A Man Called Ahok; Siap Tayang 08 November

A Man Called Ahok; Siap Tayang 08 November

Film A MAN CALLED AHOK  Untuk Keluarga Indonesia

XXI Epicentrum, Rasuna Said Jakarta, Kabarindo- Dalam waktu kurang dari dua hari lagi, film A Man Called Ahok karya sutradai Putrama Tuta akan siap tayang.

Hal ini terungkap pada acara press screening dan press conference film A Ma Called Ahok di Epicentrum XXI, di bilangan Kuningan Jakarta Selatan siang tadi.

Emir Hakim selaku produser film A Man Called Ahok mengungkapkan rasa syukurnya, bahwa seja peluncuran teaser-nya di YouTube pada September 2018 lalu, film ini memang mendapatkan cukup hanya perhatian dari masyarakat luas. 

”Film A Man Called Ahok ini akan diputar secara serentak di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia dan mula bisa ditonton oleh penonton pada 8 November 2018 besok lusa. Meski begitu, bagi kami kesuksesan utama film dilihat oleh keluarga Indonesia yang terinspirasi dari menonton film ini, bukan hanya dari banyaknya penonton," ungkapnya 

Dalam kesempatan tersebut pula, sutradara Putrama Tuta menceritakan tentang proses pembuatan film A Man Called Ahok yang terbilang cukup lancar. Sekitar 85% dari pembuatan film ini dilakukan di Gantung Belitung Timur, dan hanya dibutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun untuk menyelesaikan film, mulai dari proses diskusi, observasi, hingga eksekusi saat syuting. Lebih jauh lagi, ia menggali cerita dari buku karya Rudi Valinka dengan banyak cara. Mulai dari mendatangi Ahok di Mako Brimob, mendatangi rumah keluarga Ahok, orang-orang terdekat di keluarga Ahok, hingga masyarakat sekitar lingkungan rumah Ahok di Belitung Timur demi mendapatkan kedalaman emosi dari setiap tokoh dalam film ini. 

Namun dari banyaknya tokoh di dalam cerita, karakter dan drama hubungan antara Ahok dan ayahnya Kim Nam, menjadi fokus utama dari cerita. 

Kim Nam adalah pengusaha tambang di Belitung Timur yang dermawan sekaligus sosok ayah yang jujur dan teguh dalam pendirian. Keteguhan Kim Nam terhadap prinsip hidup yang diyakininya benar sering tidak sejalan dengan keinginan Ahok sebagai anak. Seiring berjalannya waktu, Ahok pun tumbuh menjadi dewasa dan sedikit demi sedikit mulai memahami nilai-nilai yang ditanamkan sang ayah sejak kecil. 

“Film A Man Called Ahok ini memang sebuah film drama. Artinya, film ini didesain untuk membuat para penontonnya tersentuh. Di film ini, saya juga menampilkan karakter Ahok dengan jujur namun dari sisi lain yang tidak diketahui oleh orang banyak, yaitu saat ia berada di tengah keluarga,” ucap pria yang sering disapa dengan panggilan Tuta ini. 

Film A Man Called Ahok sendiri adalah sebuah cerita tentang pembentukan karakter seorang anak yang dimulai dari keluarga. 

Film ini memiliki 2 latar waktu yang berbeda, sehingga ada 2 aktor untuk setiap tokoh yang dimainkan. Tokoh Ahok dimainkan oleh 2 aktor yaitu Daniel Mananta dan Eric Febrian, seorang putra asli Belitung yang berperan sebagai Ahok kecil. Sementara tokoh Kim Nam dimainkan oleh Chew Kin Wah dan Deny Sumargo sebagal Kim Nam muda. 

Director Statement Putrama Tuta “We died at the moment we stop trying to make a difference” 

Rasa bangga, kecewa, bahagia dan marah melihat situasi yang terjadi di tanah kelahiran membuat itu menjadi sempurna bagi saya sebagai pembuat film untuk bisa mengeluarkan suara dan menghapus perbedaan melalui gambar dan cerita yang dapat saya sajikan dengan tujuan membuat dampak sosial yang positif. 

