Waspadai Bahaya Hepatitis C; Belum Ada Vaksin

Waspadai Bahaya Hepatitis C; Belum Ada Vaksin

Surabaya, Kabarindo- Kita mungkin sudah tahu dari mendengar atau membaca tentang bermacam penyakit hepatitis. Salah satunya Hepatitis C.

Namun kita mungkin belum benar – benar memahami tentang penyakit tersebut. Dr. Heru Wijono SpPD dari RS Husada Utama (RSHU) Surabaya menjelaskan tentang Hepatitis C, penularan dan cara pencegahannya.

Ia mengatakan, Hepatitis C adalah penyakit hati yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (HCV= Hepatitis C virus). Virus ini masuk ke sel hati menggunakan mesin genetik dalam sel untuk menduplikasi virus Hepatitis C, kemudian menginfeksi banyak sel lainnya.
Virus Hepatitis C ditularkan melalui kontak dengan darah penderita yang terinfeksi. Hal ini dapat terjadi saat menerima transfusi darah, produk darah atau organ cangkok. Juga dapat tertular melalui injeksi dengan alat suntik yang terkontaminasi, pemakai narkoba dan saat persalinan (ibu penderita hepatitis C). Selain itu dapat menular melalui hubungan seksual dengan penderita. Namun tak perlu khawatir karena virus ini tidak menular dengan bersentuhan, melalui makanan atau minuman.
Dr. Heru mengatakan, Hepatitis C  memiliki masa tunas 2 - 6 bulan. Pada 80% penderita tidak didapatkan gejala. Sebagian akan menderita demam, lemah badan, penurunan nafsu makan, mual, muntah, nyeri perut, kotoran berwarna seperti dempul, nyeri sendi serta kuning pada mata dan kulit.

“Hepatitis C dapat bervariasi mulai dari yang paling ringan, selama beberapa minggu sampai penyakit liver kronis, dapat menimbulkan sirosis atau kanker liver,” ujarnya pada Minggu (18/8).

Sekitar 75% - 85% penderita akan mengalami Hepatitis C kronis, dan 60% - 70% dari penderita Hepatitis C  konis akan berkembang penjadi penyakit liver kronis, 5% - 20% menjadi sirosis dan 1% - 5% tidak tertolong. Dari 25% kasus kanker liver, 25% diakibatkan Hepatitis C.

Sekitar 350.000 penderita meninggal setiap tahun karena penyakit ini. Hepatitis C tertinggi terjadi di Mesir (22%) diikuti Pakistan (4.8%) dan Cina (3.2%). Indonesia juga termasuk negara dengan jumlah penderita tinggi.

Menurut dr. Heru, virus Hepatitis C data diterapi dengan obat antivirus. Sayangnya hingga saat ini belum ada vaksin untuk virus ini, tetapi riset terus dilakukan.

Resiko infeksi bisa dikurangi dengan :

    Menghindari penyuntikan yang tidak diperlukan
    Hindari produk darah yang tercemar
    Cara pembuangan alat medis yang tepat
    Hindari pergaulan bebas
    Tato, tindik dan akupunktur harus selalu steril

WHO juga memberikan rekomendasi bagi penderita Hepatitis C melalui pendidikan dan konseling, imunisasi Hepatitis A dan B untuk mencegah infeksi ganda, terapi sedini mungkin dengan antivirus bila diperlukan dan pemantauan dini untuk kelainan liver kronis.

Dr. Heru menambahkan, pilihan terapi utama adalah kombinasi obat antiretrovirus dengan ribavirin. Sayangnya interferon tidak selalu terjangkau dan tidak selalu dapat diterima oleh badan penderita. Saat ini sedang dikembangkan obat baru yaitu telaprevir dan boceprevi yang lebih bisa diterima oleh penderita.