The 9th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF); Resmi Dibuka

The 9th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF); Resmi Dibuka

Jakarta, Kabarindo- Festival film bertaraf Internasional yang tiap tahun digelar di Yogyakarta ini, tadi malam (01/12) resmi dibuka dan akan berlangsung 1 – 6 Desember 2014.

Pada pelaksanaannya di tahun ke-9 ini, JAFF  mengangkat tema Re-Gazing at Asia, dan digelar di beberapa tempat  yaitu di Empire XXI, Taman Budaya Yogyakarta, Bentara Budaya Yogyakarta, dan beberapa desa di Yogyakarta.


Yogyakarta, 1 Desember 2014. Sekitar pukul 20:00 WIB, seremoni pembukaan The 9th Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dibuka di Empire XXI dengan sambutan dari Japan Foundation yang diwakili oleh Nurul Qomari. Jepang dalam pelaksanaan JAFF tahun ini memang mendapatkan tempat khusus sebab negara inilah terpilih untuk Program Asian in Focus di festival ini.

Program Asian in Focus sendiri adalah sebuah program yang tiap tahunnya film-film dari suatu negara di Asia yang memiliki pencapaian yang layak dicatat, memutarnya untuk memberikan apresiasi yang tinggi. Serta tak ketinggalan mengundang pelaku film dari negara tersebut untuk diskusi dengan para penggerak film Indonesia.

Festival Director, Budi Irawanto, mendapatkan kesempatan berikutnya memberikan sambutan dengan menjelaskan bagaimana posisi JAFF sebagai sebuah festival film yang dipandang penting oleh negara-negara Asia. Ini terbukti ada lebih dari 300 film yang mendaftarkan diri untuk turut serta dalam festival ini, yang kemudian setelah melalui proses seleksi, terpilih 75 film dari 18 negara.

Pada sambutannya ini pula, Budi Irawanto menjelaskan, “JAFF ini lahir dari semangat berkomunitas, sehingga semangat tersebut akan terus dibawa dan dijaga.  Oleh terima kasih pada para volunteer.  karena JAFF bisa berjalan hingga tahun ke-9 ini berkat peran mereka.”

Untuk itu, para volunteer kemudian diundang ke panggung untuk mendapatkan ucapan terima kasih langsung dari Festival President, Garin Nugroho.

Dalam kesempatan yang sama, Garin Nugroho memberikan penghargaan pada David Hanan dari Australia, yang selain menjadi juri pada festival ini, juga merupakan seorang tokoh pemerhati perfilman Indonesia dan sedang menyusun sebuah buku tentang Indonesia.

Mengenai JAFF tahun ini, Garin Nugroho menyatakan,”JAFF sudah menginjak pelaksanaan yang ke-9, dalam falsafah Jawa angka itu adalah angka tertinggi. Sehingga setelah angka sembilan, hitungan akan mulai lagi dari awal. Oleh karena itu, diharapkan setelah tahun ini, pelaksanaan JAFF akan menginjak tahapan baru pada pelaksanaan ke-10, tahun depan.”

Papermoon Puppet Theatre turut memeriahkan pembukaan JAFF ini dengan penampilan mereka yang tak pernah gagal membuat para penonton terkesima dan terpana. Tidak berhenti di situ saja, ternyata kemudian Papermoon Puppet Theatre mengakhiri penampilannya dengan turun dari panggung kemudian “menuntun” para penonton menuju tempat pemutaran opening film.

“Like Father Like Son” sebuah film Jepang karya sutradara Hirokazu Koreeda terpilih sebagai opening film JAFF tahun ini. Pemilihan film ini selain sebagai bagian dari Program Focus on Asia yang menyoroti Jepang, juga karena tema film ini bertutur tentang masalah keluarga di ranah domestik yang selama ini secara stereotipikal dianggap ranah perempuan, namun digarap oleh sutradara pria.

Antusiasme masyarakat atas pembukaan JAFF ini terlihat dengan membludaknya para penonton film pembuka, yang tercatat hampir menyentuh angka 300 orang penonton, dan dengan sangat berat hati tidak dapat melayani para calon penonton lain karena tiket untuk menonton pertunjukkan ini sudah habis. Meskipun demikian “Like Father Like Son” masih dapat dinikmati pada pemutaran berikutnya, pada 4 Desember 2014, pukul 13:15 di Empire XXI.

Dengan dibukanya JAFF kemarin malam, maka untuk 6 hari ke depan diharapkan masyarakat dapat turut berfestival, bersuka ria, dan merayakan film-film Asia terpilih yang ditayangkan di Yogyakarta.

Selain pemutaran film di Empire XXI mulai pukul 10:00 WIB dan di Taman Budaya Yogyakarta mulai pukul 12:00 WIB, agenda acara JAFF lainnya untuk hari ini  (2/12) adalah:

Forum Komunitas yang menampilkan Paguyuban Filmmaker Yogyakarta, dan Komunitas Gresik Movie di Taman Budaya Yogyakarta yang dimulai pukul 10:00 - 12:00 WIB WIB

Public Lecture bertema Women Perspective on Cinema dengan pembicara David Hanan (Researcher, Australia), Novi Kurnia (Researcher, Indonesia), Olin Monteiro (Writer – Editor – Documentary Producer, Indonesia), dan dimoderatori Dyna Herlina (Researcher, Indonesia) di Bentara Budaya Yogyakarta pukul 10:00 - 12:00 WIB

Kemudian masih di lokasi yang sama, pada pukul 12:00 - 14:00 WIB, Public Lecture dilanjutkan dengan tema A for Asia oleh In-Docs, STEPS International, Ford Foundation, DocNet Southeast Asia. Pembicara pada kesempatan ini adalah Amelia Hapsari (InDoc Indonesia) dan dimoderatori oleh  Suluh Pamuji (Programmer JAFF).

