Anak Muda ASEAN; Berikan Solusi Masalah Sosial

Anak Muda ASEAN; Berikan Solusi Masalah Sosial

Anak Muda ASEAN; Berikan Solusi Masalah Sosial

Dalam kompetisi ASEAN Data Science Explorers 2018 di Singapura

Surabaya, Kabarindo- ASEAN Foundation dan SAP telah menyelenggarakan babak final tingkat regional kompetisi ASEAN Data Science Explorers (ADSE) di Singapura, yang menghasilkan tiga tim mahasiswa dari Singapura, Filipina dan Vietnam sebagai pemenang untuk solusi, wawasan dan data dalam memecahkan masalah sosial yang mendesak di kawasan ini.

Kompetisi tersebut menjangkau 5.000 anak muda di 175 institusi pendidikan tinggi di ASEAN untuk meningkatkan literasi digital mereka serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepemilikan yang lebih besar bagi masa depan ASEAN.

Jumlah peserta pada tahun ini naik tiga kali lipat dengan 801 tim mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu seperti ilmu politik, teknik dan arsitektur yang mengumpulkan wawasan yang dapat ditindaklanjuti dari data untuk menghasilkan solusi yang berdampak langsung pada bidang-bidang ilmu tersebut.

Para peserta mendapatkan pelatihan perangkat lunak SAP Analytics Cloud melalui serangkaian webinar dan seminar local. Mereka menggunakan keterampilan data yang baru diperoleh untuk mewujudkan enam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB. Yaitu (1) kesehatan dan kesejahtraan yang baik, (2) pendidikan berkualitas, (3) kesetaraan jender, (4) pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi, (5) industri, inovasi & infrastruktur (6) kota dan masyarakat yang berkelanjutan.

Tim Plan B dari Singapura yang beranggota Tay Kai Jun dan Madhumitha Ayyappan dari NUS High School of Math and Science menjadi juara tingkat ASEAN. Proyek mereka, ‘From Slumming to Sustainability’ bertujuan mendorong ASEAN untuk mengubah permukiman kumuh menjadi microcities yang berkelanjutan.

Tim Dimicrocambio dari Filipina yang beranggota Jade Hizon dan John Rusty Perena dari Nueva Ecija University of Science and Technology menjadi runner-up. Proyek mereka, 'Mengalibrasi ulang perangkat pendidikan melalui pendidikan kewirausahaan' berfokus pada bagaimana pendidikan kewirausahaan dapat memberdayakan siswa untuk mengubah ide mereka menjadi tindakan.

Sementara tim Pangolin dari Vietnam yang beranggota Nguyen Van Thuan dan Mai Thanh Tung dari RMIT University Vietnam meraih tempat ketiga untuk proyek mereka 'Menaklukkan Gelombang Perdagangan Global', yang membahas masalah perdagangan yang kurang beruntung, karena perbedaan kapasitas transportasi laut di antara negara-negara ASEAN.

Sedangkan tim mahasiswa OWL dari Universitas Bina Nusantara, Indonesia, mengaku senang telah ambil bagian dalam kompetisi ADSE serta belajar keterampilan dasar kepemimpinan, kerja tim dan yang paling penting teknologi digital. Willy Pratama dan Owen Gunawan mempresentasikan proyek perangkat lunak berjudul 'SMARCO,' kependekan dari 'Smart Circular Economy.'

SMARCO adalah platform yang memungkinkan perusahaan untuk berkolaborasi dengan rekan-rekan mereka dalam mengelola limbah yang dihasilkan. Inspirasi untuk proyek ini berasal dari inisiatif untuk mencegah kerusakan lingkungan akibat cara perusahaan memproses dan membuang limbah, kemudian menciptakan lingkungan industri yang lebih efisien. Berdasarkan analisis tim, mengoptimalkan teknik pengelolaan limbah dan mengurangi dampak lingkungan dapat menghemat dana hingga 590 juta dollar AS.

“Pendidikan adalah salah satu pilar dasar dari cetak biru integrasi dan pembangunan sosial ekonomi ASEAN. Untuk tujuan ini, inisiatif seperti ASEAN Data Science Explorers mempromosikan interaksi lintas batas dan mobilitas yang lebih besar di seluruh kawasan serta melengkapi kaum muda kita dengan keterampilan penting yang diperlukan untuk berkembang di masa depan yang semakin menantang dan disruptif,” kata Elaine Tan, Direktur Eksekutif ASEAN Foundation.

Penulis: Natalia Trijaji