Unilever Raup Laba Rp 5, 73 T; Tumbuh 7%

Unilever Raup Laba Rp 5, 73 T; Tumbuh 7%

Jakarta, Kabarindo- Tahun lalu, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) berhasil meraup laba bersih sebesar Rp 5,73 triliun, naik 7 persen dari perolehan laba sebelumnya Rp 5,35 triliun.

Naiknya laba bersih perseroan ditunjang oleh tumbuhnya penjualan bersih perseroan 12,22 persen menjadi Rp 34,51 triliun. Sebelumnya, pada 2013 penjualan bersih perseroan tercatat sebesar Rp 30,75 triliun.

Bisnis Unilever dikelompokkan ke dalam dua kategori utama, yang terdiri dari kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh. Sedangkan kategori kedua, makanan dan minuman. Kategori tersebut mencakup semua barang konsumsi yang berkaitan dengan produk makan dan minuman, tertutama es krim, yang menjadi produk unggulan perseroan.

Adapun kategori kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh tercatat menyumbangkan kontribusi terbesar bagi penjualan bersih perseroan, yaitu sebanyak 71,37 persen dari total penjualan bersih. Sisanya, berasal dari penjualan makanan dan minuman.

“Total penjualan kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh 2014 mencapai Rp 24,63 triliun. Sedangkan untuk makanan dan minuman sebesar Rp 9,87 triliun,” ungkap manajemen, melalui laporan keuangan Unilver yang dirilis di Jakarta, Senin (30/3).

Seiring dengan meningkatnya penjualan bersih, harga pokok penjualan pun naik 16,3 persen, dari RP 14,97 triliun menjadi Rp 17,41 triliun. Sedangkan laba kotor (bruto) perseroaan mencapai Rp 17,09 triliun, naik 8,37 persen dari setahun sebelumnya, Rp 15,77 triliun.

Peningkatan serupa sebesar 8,37 persen pun terjadi pada laba usaha Unilever, yang tumbuh dari Rp 7,16 triliun menjadi Rp 7,76 triliun. Posisi laba bersih per saham perseroan per 31 Desember pun meningkat 7,27 persen, dari Rp 701 menjadi 752.

Sementara itu, posisi aset Unilever per akhir tahun lalu tercatat sebesar Rp 14,28 triliun, naik 12,44 persen dibandingkan 2013, sebesar Rp 12,7 triliun. Jumlah aset tersebut seimbang dengan total liabilitas dan ekuitas perseroan, yaitu Rp 4,28 triliun per 31 Desember 2014.

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat Unilever termasuk ke dalam 10 emiten yang memiliki kapitalisasi terbesar. Perseroan kesembilan emiten lainnya adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra Internasional Tbk (ASII), PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) .

Saat ini, Unilever tengah menyelesaikan pembangunan pabrik oleochemichal di kawasan ekonomi khusus (KEK) Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Sesuai rencana, perseroan menargetkan pabrik tersebut dapat beroperasi pada kuartal I – 2015. Total produksi ditasksir mencapai 200 ribu ton per tahun.

Sekretaris Perusahaan dan Direktur Unilever Indonesia, Sancoyo Antarik pernah mengatakan, mayoritas total produksi akan dialokasikan untuk pasar ekspor. Namun perseroan tetap akan memprioritaskan pasokan pasar domestik.

“Nantinya, jika awal 2015 sudah dapat memproduksi, sekitar 15 – 20 persen produksi dialokasikan untuk kebutuhan dalam negeri, sementara sisa 80 persen akan diekspor ke sister company di Asia, Eropa, dan Amerika Latin,” katanya..

Untuk membangun pabrik oleochemical, produsen barang konsumer ini mengucurkan investasi sebesar Rp 2 triliun. Angka tersebut meningkat dari rencana investasi semula sebesar Rp 1,4 – 1,5 triliun. Sejauh ini, perseroan telah menggelontorkan investasi senilai Rp 8,5 triliun seperti dilansir dari laman beritasatu.