Teliti Obat Diabetes; Sri Fatmawati Dosen ITS Raih Penghargaan Dunia

Teliti Obat Diabetes; Sri Fatmawati Dosen ITS Raih Penghargaan Dunia

Surabaya, Kabarindo- Sri Fatmawati SSi. MSc. PhD, dosen jurusan kimia FMIPA Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, meraih penghargaan tingkat dunia berkat penelitiannya di bidang Kimia Organik Bahan Alam.

Ia menerima Early Chemist Award di ajang The International Chemical Congress of Pacific Basin Societies 2015 di Honolulu, Hawaii, pada Desember 2015 lalu.

Penghargaan tersebut diberikan kepada 40 peneliti yang memiliki rekam jejak dan publikasi terbanyak. Ini merupakan penghargaan bagi peneliti muda di bidang kimia dan ilmu spektroskopi yang dianugerahkan dalam kongres kimia lima tahunan terbesar yang digelar sejak 1984.

Terdapat sekitar 8.000 makalah dari 71 negara se-Asia Pasifik yang terdaftar dalam kongres Kimia Pasifik Basin tahun 2015. Selain Fatma, sapaan akrab Sri Fatmawati, terdapat lima peneliti Indonesia lainnya yang meraih penghargaan serupa.

Bukan kali ini saja Fatma berhasil meraih prestasi membanggakan di tingkat dunia. Ia pernah meraih penghargaan bergengsi L’Oreal Women in Science 2013 di Prancis. Pada 2015, ia  menyandang gelar Kartini Award 2015 sebagai The Most Inspriring Woman karena kesuksesan di bidang yang ia tekuni.

Fatma mengungkapkan, semua penelitian yang ia lakukan selama ini atas dasar rasa ingin tahu semata, bukan untuk mencari penghargaan. Ia mengaku termotivasi untuk terus berprestasi karena ingin mempunyai jejak sejarah hidup yang baik.

“Kalau saya dapat penghargaan, dapat menambah nilai untuk akreditasi jurusan serta meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia di dunia sains,” ujar ibu dua anak ini pada Selasa (5/1/2016).

Fatma mengaku senang bisa berpartisipasi dalam kongres kimia terbesar itu. Ia mendapat biaya akomodasi, bisa bertemu para penerbit jurnal seperti Elsevier serta para editor jurnal kimia papan atas hingga peraih nobel kimia.

Dalam kongres tersebut, Fatma menyampaikan makalah mengenai penggunaan ekstrak bahan alam dari berbagai tumbuhan sebagai bahan obat diabetes. Ia menyeleksi berbagai tanaman yang berpotensi sebagai obat diabetes di Indonesia.

“Kami mengisolasi senyawa aktif dari tanaman, kemudian ekstrak tersebut diteliti proses penghambatannya terhadap enzim yang menyebabkan kadar gula darah naik atau pemicu komplikasi penderita diabetes,” ujar perempuan asal Madura tersebut.

Ia menambahkan, Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Karena itu, ia memanfaatkan apa yang digunakan masyarakat sebagai obat dan ingin membuktikannya secara ilmiah.

Menurut Fatma, penelitian yang ia lakukan merupakan riset dasar, sehingga hasilnya masih perlu diteliti lebih lanjut sebelum dijadikan obat dan diproduksi secara massal.

“Riset saya belum sampai pada tahap klinis. Masih banyak tahapan lain yang harus dilalui sampai suatu senyawa bisa disebut sebagai obat,” ujar perempuan yang meraih gelar PhD dari Universitas Kyushu, Jepang, ini.

Hidup di negara yang belum sepenuhnya mendukung penelitian dasar memberikan kendala tersendiri bagi Fatma. Ia sudah terbiasa kesulitan membeli bahan kimia, enzim dan lain-lain, namun itu bukan halangan baginya. Beruntung ia mendapat dukungan dari banyak pihak sehingga penelitiannya dapat berjalan lancar.