Surabaya Heritage Track; Ajak Kunjungi Pasar Tradisional Di Surabaya

Surabaya Heritage Track; Ajak Kunjungi Pasar Tradisional Di Surabaya

Surabaya, Kabarindo- Pasar modern tumbuh pesat di kota  - kota besar termasuk Surabaya, namun pasar tradisional tetap eksis karena keberadaannya masih dibutuhkan.
 
Keberadaan pasar – pasar tradisional tersebut erat kaitannya pula dengan posisi strategis Surabaya sebagai salah satu pelabuhan dagang terbesar di Nusantara hingga mendorong tingginya aktivitas perdagangan di bantaran Kalimas. Terbentuklah kemudian kawasan pemukiman yang melahirkan tempat jual - beli yang dikenal sebagai pasar tradisional.
 
Pasar - pasar tradisional tetap menjadi jujugan. Beragam aktivitas dengan tata cara jual beli yang tradisional tetap dipertahankan sebagai bagian dari budaya lokal masyarakat Indonesia.
 
Sebagai upaya menunjukkan eksistensi pasar – pasar tradisional di Surabaya sekaligus mengisi liburan akhir tahun, program Surabaya Heritage Track (SHT) menggelar tur tematik Year End Track: “Kunjung Pasar” yang diadakan mulao 10 Desember 2013 – 5 Januari 2014.
 
Tur berlangsung Selasa – Minggu selama 10 Desember 2013 – 05 Januari 2014 yang berawal dan berakhir di House of Sampoerna. Tur dibagi dalam dua jadwal. Pada Selasa – Kamis diadakan pukul 15.00 – 16.30 dengan mengunjungi Pasar Pabean dan Pasar Atom. Pada Hari Jumat – Minggu diadakan pukul 15.00 – 17.00 dengan mengunjungi Pasar Genteng, Pasar Kayun dan Pasar Blauran.
 
Pasar Pabean dikenal sebagai salah satu pusat perkulakan ikan, rempah dan bahan pangan di kawasan Surabaya Utara. Pasar Atom berawal dari pasar liar di sepanjang jalur Kali Pegirian pada 1950-an. Atas inisiatif Pemkot Surabaya, pada 1979, pasar ini dipindahkan ke lokasi sekarang. Diresmikan pada 1872, Pasar Genteng diambil alih oleh pemerintah kolonial pada 1906. Perkembangan aktivitas ekonomi mendorong dibangunnya los sepanjang 24 meter di Pasar Genteng pada 1916 untuk pedagang komponen elektronik.
 
Pasar Kayun berasal dari nama sebuah kawasan perumahan elite di Surabaya pada 1920 - 1940. Kata Kayun / Kayon / Kajoon berasal dari kosa kata literatur Bahasa Jawa yang berarti hidup. Memasuki 1960-an, kawasan ini mulai berubah menjadi pasar bunga. Pada 1985, Pasar Kayoon dikenal sebagai sentra penjualan bunga.
 
Sedangkan Pasar Blauran diambil dari kata Blauran yang berasal dari Bahasa Belanda “Blauw” yang berarti biru. Penamaan ini disebabkan pemukiman di kawasan tersebut dulunya berpagar warna biru. Dibangun pada 1950-an, Pasar Blauran kemudian dibongkar menjadi gedung bertingkat seperti sekarang pada 1970-an.
 
Sepanjang perjalanan, peserta tur (trackers) akan mendapatkan cerita mengenai peranan pasar - pasar tradisional di sepanjang bantaran Kalimas dalam mendukung roda perekonomian Surabaya dan bagaimana pasar - pasar tersebut mampu bertahan di tengah desakan pusat perbelanjaan modern.
 
Tur tematik SHT diselenggarakan pada periode - periode tertentu guna memperkenalkan sejarah Surabaya dan berbagai bangunan kuno yang memiliki nilai sejarah tinggi. Tur dapat dinikmati oleh wisatawan secara cuma - cuma.
 
“Melalui berbagai tur, trackers dapat menikmati berbagai bangunan cagar budaya serta memperoleh pengetahuan dan pengalaman baru,” ujar Rani Anggraini, Museum Manager House of Sampoerna, pada Selasa (18/12)