Saya melihat Basuki Tjahaja Purnama adalah sebagai sosok fenomenal yang dicintai banyak orang dan dibenci oleh lebih banyak lagi. Bagi mereka yang mengetahui hal ini, mereka hidup di dalam bagian sejarah yang tercatat oleh seseorang yang bernama AHOK. 

ini bukan kisah mengenai politik. lni adalah sebuah cerita bagaimana sebuah karakter dapat terbentuk, apa yang membuat seorang Ahok menjadi sosok yang kita kenal saat ini. Karena itu, saya memilih bagian terpenting dari kehidupan manusia. Keluarga. 

Saya akan menggambarkan cerita ini tanpa mengurangi alasan dan maksud sebenarnya mengapa ide film ini dibuat. Semudah untuk berkaca pada sejarah, serta mengembalikan rasa untuk mencintai tanah air.

SINOPSIS ;

Basuki Tjahaja Purnama yang lebih dikenal dengan panggilan Ahok adalah anak sulung dan lima bersaudara. Ayahnya seorang 'tauke' di Bangka Belitong bernama Kim Nam dan ibu nya yang penyayang dan tegar bernama Buniarti. Masa kecil hidupnya bahagia dan tidak kekurangan, Bisnis ayahnya di pertambangan sangat baik, sampai suatu saat Kim Nam harus berhadapan dengan korupsi yang dilakukan oleh oknum, Kim Nam tidak mau memberi ”upeti” kepada oknum tersebut, dan bisnisnya perlahan mengalami kemunduran. Kehidupan Ahok yang tadinya serba kecukupan mulai menjadi sulit. 

Jiwa penolong Kim Nam menular kepada Ahok yang mau merelakan tabungan untuk bisa membantu orang lain. Kim Nam yang sudah antipati dengan keadaan korupsi di Bangka Belitong mengarahkan Ahok untuk menjadi dokter. Namun tak disangka Ahok mengambil keputusan lain sehingga mengakibatkan hubungan dengan Ayahnya menjadi dingin. 

Ahok dengan semangat yang masih menggebu mulai mengikuti langkah Kim Nam membuka pertambangan di Belitong dengan bermodalkan ilmu yang dipeiajafi saat kuliah. Kenyataannya Ahok harus berurusan langsung dengan Oknum yang sama dengan yang dihadapi Ayahnya, hingga perusahaannya harus gulung tikar, Dia pun memutuskan untuk kembali kuliah mengambil S2. 

Kim Nam kesal dan merasa bahwa keputusan Ahok mengambil S2 hanya untuk lari dari situasi dan juga Belitung. 

Selain situasi korupsi yang terus menerus menggerogoti ekonomi keluarga. Sebuah kejadian tragis, kematian anak bungsu Kim Nam membuat kesehatannya memburuk. 

Ahok yang sudah mendapat pekerjaan bagus di Jakarta pun harus pulang ke Belitong untuk mengurus perusahaan dan keluarga. Saat Ahok masih berjuang untuk melawan korupsi, ia mendapat pukulan yang telak dalam hidupnya ; Kim Nam meninggai dunia. 

Ahok bertekad untuk terjun ke dunia politik. Perjalanan Ahok di dunia politik diawali dengan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif untuk daerah Belitong ( DPRD). Sayangnya menjadi anggota DPRD saja belum bisa membuat Ahok menolong banyak warga. Bahkan Ahok seperti ”berjuang sendiri” untuk memberantas korupsi di Belitong. Hal ini yang membuat Ahok memutuskan untuk maju mencalonkan diri sebagai Bupati Belitong. Pada awalnya usaha Ahok mendapat respon positif dari warga. Hal ini menjadi ancaman tersendiri untuk oknum yang dari dulu banyak merugikan masyarakat Belitung. Oknum pun mulai melakukan cara-cara untuk menjegal Ahok menjadi Bupati. Semua hal itu tidak berhasil menggagalkan Ahok untuk menjadi Bupati. Ahok pun berhasil menjadi pemimpin yang baik di Belitong; sesuai dengan mimpi Kim Nam.