Talking About Buah Khuldi; Pamerkan Karya 22 Seniman Serbuk Kayu

Talking About Buah Khuldi; Pamerkan Karya 22 Seniman Serbuk Kayu

Surabaya, Kabarindo- Buah Kuldi yang dikenal dalam cerita tentang Adam dan Hawa sebagai buah terlarang, dalam kekinian buah ini digambarkan merupakan godaan yang akan dihadapi oleh setiap insan manusia.
 
Misteri buah Khuldi baik dari segi bentuk, warna maupun rasa dapat secara bebas ditafsirkan dalam berbagai pesan moral. Warna warni interpretasi ini diterjemahkan oleh 22 seniman yang tergabung dalam Serbuk Kayu dengan menggelar pameran fine-art dengan tema “Talking About: Buah Khuldi” yang digelar selama 6 – 29 Maret 2015 di Galeri Seni House of Sampoerna (HoS).
 
Berbekal pengetahuan serta latar belakang pemahaman yang digabungkan dengan teknik penciptaan karya yang beragam, mereka menciptakan 19 karya individual dan 1 karya kolaborasi seperti seni lukis, instalasi, patung dan karya seni pertunjukan.
 
Salah satu karya lukis milik Suvi Wahyudianto yang berjudul “Otak Hitam Putih” bercerita bahwa dirinya adalah anak Khuldi, yang lahir dari sebuah godaan. Karya ini dikerjakan dengan teknik monoprint, yaitu teknik grafis dasar yang memanfaatkan proses foto kopi kemudian dicetak dengan menggunakan krim khusus pada media lukis.
 
Sedangkan karya JAST 571 yang berjudul “Psilocybin” menampilkan huruf-huruf Ambigram yang muncul sebagai representasi estetis dari sang seniman. Huruf-huruf ini mengandung unsur huruf hieroglyph, Arab, kanji dan lainya yang kemudian disuguhkan dalam bentuk ambigram. Karya ini membawa pesan keharmonisan dalam kehidupan dimana satu sama lain saling melengkapi layaknya Adam yang tak mampu hidup tanpa Hawa. Dua puluh seniman lainnya menuangkan imaji buah Khuldi dalam bentuk karya imaginatif kreatif lainnya.
 
Serbuk Kayu terbentuk pada 2011 yang ditandai dengan street performance berjudul “Mobil Ramah Lingkungan” yang dibawakan oleh Achmad Fahrizal Mahdi, Akbar Kusuma Anjasmara, Dwi Januartanto, Dwiki Nugroho Mukti, Dyan Condro, R.M Mahendra Pradipta Surya dan Zalfa Robby. Sejak itu, Serbuk Kayu menjadi komunitas seni dengan anggota bebas tanpa harus mendaftar atau memiliki kartu anggota. Hingga saat ini jumlah anggotanya sekitar 30 seniman di Surabaya.
 
“Kami ingin memberikan sudut pandang baru mengenai legenda buah Khuldi secara estetis dan memperkaya khasanah seni di Indonesia, khususnya di Surabaya,” ujar Anjas, Koordinator Pameran pada Selasa (10/3/2015).
 
Ia berharap, Serbuk Kayu dapat berproses tanpa henti agar dapat terus berkarya di ranah kesenian.