Terowongan Tambang Batu Bara Mbah Soero; Jadi Tujuan Wisata

Terowongan Tambang Batu Bara Mbah Soero; Jadi Tujuan Wisata

Sawahlunto, Kabarindo- Pemerintah Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, menyiapkan dana sedikitnya Rp3 miliar untuk membuka rute wisata di bekas terowongan tambang batu bara "Mbah Soero".

"Tahun depan pengerjaan perpanjangan rute itu Insya Allah sudah bisa kami mulai," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto, Efriyanto, Selasa.

Hampir setiap hari terowongan tambang batu bara yang mempekerjakan pekerja paksa (rodi) pada era pemerintah kolonial Hindia Belanda itu ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada akhir pekan dan hari libur nasional.

Para wisatawan mendapat kesempatan memasuki terowongan bawah tanah sepanjang 186 meter yang dilengkapi anak tangga dan lampu penerangan itu.

"Sebenarnya ada lima tahap terowongan tambang Mbah Soero itu. Namun yang kami buka baru satu tahap sepanjang 186 meter itu," katanya.

Efriyanto menyatakan tahap kedua yang akan dibuka dengan menggunakan dana Rp3 miliar itu rute dari Info Box (bekas gedung pertemuan buruh tambang) sebagai pintu masuk menuju Masjid Agung Sawahlunto yang dulunya pembangkit listrik tenaga uap sebelum dipindahkan ke Kecamatan Talawi.

"Di bawah masjid itu sampai sekarang ada bungker. Nah, bungker itu nanti kami fungsikan untuk menunjang objek wisata Mbah Soero ini," ujarnya.

Menurut dia, empat tahap terowongan bawah tanah bekas galian tambang batu bara lainnya itu sudah ada. "Namun baru tahap satu yang sampai saat ini aman dilalui wisatawan," katanya menambahkan.

Terowongan tambang yang dirintis DR Jan Willem Ijzerman pada 1898 tersebut diberi nama Mbah Soero karena perusahaan tambang tersebut mempekerjakan Soero, pria asal Pulau Jawa sebagai mandor.

Untuk memperkuat objek wisata kota tua bekas tambang batu bara, Pemkot Sawahlunto mempertahankan konsep "home stay" sehingga nantinya tidak perlu ada lagi penambahan hotel.

"Karena faktor menyejahterakannya dinilai berhasil, maks konsep home stay kami menjadi percontohan nasional. Dan bulan Februari mendatang, pemerintah pusat menunjuk kami untuk ambil bagian dalam Home Stay Fair International di Thailand," kata Efriyanto.

Terkait dengan rusaknya komponen utama lokomotif legendaris "Mak Itam", dia berharap pemerintah tidak lagi terbebani biaya operasional jika nantinya dapat beroperasi lagi guna mendukung pariwisata di kota yang diapit Bukit Barisan itu.

Lokomotif tenaga uap yang pertama kali digunakan untuk mengangkut batu bara dari Sawahlunto ke Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang, pada 1894 itu sempat digunakan untuk angkutan kereta wisata di rute Sawah Lunto-Muaro Kalaban pada periode 2009-2012.

Namun dalam tiga tahun tersebut biaya operasinya membebani pemerintah. Untuk satu rit, lokomotif yang menarik gerbong wisata itu membutuhkan biaya Rp5 juta, namun pendapatan dari tiket penumpang tidak lebih dari Rp3,5 juta.

Saat ini Pemkot Sawahlonto telah menyiapkan dana Rp500 juta untuk perbaikan lokomotif yang sudah tiga tahun lebih dikandangkan itu.

Bagi Pemkot Sawahlunto, Mak Itam adalah ruh pariwisata sehingga berbagai upaya telah dilakukan untuk menghidupkan kembali lokomotif kuno bernilai sejarah tersebut seperti dilansir dari laman antaranews.