di sekolah itu dia mengenal sastra melayu dan sastra Makassar serta belajar menulis lontara dan bahasa Makassar.
Ketika Baba Tjoi  menginjak usia remaja, ia menunjukkan bakat musik yang luar biasa bahkan ia mempopulerkan syair-syairnya melalui nyanyian dan musik daerah Makassar.
 
Pada tahun 1939 Ho Eng Dji memasuki studio rekaman “Canari” di Surabaya, pada kesempatan itu Ia merekam lagu-lagu Makassar ciptaannya.
Hingga tahun 1942, Ho Eng Dji berhasil menyelesaikan rekaman musik daerah Sulawesi Selatan (bukan hanya Makassar tetapi juga Bugis, Mandar, dan Selayar). Sebanyak 3 album piringan hitam dalam kurun waktu 4 tahun.

Sebelum pecah Perang Dunia Kedua (1945) rekaman lagu Ho Eng Dji berhasil terjual sebanyak 20 ribu keping yg pemasarannya tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Malaysia dan Singapura.

Lagu Ciptaannya yang populer hingga saati ini adalah adalah ATI RAJA, Sailong, Dendang-dendang,  Amma Ciang dan lain-lain sebagainya....

Sebagai manusia HED memiliki perjalanan hidup yang dinamis dengan berbagai lika-liku kehidupan. Ia berulang kali bekerja dalam bidang perdagangan tetapi pilihan hidupnya kemudiaan adalah bermain musik hingga akhir hayatnya. Meskipun ia tidak punya pendapatan tetap tetapi ia tidak pernah benar-benar melarat dan  kesulitan dalam halekonomi.
Kehidupan asmaranya diwarnai oleh beberapa orang gadis yang bembuat hatinya berbunga-bunga meskipun pada akhirnya ia harus mengalami kekecewaan yang berulang. Meskipun pada akhirnya Dewa Asmara mempertemukannya dengan seorang perempuan yang telah pernah berumah tangga dan memiliki tiga orang anak.....

Production Note;
---------------------------
Film ATI RAJA
Naskah Skenario/ Sutradara
SHAIFUDDIN BAHRUM

Produksi Bersama:
Persaudaraan Peranakan Tionghoa Makassar (P2TM) dan
786 Production.

Eksekutif Produser
Ir. ARWAN TJAHJADI

Produser  Pelaksana
ANCU AMAR

Pemeran Utama:
- Fajar Baharuddin, sebagai  Ho Eng Dji
- Jennifer Tungka,   sebagai  Soang Kie
- Stephani Vicky Andries, sebagai Ho Eng Gwee
- Chesya Tjoputra,   Sebagai Yang Tju 
- Goenawan Monoharto sebagai  Papa Ho Eng Dji
- Yatti Lisal  Sebagai Mama Ho Eng Dji
- Zulkifli Gani otto, Sebagai Gubernur Belanda

Pendukung Lainnya:
- Noufah A. Patajangi, Saenab Hasmar, Agung Iskandar,Wandy, Syahriar Tato, Kiki Hehanusa, dll.

DOP: Indra Lucky, Artistik: Deden Martinez, skenario: Shaifuddin Bahrum, Ancu Amar, dan Yudikatif Sukatanya

Naskah Cerita: Shaifuddin Bahrum