Surabaya Heritage Track; Ajak Masyarakat Ikuti Lunar Track

Surabaya Heritage Track; Ajak Masyarakat Ikuti Lunar Track

Surabaya, Kabarindo- Budaya Tiongkok adalah salah satu kebudayaan tertua didunia dan mampu bertahan hingga kini.

Budaya tersebut juga dilestarikan masyarakat Tionghoa di Indonesia yang mencerminkan tradisi dan bakti kepada leluhur. Hal ini dapat dilihat pada saat perayaan-perayaan yang diselenggarakan setiap tahun.

Terdapat bermacam perayaan tradisional masyarakat Tionghoa seperti Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh, Duan Wu, Ceng Beng, Tiong Ciu Pia serta Dongzi.

Pada saat Tahun Baru Imlek, umumnya masyarakat Tionghoa melakukan Bai Nian yaitu mengucapkan selamat tahun baru kepada sanak saudara setelah bersembahyang di Klenteng. Pada hari ke-15 setelah Imlek, dilaksanakan festival Cap Go Meh yaitu menyantap sajian lontong. Untuk menghormati leluhur, masyarakat Tionghoa juga melakukan upacara Ceng Beng dengan berziarah dan membersihkan makam.

Ada pula perayaan Duan Wu (Peh Cun) yang identik dengan bakcang, penganan tradisional yang terbuat dari beras ketan dan daging. Festival lainnya yang tak kalah menarik adalah perayaan Tong Ciu Pia yaitu berkumpulnya keluarga merayakan kebersamaan sambil menikmati kue bulan sebagai makanan khas.

Untuk melihat tradisi tersebut, House of Sampoerna melalui program tematik tur Surabaya Heritage Track (SHT) mengadakan Lunar Track selama 19 Februari – 13 Maret 2016. Trackers atau para peserta diajak mengunjungi Klenteng Boen Bio,Klenteng Pak Kik Bio dan tempat pembuatan Bakcang di daerah Peneleh untuk melihat secara langsung proses produksi serta mendengar sejarah masing-masing perayaan budaya tersebut.

Klenteng Boen Bio aktif melestarikan festival atau perayaan kebudayaan Tionghoa yang juga merupakan ritual peribadatan untuk bersyukur dan sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Boen Bio juga mengadakan sembahyang dan ritual keagamaan seperti atraksi tari Liong dan Barongsai. Tarian ini dipercaya dapat membawa keberuntungan, mampu mengusir energi negatif maupun roh halus. Peribadatan Bakcang juga dilakukan Boen Bio dengan melakukan larung bakcang di Kenjeran.

Klenteng Pak Kik Bio disebut juga Klenteng Jagalan yang dibangun pada 8 April 1951 dan diresmikan pada 17 Juni 1952. Klenteng ini terlihat unik dengan adanya serambi menjorok ke depan yang mengandung filosofi untuk menyambut berkah. Terdapat genta di dekat dinding berlambang Patkwa dan Yin-Yang. Genta dalam kepercayaan Konghucu melambangkan suluh kehidupan yang dibunyikan sebagai tanda berkumpul dan siap melaksanakan upacara keagamaan.

Sedangkan Patkwa adalah simbol yang diperkenalkan oleh Kaisar Fu Hsi (2582 SM) dengan garis-garis lurus tanpa putus (Yang I, simbol maskulin) dan garis-garis patah dua (Yin I, simbol feminin) di dalam sebuah segi delapan yang menggambarkan delapan situasi kehidupan, yaitu perkawinan, ketenaran, kekuasaan, keluarga, pengetahuan, karir, orang-orang berguna dan anak-anak.

Sementara Bakcang Peneleh merupakan sesajian yang wajib ada saat perayaan Duanwu Jie, yang oleh masyarakat Tionghoa lebih dikenal dengan sebutan festival Peh Cun yang dirayakan setiap tahun pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek (sekitar Juni).

Generasi ke tiga Bakcang Peneleh, Oei Kung Giok, menggunakan resep turun-temurun keluarganya dalam membuat bakcang, agar masyarakat Tionghoa dapat merayakan Peh Cun walaupun berada jauh dari tanah leluhur. Lambat laun bakcang menjadi salah satu makanan favorit masyarakat pada umumnya karena saat ini Bakcang juga berisi daging ayam dan halal.