The Philosophers; Film Hollywood Yang Memotret Indonesia

The Philosophers; Film Hollywood Yang Memotret Indonesia

Jakarta, Kabarindo- Berjudul berbeda After The Dark.

Tapi tetap saja sama dengan The Philosophers yang lokasi syutingnya di Indonesia yang terkenal dengan keindahan alamnya.

Dari arahan sineas film Hollywood, John Huddles yang bekerja sama dengan sineas Indonesia menyajikan panorama pariwisata Tanah Air yang memperlihatkan pemandangan dengan pesonanya.

Film hasil kerja sama PT Surya Citra Televisi (SCTV) dengan Olive Branch Productions ini mengambil lokasi gambar berada di sejumlah tempat wisata yang terkenal di Indonesia. Misalnya Pulau Belitung (Bangka Belitung), Gunung Bromo (Jawa Timur), Candi Prambanan (Yogyakarta), hingga berakhir di kawasan Monumen Nasional, Jakarta.

CEO Surya Citra Media (SCM) Sutanto Hartono mengatakan pihaknya bersedia berinvestasi untuk biaya produksi The Philosophers karena mengambil lokasi syuting di Indonesia. Dengan begitu, kultur, kekayaan dan keindahan Indonesia diperkenalkan ke pentas dunia lewat film.

Film ini sudah bisa disaksikan di bioskop Tanah Air mulai sejak kemarin, Kamis (12/6).

“Ide film dari Huddles hadirkan konsep unik dengan menggali kultur dan kekayaan Indonesia. Eksposenya lebih maksimal dibanding film-film lain yang sebagian syuting di Indonesia. Sinematografinya menggugah untuk target penonton anak muda. Indonesia punya potensi tenaga kreatif. Kalau kita dukung tim Hollywood dengan tenaga lokal, maka cost production lebih murah,” ungkapnya bangga di Senayan City, Jakarta.

Sebelum diputar di Indonesia, film The Philosophers terlebih dahulu tayang di pasar internasional. Responsnya pun cukup bagus, dengan raihan penonton yang besar di kawasan Eropa Timur. Pihaknya memang lebih fokus untuk mengedarkan film ke pasaran luar.

Sineas Indonesia yang terlibat dalam film ini, Wicky Olindo, menjelaskan bahwa lewat pembuatan film The Philosophers, sineas Indonesia banyak belajar teknis pembuatan film kepada sineas Hollywood. Apalagi sebelumnya film ini telah tayang di beberapa negara.

“Di banyak negara film ini dikenal dengan judul After the Dark. Film bergenre thriller psikologis ini memiliki latar fiksi ilmiah. Selain menjadi sutradara, John Huddles juga merupakan penulis skenarionya. Jadi proses belajarnya luar biasa dan menampilkan wajah Nusantara pada film Hollywood,” katanya.

Proses pengambilan gambarnya dimulai pada pertengahan 2011 selama tujuh pekan. Sebelumnya sutradara John Huddles mengatakan bahwa tema utama filmnya adalah multikulturalisme. Sedangkan kisahnya tentang tantangan untuk memulai kembali spesies manusia pasca terjadinya kiamat nuklir.

“Dalam film drama fantasi yang berdurasi 107 menit ini terdapat siswa dari mancanegara seperti Turki, Iran, Australia, Afrika, Kanada, Amerika Serikat, dan Inggris serta Indonesia. Inilah negara yang aset sinematiknya mengingatkan para sutradara film betapa beruntungnya mereka mendapatkan pekerjaan ini. Saya tak henti-hentinya bersyukur,” ucap Huddles mengenai Indonesia.

Sejumlah bintang Hollywood turut memperkuat film ini. Mereka adalah Sophie Lowe, Rhys Wakefield (Sanctum), Bonnie Wright (franchise Harry Potter), James D’Arcy (Cloud Atlas), Daryl Sabara (Spy Kids), Freddie Stroma (Harry Potter), dan Katie Findlay. Bintang blasteran Jerman-Indonesia, Cinta Laura Kiehl juga ikut bermain sebagai Utami. Hal ini menjadi debut karier akting internasionalnya.

Kisah dimulai dari sebuah sekolah internasional di Jakarta. Seorang guru filsafat menantang kelasnya yang terdiri dari 20 siswa senior. Mereka harus memilih 10 di antara mereka yang akan berlindung di sebuah bunker dan memulai kembali peradaban manusia setelah terjadinya kiamat nuklir.

The Philosophers masuk dalam kompetisi di Neuchatel International Fantastic Film Festival, 7 Juli 2013. Selanjutnya masuk dalam Fantasy FilmFest, 21 Agustus 2013. Di Amerika Serikat, Kanada, Hong Kong dan sejumlah negara Eropa film ini sudah beredar.

Sebelumnya, film drama Hollywood yang mengambil lokasi syuting di Indonesia adalah Eat, Pray & Love yang dibintangi Julia Robert (2010). Salah satu ceritanya berlokasi di Ubud, Bali. Disusul kemudian Savages (2012) di Sumbawa dan Alex Cross (2012) di Bali.