USAID PRIORITAS Latih Puluhan Fasilitator Nasional; Dari 7 Provinsi

USAID PRIORITAS Latih Puluhan Fasilitator Nasional; Dari 7 Provinsi

Surabaya, Kabarindo- USAID PRIORITAS telah melatih puluhan fasilitator nasional dari Aceh, Sumatra Utara, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan di Yogyakarta baru-baru ini.

Mereka adalah fasilitator pembelajaran SD/MI dan SMP/MTs yang memiliki kemampuan mengamati serta mengidentifikasi kekuatan dan masalah dalam pembelajaran. Juga memikirkan alternatif pemecahan masalah dan menerapkannya dalam kegiatan pendampingan guru.

Menurut Direktur Program USAID PRIORITAS, Stuart Weston, banyak fasilitator yang masih sulit menemukan hal-hal yang baik dan masalah dalam proses pembelajaran yang mereka dampingi. Mereka mengalami kesulitan memberi masukan untuk perbaikan pembelajaran.

“Untuk itu, kami melatih fasilitator agar mampu mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam pembelajaran serta melakukan pendampingan terhadap guru dari hasil pengamatan,” ujarnya dalam rilis yang diterima dari USAID PRIORITAS pada Rabu (28/9/2016).

Peserta dilatih mengamati proses pembelajaran melalui 7-8 tayangan video, kemudian mereka membahas kekuatan atau permasalahan yang terjadi dalam proses pembelajaran pada video. Berikutnya, mereka mendiskusikan pemecahannya. Hasil temuan kekuatan dan permasalahan pembelajaran dalam kelompok kecil dibagi di kelompok pleno. Fasilitator juga dibekali keterampilan melakukan pendampingan dengan pertanyaan-pertanyaan bersifat menggali agar guru menjadi praktisi yang reflektif.

Menurut spesialis pelatihan guru USAID PRIORITAS, Ujang Sukandi, ada tiga hal penting yang semestinya dilakukan fasilitator dalam mendampingi pembelajaran. Pertama, beri kesempatan guru untuk memberikan komentar terhadap pelaksanaan pembelajaran yang dilakukannya. Lalu beri apresiasi kepada guru terhadap hal-hal positif dalam pembelajaran. Hal ini penting untuk memberi motivasi kepada guru agar lebih berani melakukan inovasi.

Kedua, minta kepada guru menyampaikan refleksinya terkait hal-hal yang penting dalam pembelajarannya. Ketiga, minta guru untuk memikirkan perbaikan pembelajaran, kemudian tawarkan ide perbaikan atau pengembangan. Misalnya tentang penugasan yang diberikan kepada siswa, pengelolaan kelas dan pertanyaan yang diajukan kepada siswa.

“Sekali proses pendampingan ini dapat dilaksanakan dengan baik, guru bisa membuat perencanaan perbaikan atau pengembangan pembelajaran berdasarkan hasil identifikasi kekuatan dan masalah untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelas,” kata Ujang.

Pada hari terakhir pelatihan, peserta diajak mempraktikkan keterampilan identifikasi kekuatan dan masalah tersebut serta keterampilan pendampingan di sekolah, yaitu di SDN Ngoto dan SMPN 5 Sleman, Yogyakarta. Mereka mengamati kegiatan pembelajaran di kelas dan mempraktikkan kegiatan pendampingan kepada guru yang mengajar.

Roro SuindahWijayanti, fasilitator guru SMPN 4 Lumajang, menuturkan pelatihan ini mengasah kemampuannya mengidentifikasi keberhasilan dan permasalahan dalam pembelajaran, terutama untuk membuat guru yang didampingi menjadi lebih terbuka untuk melakukan perbaikan pembelajaran.

Tedy Mulyana, guru Matematika SMPN 1 Cibarusah, Bekasi, yang melakukan praktik menjadi guru terdamping, merasa menemukan teman berbagi untuk meningkatkan proses pembelajaran. Ia mengatakan, perubahan strategi pengelompokan perlu ditempuh. Misalnya dibentuk kelompok 3-4 siswa agar komunikasi kelompok lebih intensif dan peluang partisipasi siswa lebih terbuka.

Para fasilitator nasional tersebut akan melatih fasilitator kabupaten/kota melalui ToT provinsi, yang kemudian akan melatih lebih dari 1.000  fasilitator daerah yang dipersiapkan untuk melatih para guru sekolah mitra melalui forum KKG atau MGMP.

Para fasilitator yang terdiri dari unsur guru, kepala sekolah dan pengawas yang selama ini konsisten menerapkan pembelajaran aktif, diharapkan selalu mengembangkan komunitas belajar secara terus menerus. Bila hal ini dilakukan konsisten, maka guru akan menjadi pembelajar sepanjang hayat dan terjadi perbaikan proses pembelajaran secara berkelanjutan.