Sharp Luncurkan Plasmacluster; Dengan Fitur Penangkap Nyamuk

Sharp Luncurkan Plasmacluster; Dengan Fitur Penangkap Nyamuk

Surabaya, Kabarindo- Tak banyak yang mengetahui bahwa nyamuk merupakan binatang nomor satu penyebab kematian manusia di dunia.
 
Menurut data World Health Organization (WHO), jumlah kasus kematian manusia di dunia akibat penyakit oleh nyamuk lebih tinggi dibandingkan dengan kematian manusia akibat diserang ular, anjing, buaya, singa, serigala dan hiu.
 
Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki sejarah buruk dengan nyamuk. Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia, penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia selama lebih dari 40 tahun. Sejak 1968-2009, WHO mencatat Indonesia sebagai negara dengan kasus DBD tertinggi di Asia Tenggara. Angka kasus DBD di Indonesia meningkat dari 2012 ke 2013 yaitu 41,25 orang per 100.000 penduduk.
 
Musim hujan yang diprediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan datang pada November nanti perlu diwaspadai masyarakat karena sering diiringi munculnya sejumlah penyakit, salah satunya DBD.
 
“Karena itulah, menjelang musim hujan tahun ini, kami menghadirkan produk penjernih udara dengan teknologi plasmacluster yang dilengkapi fungsi penangkap nyamuk untuk menjaga kesehatan konsumen di Asia Tenggara, khususnya Indonesia yang beriklim tropis,” ujar Fumihiro Irie, President Director PT Sharp Electronics Indonesia (SEID), pada Rabu (28/10/2015).
 
Produk penjernih udara (air purifier) model FP-FM40 yang dilengkapi fungsi penangkap nyamuk (mosquito catcher) merupakan terobosan baru dari teknologi penjernihan udara berbasis plasmacluster. Penjernih udara ini mampu menonaktifkan berbagai virus, jamur, bakteri dan bau-bauan tak sedap serta menyingkirkan 99,97% debu dan asap berkat filter HEPA (High Efficiency Particulate Air), sekaligus menangkap nyamuk dengan metode yang 100% aman karena bebas dari bahan kimia berbahaya.
 
Untuk mengembangkan produk ini, Sharp melakukan riset dengan mempelajari perilaku nyamuk, bekerja sama dengan Institute for Medical Research Malaysia, lembaga riset yang merupakan Pusat Kolaborasi WHO untuk binatang parasit (WHO Collaborating Centre for Vector). Dari pengamatan ini, ditemukan sejumlah perilaku unik nyamuk, di antaranya kegemaran nyamuk pada sinar UV, warna hitam dan celah-celah sempit.
 
“Karena itu, dikembangkan fitur-fitur yang dilengkapi sinar UV dengan panjang gelombang 360 nm yang disenangi nyamuk, didesain dengan body berwarna hitam untuk menarik perhatian nyamuk, memiliki celah-celah sempit yang disukai nyamuk, daya hisap dan aliran udara yang kuat serta lembar perekat yang kuat,” ujar Herdiana Anita Pisceria, General Manager Divisi Product Planning SEID.
 
Untuk membuktikan efektivitas produk penjernih udara model FP-FM40, Sharp dan Institute for Medical Research Malaysia melakukan 15 tes di sebuah rumah uji coba. Sekitar 200 nyamuk betina dilepaskan ke dalam ruangan yang dilengkapi satu unit FP-FM40. Agar tes lebih akurat, sebuah kotak kertas buatan dengan ukuran serupa air purifier diletakkan berseberangan dengan unit FP-FM40. Setelah 24 jam dinyalakan, produk ini mampu mengurangi 91% nyamuk Culex, 73% nyamuk Aedes, dan 72% lalat.
 
Herdiana optimistis, produk ini akan mampu mengatasi permasalahan nyamuk sehingga dapat terjual sebanyak 10 ribu unit dalam satu tahun dan meraih 70% market share hingga tahun depan.