Yuk Tahu Kisah Mahasiswa Indonesia; Berlebaran Di Nagoya

Yuk Tahu Kisah Mahasiswa Indonesia; Berlebaran Di Nagoya

Jakarta, Kabarindo- Musim panas atau yang disebut natsu di Jepang bisa sampai 35 derajat celcius.

Dalam kondisi sepanas itu muslim Indonesia menjalani Ramadan dengan waktu puasa lebih lama satu jam dibanding di Indonesia.

Dalam keadaan seperti itu pula mereka harus rela merayakan lebaran jauh dari keluarga di Tanah Air.

Salah satu mahasiswa asal Indonesia, Firman, menyampaikan, sudah dua kali dirinya merayakan Idul Fitri di Jepang, tahun lalu ia merayakannya di Sizuoka, tetapi karena melanjutkan kuliah di Universitas Nagoya, kali ini ia berlebaran di Nagoya.

"Lebaran di Nagoya ini rasanya sepi banget, jarang ada orang Indonesia yang saya kenal," aku Firman melalui pesan Facebook, Selasa (29/7).

Tahun lalu, di Shizuoka, Firman memiliki banyak kenalan warga Indonesia, sehingga ia merasakan kecerian berlebaran di sana.

Di Nagoya, Firman bekerja arubaito (paruhwaktu) di mini market Seven Eleven. Hari lebaran yang bertepatan 28 Juli kemarin, Firman berangkat dari tempatnya bekerja ke Kinjou Futo dengan menggunakan privat railway seharga 600 Yen. Jarak dari Stasiun Nagoya ke Kinjou Futo menghabiskan waktu 25 menit dengan kereta.

Di Gedung Pertemuan Internasional di Kinjou Futo tempat ibadah shalat Ied dilaksanakan, terdapat ribuan umat Islam, yang setengahnya berasal dari Indonesia.

"Ada sekitar ribuan umat muslim yang menjalankan shalat Ied di Nagoya. Setengahnya adalah orang Indonesia dan selebihnya berasal dari Turki, Afrika, Pakistan, India, Prancis hingga Amerika," bebernya.

Karena lantai dua Gedung Pertemuan Internasional itu tak cukup menampung ribuan umat Islam yang melaksanakan shalat Ied di sana, beberapa orang, termasuk Firman, tak mendapatkan tempat dan memilih menunggu jema'ah selesai shalat lalu bersalam-salaman sebagai salah satu ritual lebaran.

"Tidak banyak orang yang saya kenal di sini, jadi saya hanya menyalami orang Indonesia yang saya kenal saja. Saya jadi merasa sedikit terasing dan kesepian," kata mahasiswa Indonesia asal Padang, Sumatera Barat tersebut.

Sepiring Opor Ayam seharga 200 Ribu Rupiah

Bagi kebanyakan umat Islam Indonesia, merayakan lebaran belum lengkap tanpa adanya ketupat dan opor ayam, termasuk muslim yang berada di perantauan luar negeri seperti Jepang. "Tak lengkap rasanya kalau tak makan ketupat," tambahnya sambil tertawa.

Tapi sangat disayangkan, karena belum berkeluarga, Firman mengaku, harus mencari restoran Indonesia yang terletak di Sake City untuk mendapatkan santapan khas lebaran tersebut. Bagi perantau Indonesia yang telah bekeluarga biasa membuat ketupat dan opor ayam sendiri di kediaman mereka.

"Beruntung, di restoran Indonesia yang bernama "Sama-sama" tersebut, kami menemukan ketupat, opor ayam, sambal dan teh manis, tetapi semuanya harus dibayar dua ribu yen atau kurang lebih setara 200 ribu rupiah," akunya.

Apa boleh buat, demi mengobati rasa rindunya terhadap nuansa Lebaran di Tanah Air, Firman pun mengatakan, membeli santapan lebaran tersebut. Selama lebaran, Firman mengaku tak berlibur ke mana pun selain menonton film yang sedang booming saat ini, yaitu "Godzilla".

Lebaran Jauh Dari Keluarga

Firman mengaku, cukup sulit menghubungi keluarganya yang berada di Tanah Air, pada saat lebaran, Senin (28/7) kemarin. "Jaringan telpon ke Indonesia lemah," imbuhnya. Tapi sebelum lebaran, ia mengatakan telah mengirimkan sebuah video ucapan Ied Mubarak kepada keluarganya di Indonesia melalui aplikasi Voip yang dibayarnya seharga 1800 Yen.

Firman hanyalah salah satu dari ratusan mahasiswa di Universitas Nagoya asal Indonesia yang merayakan iedul fitri di Jepang. Bagi Firman, tak ada yang lebih menggembirakan selain berlebaran di negeri sendiri bersama keluarga.

"Tahun depan maunya sih lebaran sama calon istri di Indonesia," pungkasnya seperti dilansir dari laman beritasatu.