WTO Bali Adalah Sejarah; Raih Kesepakatan 159 Anggota

WTO Bali Adalah Sejarah; Raih Kesepakatan 159 Anggota

Bali, Denpasar, Kabarindo- WTO Bali 2013, telah usia.

Akhirnya, 159 anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bisa meraih kesepakatan yang bisa menjadi tonggak baru perekonomian dunia, dan prestasi yang diraih di Bali akhir pekan kemarin itu merupakan yang pertama dalam sejarah.

Delapan belas tahun silam, pembentukan WTO memberi harapan akan diambilnya langkah berani secara global untuk meningkatkan perdagangan dan keuntungan darinya. Namun, WTO justru menjadi simbol kebalikan dari harapan itu.

Cekcok yang tanpa henti antar para anggota telah menghalangi upaya meraih kesepakatan perdagangan bebas. Dan setelah tahun demi tahun berlalu, rangkaian kegagalan WTO menjadi tolok ukur sesuatu yang bertolak belakang — meningkatnya perlawanan terhadap perdagangan bebas dan keraguan bahwa menghapus hambatan dagang memang hal yang bagus buat dunia.

Sabtu lalu, paceklik itu berakhir sudah, dan perdagangan bebas bisa meraih kemenangan terbesarnya setelah bertahun-tahun. Seluruh 159 anggota WTO menyetujui paket inisiatif pro-perdagangan dan pembangunan untuk pertama kalinya dalam sejarah organisasi itu.

Inti perjanjian itu adalah perdagangan antar negara yang lebih mudah, lebih cepat dan lebih murah dengan memperlancar prosedur kepabeanan dan memangkas pungli di seluruh dunia. Perjanjian itu juga menawarkan akses yang lebih baik bagi negara kurang maju untuk merambah pasar negara-negara kaya. Meskipun tidak sepenuhnya mencerminkan perjanjian komprehensif awal WTO (yang dikenal sebagai Doha Round), Kamar Dagang Internasional memperkirakan kesepakatan di Bali akan membantu meningkatkan ekspor dunia sebesar US$ 1 triliun dan menciptakan 18 juta lapangan kerja baru di negara-negara berkembang.

Di luar angka-angka itu, kesepakatan yang diraih memberi gambaran kepada kita tentang wajah perekonomian dunia sekarang. Dalam beberapa dekade terakhir, kelihatannya tidak mungkin bahwa seluruh negara di dunia dengan berbagai kepentingan berbeda bisa menyepakati prinsip-prinsip dagang bersama, dan WTO makin lama menjadi makin tidak relevan. Negara-negara anggota yang frustrasi dengan tidak adanya kemajuan, berpaling ke perjanjian perdagangan bebas bilateral atau regional yang lebih mudah diwujudkan.

Kemenangan yang diraih di Nusa Dua Sabtu lalu membuktikan bahwa pendekatan internasional secara utuh atas masalah perdagangan adalah hal yang sebenarnya mungkin terwujud. Semangat kerjasama baru yang menular di konferensi WTO Bali itulah yang memungkinkan diraihnya kesepakatan. Setelah berbulan-bulan terlibat debat sengit, kompromi di menit terakhir antara Amerika Serikat dan India tentang program ketahanan pangan yang kontroversial bisa membuka jalan menuju kesepakatan yang lebih besar.

Keberhasilan WTO juga menaikkan harapan bahwa semangat kerjasama seperti ini akan menular ke perjanjian-perjanjian dagang lainnya yang tengah dirundingkan. Gedung Putih saat ini mengejar dua perjanjian besar, satu dengan Uni Eropa dan satu lagi dengan negara-negara Pasifik yang disebut Trans-Pacific Partnership. Jika dua tujuan ini terwujud, itu akan menjadi yang terbesar sejak Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara 20 tahun silam.

Yang paling penting, kesepakatan WTO di Bali menunjukkan kalau perilaku global terhadap perdagangan bebas mungkin sedang bergeser ke arah positif. Sebelumnya, pendapat bahwa perdagangan bebas menguntungkan semua orang telah menjadi pertanyaan besar, ketika negara-negara kurang maju hanya mendapatkan pekerjaan industri sepele dari negara-negara industri di Barat.

Negara-negara kekuatan ekonomi baru juga yakin bahwa mereka tidak mendapatkan keuntungan yang layak dari kesepakatan perdagangan bebas untuk proses pembangunan sendiri. Sekarang tampaknya keseluruhan ide perdagangan bebas mendapatkan jalannya kembali. Prospek adanya peningkatan ekspor dan lapangan kerja, dan juga kesepakatan-kesepakatan dagang lain, akan memberi harapan baru pada perkeonomian dunia yang masih terpuruk setelah krisis finansial 2008 seperti dilansir dari laman beritasatu.