Tahura Sultan Adam Kalsel; Ditanami Pohon-Pohon Pengganti Akibat kebakaran

Tahura Sultan Adam Kalsel; Ditanami Pohon-Pohon Pengganti Akibat kebakaran

Surabaya, Kabarindo- Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam, Mandiangin, di Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan, ditanami pohon-pohon pengganti akibat kebakaran beberapa waktu lalu.
 
Penanaman tersebut telah dilakukan pada puncak acara Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) 2015 serta Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) baru-baru ini yang mengambil tema "Ayo Kerja, Tanam dan Pelihara Pohon Untuk Hidup Yang Lebih Baik".
 
Tahura Sultan Adam merupakan salah satu wilayah yang mengalami kebakaran hutan cukup luas sehingga membutuhkan rehabilitasi.
 
Menurut Dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. H. Endes N. Dahlan, jenis tanaman yang dapat tumbuh dengan baik di daerah tersebut adalah jenis-jenis pohon yang tumbuh sebelum terbakar, karena terbukti dapat beradaptasi dengan iklim dan tanah setempat.
 
Upaya penanaman pohon demikian telah dilakukan Djarum Foundation melalui program Djarum Trees for Life dalam kegiatan “Menanam Trembesi 1.350 KM Merak – Banyuwangi” yang dilaksanakan sejak 2010.
 
Kegiatan tersebut sejalan dengan program Sustainable Development Goals (SDGs) yang dicanangkan PBB untuk periode 2015-2030 sebagai kelanjutan Millenium Development Goals (SDGs) yang berakhir pada 2015.
 
SDGs membahas 17 goal (target) untuk mewujudkan kehidupan dunia yang adil, sejahtera dan damai yang bebas dari kemiskinan, kesenjangan, keterbelakangan, pandemi, kekerasan, terorisme dan kerusakan lingkungan hidup serta perubahan iklim.
 
Goal ke-13 SDGs memberi amanat untuk segera mengambil tindakan memerangi perubahan iklim dan dampaknya. Di dalamnya terjabar tujuan untuk memperkuat ketahanan dan kapasitas adaptasi terhadap bahaya terkait iklim serta bencana alam di semua negara.
 
Endes mengatakan, pohon trembesi yang ditanam di sepanjang Merak – Banyuwangi akan menyerap 1 juta ton gas CO2 setiap tahun yang selaras dengan target ke-13 SDGs.
 
“Trembesi merupakan jenis pohon yang memiliki daya serap yang sangat tinggi sehingga penanaman dalam jumlah banyak merupakan terobosan bagus untuk mengatasi pemanasan global, perubahan iklim ekstrim serta puting beliung yang mengancam kehidupan manusia akibat meningkatnya konsentrasi gas CO2 di udara karena emisi pembakaran minyak dan gas oleh kendaraan bermotor dan industri,” ujarnya dalam rilis yang diterima dari Djarum Foundation pada Minggu (29/11/2015).
 
Endes menambahkan, sebaran trembesi di semua daerah tropis. Pohon ini dapat hidup di daerah beriklim kering savana dengan curah hujan kurang dari 2.000 mm per tahun maupun di daerah kurang subur, karena akarnya mengandung bakteri Rhizobium yang dapat mengikat nitrogen dari udara sehingga tanah menjadi lebih subur.
 
Cabang trembesi sangat kuat sehingga cocok untuk peneduh jalan. Daunnya berukuran kecil dan tidak menghasilkan zat allelopathyu sehingga tumbuhan jenis lain dapat tumbuh di bawahnya. Banyak manfaat lain yang bisa diperoleh dari pohon trembesi. Diantaranya, buahnya agak manis dan sering dihinggapi lebah. Bijinya dapat disangrai untuk camilan, daun dan akarnya berkhasiat obat, serta kayunya kuat dan bagus untuk furnitur.
 
Hingga pertengahan 2015, Djarum Trees For Life berhasil menanam 36.763 pohon trembesi di sepanjang 1.260 km jalur Pantura mulai dari Merak di Provinsi Banten hingga Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Kegiatan menanam trembesi akan mencapai puncaknya di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, pada 17 Desember 2015.