The Last Wedding On Earth; Jadi Karya Gres Joko Anwar

The Last Wedding On Earth; Jadi Karya Gres Joko Anwar

Menteng, Jakarta, Kabarindo- Pasca terpilih dari beberapa sineas Asia Pasific dalam acara Hong Kong Asia Film Financing Forum.

Anda pasti yang sudah terperangah dan takjub dengan puluhan penghargaan dari Modus Anomali dari luar negeri ataukah film sebelumnya Pintu Terlarang.

Joko Anwar memang sudah mencuri perhatian dunia tidak saja nasional pasca deklarasi Indonesia Motion Pictures Association - IMPAS sebagai 'otak' bersama rekannya Wulan Guritno sempat ditemui oleh redaksi.

Joko bersama dengan sineas Ifa Isfansyah dengan proyek film "Pendekar Tongkat Emas"nya,  Ajang pendanaan film "Hong Kong Asia Film Financing Forum" juga memilih proyek film karya sineas Indonesia lainnya, Joko Anwar.

HAF yang sukses beberapa bulan yang lalu adalah sebuah program tahunan di mana para sineas bisa berkompetisi untuk mendapatkan award, mencari rekanan co-production, serta mencari pendanaan dari investor yang datang ke ajang ini. Tahun ini sudah memasuki kali ke-11.

Joko Anwar  saat film Modus Anonalinya di buatkan video klipnya untuk inovasi sinema baru dari Blitz Megaplex untuk studio 4DX, ia menyampaikan rencana peluncuran film The Last Wedding on Earth.

Berbeda dengan tiga film Joko Anwar sebelumnya yang bergenre thriller (Kala, Pintu Terlarang, dan Modus Anomali), film "The Last Wedding on Earth" mengusung genre drama komedi seperti film debut Joko Anwar di tahun 2005, Janji Joni.

The Last Wedding on Earth sendiri mengisahkan tentang seorang pria yang selalu bermimpi untuk menjadi seorang Sutradara film. Namun sayangnya cita-citanya tersebut belum dapat terwujud dan Ia saat ini hanya bekerja sebagai seorang sutradara (videographer) pernikahan. Walaupun begitu, dalam profesinya ini Ia selalu mengerjakan setiap video pernikahan ibarat membuat sebuah proyek film dokumenter dengan serius. Ia merekam setiap detil, warna, dan juga drama dalam videonya.  

Sinopsis:

Suatu hari, ia diminta oleh seorang kawan lamanya, anak dari keluarga terpandang dan kaya raya, untuk merekam acara pernikahannya termasuk seluruh persiapannya.  Selama melakukan proses syuting, ia baru mengetahui bahwa keluarga ini sebenarnya tidaklah se-"terhormat" seperti yang yang orang-orang lihat dari luar.

Saat videonya selesai ia kerjakan, hasilnya menjadi sebuah dokumenter penuh 'kekacauan' yang sangat menarik. Ia kemudian mendaftarkan film tersebut ke festival film yang lantas  berakhir dengan perkara hukum dan drama yang lebih 'gila'.

Film ini akan diproduksi dibawah bendera "Lo-Fi Flicks", sebuah rumah produksi milik Joko Anwar, Tia Hasibuan (Produser film Fiksi dan Don't Talk Love dari Mouly Surya), dan Uwie Batas. Sebelumnya mereka telah bekerjasama dalam film pendek Joko Anwar "Suncatchers", dan "Grave Torture".

Untuk mewujudkan proyek film ini, diperkirakan filmnya akan membutuhkan bujet produksi sekitar $303.124 (Sekitar 3 Milyar Rupiah), sementara dana yang terkumpul saat ini baru $26.042.


Awesome.................!