USAID PRIORITAS; Latih 100 Fasilitator Dari 8 Kabupaten

USAID PRIORITAS; Latih 100 Fasilitator Dari 8 Kabupaten

Malang, Kabarindo- USAID PRIORITAS memberikan pelatihan kepada pelatih propinsi Jatim untuk fasilitator SD/MI gelombang I modul 2 di Malang pada 23-27 Agustus.

Kegiatan tersebut diikuti 100 fasilitator dari unsur guru, kepala sekolah dan pengawas yang bertugas sebagai fasilitator USAID PRIORITAS di 8 kabupaten di Jatim.

Para peserta kemudian mempraktikkan hasil pelatihan kepada siswa di sekolah-sekolah antara lain di SDN Percobaan 2 dan SMP Lab. Universitas Negeri Malang untuk pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA.

Salah satu peserta, Anwari Anwar, guru Bahasa Indonesia dari SMPN I Bangkalan, Madura, mempraktikkan hasil pelatihan di SMP Lab. Ia membagi siswa di kelas 7C menjadi 6 kelompok masing-masing terdiri dari 8 siswa serta mengajak mereka untuk berdiskusi tentang perbedaan observasi dan deskripsi. Wakil dari tiap kelompok kemudian mempresentasikan hasil diskusi kepada teman-teman mereka.

Menurut Anwari, sekolah tempat ia mengajar di Bangkalan sudah menerapkan pembelajaran yang interaktif antara guru dan siswa. Cara ini akan ditingkatkan dengan hasil pelatihan yang diperolehnya di Malang.

“Pembelajaran seperti ini membuat siswa lebih aktif, kreatif dan percaya diri dalam mempresentasikan hasil pekerjaan mereka. Dulu sistem pembelajaran hanya searah. Guru hanya menerangkan, tapi siswa belum tentu mengerti. Sekarang siswa juga diajak berdiskusi sehingga mereka lebih mudah menyerap materi pelajaran,” ujarnya.

Seorang guru lain, Evi Eliana, peserta pelatihan dari MTs di Mojokerto, mempraktikkan pembelajaran di kelas 8F di SMP Lab. Ia mengatakan, semula para siswa di kelas ini enggan mengikuti materi yang diajarkannya. Namun setelah ia mempraktikkan pembelajaran dengan cara menyenangkan yang mengajak siswa untuk aktif, mereka jadi antusias.

“Saya mengajak mereka belajar dengan cara yang fun. Mereka saya minta berdiskusi dan membuat lembar presentasi. Ternyata mereka antusias,” ujarnya.

Salah seorang siswa, Eka Rositha, mengatakan ia senang dengan cara pembelajaran tersebut karena siswa diajak aktif. Ia dan teman-temannya bisa berdiskusi, juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada guru.

Menurut kepala sekolah SMP Lab., Dwi Haryoto, pihaknya sudah lama menerapkan sistem pembelajaran demikian meskipun tidak rutin. Ia berjanji akan meningkatkan intensitas pembelajaran demikian agar siswa lebih mudah menyerap pelajaran.

“Dari hasil pantauan, siswa memang lebih menyukai pelajaran yang diberikan guru yang interaktif,” ujarnya.