Sementara itu malam hari pukul 19:30 - 21:30 di Desa Sidoakur digelar Open Air Cinema yang memutar film-film: Lemantun – Wregas Bhanuteja (Indonesia), dan Layu Sebelum Berkembang – Ariani Djalal (Indonesia).

INFORMASI UMUM:
HARGA TIKET MASUK
Untuk tahun ini mulai diperkenalkan sistem pembelian tiket  seharga Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) untuk pertunjukkan di Empire XXI dan Taman Budaya Yogyakarta. Pertunjukkan film di luar kedua lokasi tersebut, yaitu di Open Air Cinema, tetap gratis dan terbuka untuk umum.

ASIAN FEATURE
Adalah pemutaran sekaligus kompetisi bagi film-film panjang Asia. Program ini menganugerahi Golden Hanoman, Silver Hanoman, dan Geber Award bagi film panjang terbaik Asia.

LIGHT OF ASIA
Program khusus untuk penggiat film-film pendek Asia baik eksebisi maupun kompetisi. Award untuk kompetisi ini adalah Blencong Award.

ASIAN IN FOCUS
Memilih film-film dari suatu negara di Asia yang memiliki pencapaian yang layak dicatat, lalu memutarnya untuk memberikan apresiasi yang tinggi. Serta tak ketinggalan mengundang pelaku film dari negara tersebut untuk diskusi dengan para penggerak film Indonesia. Jepang adalah negara yang terpilih untuk program Asian in Focus tahun ini dengan menyuguhkan 7 film yaitu Like Father, Like Son (Koreeda Hirokazu), Jinsei Irodori (Osamu Minorikawa),
Tamako In Moratorium (Nobuhiro Yamashita), Fukuchan Of Fuku-Fuku Flats (Yosuke Fujita),  Leaving On The 15th Spring (Yasuhiro Yoshida), Japan’s Tragedy (Masahiro Kobayashi), dan That Night’s Wife Director (Yasujiro Ozu).

THE NEW FACES OF INDONESIAN CINEMA TODAY
Program pemutaran khusus film-film Indonesia yang dipilih berdasarkan keberanian para pembuat film tersebut menyentuh ranah yang berbeda; baik dalam konteks dan tema cerita yang dipilih ataupun pilihan estetika yang berani dan segar, berjejak pada kondisi sosial budaya yang unik dan beragam.

STUDENT AWARD
Merupakan sebuah program yang baru di pelaksanaan tahun ini, di mana pada program ini memberikan kesempatan pada para mahasiswa dari ISI Yogyakarta, MMTC, AMIKOM, AKINDO, AKRB, dan Jogja Film Academy menonton kemudian memberikan penilaian secara argumentatif film-film pendek yang dikompetisikan. Hasil dari penilaian tersebut untuk diwujudkan dalam bentuk penghargaan berupa Student Award ini.

Juri yang terlibat dalam penyelenggaraan tahun ini terbagi atas empat kelompok, yaitu:
1.    Juri JAFF (Hanung Bramantyo, Olin Monteiro, Makbul Mubarak)
2.    Juri NETPAC (Yosep Anggi Noen, Francis Joseph Cruz a.k.a Oggs Cruz, David Hanan)
3.    Juri Film Komunitas (Astu Prasidya, Bambang Kuntoro Murti a.k.a Video Robber, Alia Damaihati)
4.    Juri Film Pendek (Kamila Andini, Osamu Minorikawa, Derek Tan)

Selain program-program utama tadi, JAFF menawarkan pula kegiatan-kegiatan khusus lain yaitu:

OPENING/CLOSING NIGHT
Malam pembukaan dan penutupan yang dikemas berbeda dan spesial karena beberapa kesenian lokal akan dihadirkan sebagai pengisi acara.

PUBLIC LECTURE
Merupakan salah satu karakter JAFF yang tidak melulu fokus pada pemutaran film, namun juga diselenggarakan forum diskusi/seminar tentang sinema Asia dan Indonesia.

OPEN AIR CINEMA
Kegiatan ini adalah menyelenggarakan pemutaran film di beberapa desa di sekitar Yogyakarta, dengan cara mendirikan layar tancap. Sehingga film-film populer yang menghibur rakyat pada kegiatan ini akan langsung menyapa penduduk di empat desa yang telah dipilih tahun ini, yaitu Giriloyo, Nitiprayan, Sidoakur, dan Banyusumilir.

COMMUNITY FORUM
JAFF tumbuh dan besar karena kekuatan komunitas, karenanya disetiap
penyelenggaraannya JAFF selalu mengundang komunitas film dari berbagai daerah untuk saling berinteraksi dan mempresentasikan perkembangan komunitasnya.

FESTIVAL CORNER
Festival Corner adalah ruang bagi komunitas-komunitas selain komunitas film untuk turut serta menterjemahkan film ke dalam berbagai bentuk karya seni lain.