Sharp Gelar Aksi Pelestarian Lingkungan; Peringati Hari Air Sedunia

Sharp Gelar Aksi Pelestarian Lingkungan; Peringati Hari Air Sedunia

Surabaya, Kabarindo- Memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret 2017 dan menyambut Earth Hour pada 25 Maret 2017, PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) melakukan aksi pelestarian lingkungan di Hutan Kota Sangga Buana, Jakarta.

Difasilitasi oleh WWF-Indonesia, komunitas Sharp Greenerator belajar mengenai pemanfaatan sumber energi alternatif sebagai pengganti energi yang berasal dari minyak bumi yang kian menipis.

Kegiatan tersebut diikuti peserta dari sejumlah sekolah di Bogor dan sekitarnya serta organisasi nirlaba lingkungan hidup seperti World Wide Fund (WWF) Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Transformasi Hijau (Trashi), Yayasan Terumbu Karang Indonesia (Terangi) dan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation. Mereka dibekali beragam informasi penting dan menarik mengenai perubahan iklim dan energi, pemanfaatan sampah, air dan sinar matahari sebagai sumber energi alternatif serta melakukan penelitian dan pengujian kualitas air di sungai Pesanggrahan.

Hutan Sangga Buana merupakan cikal bakal hutan kota di Jakarta, menempati area seluas 120 hektar. Sekitar 30 tahun lalu, area bantaran sungai Pesanggrahan sangat memprihatinkan. Sampah menggunung di tepian sungai dan tercium aroma busuk dengan air sungai berwarna kehitaman. Kesadaran mayarakat sekitar dan inisiatif seorang warga bernama bang Idin menjadi semangat yang patut ditiru anggota Sharp Greenerator.

“Melalui program yang difasilitasi WWF-Indonesia, kami ingin berbagi pengetahuan mengenai isu perubahan iklim dan sumber energi serta menularkan semangat warga dalam mengelola dan melestarikan lingkungan,” ujar Susilowati Lestari, Head of Supporter Relation & Fundraising WWF-Indonesia, dalam rilis yang diterima pada Jumat (24/3/2017).

Sebelumnya Sharp mengadakan kegiatan CSR Care & Share Project dengan mengajak sejumlah siswa SMKN 29 Jakarta mengunjungi Museum Satria Mandala, Gatot Subroto, Jakarta, pada 18 Maret 2017. Selain mengenal sejarah guna meningkatkan minat mereka untuk mengunjungi museum, siswa juga diajak membersihkan sampah di museum sekaligus menjadi bagian dari peresmian Taman Mini Sharp yang dapat dinikmati masyarakat.

Menurut Haruhiko Sano, Branding Strategy Group General Manager PT SEID, pengetahuan anak muda mengenai alam dan lingkungan tidak cukup dari pelajaran di sekolah. Mereka perlu terjun langsung melihat kondisi dan belajar dari para ahli di bidangnya agar bisa mengamati dan memahami prosesnya.

“Kami melihat potensi dan kiprah yang besar terhadap lingkungan dari Hutan Kota Sangga Buana. Kami tergerak untuk menjadikan hutan ini sebagai sarana pembelajaran yang tepat bagi Sharp Greenerator guna mengetahui pengelolaan lingkungan yang baik,” ujarnya.

Para peserta diajak mengitari tiga pos dengan kegiatan berbeda terkait pelestarian alam. Sebagai kegiatan awal, peserta diajak menyusuri Sungai Pesanggarahan yang menjadi bagian dari hutan kota ini. Sebelum ditata menjadi lahan konservasi, Hutan Sangga Buana merupakan tempat pembuangan sampah bagi masyarakat sekitar, sehingga kondisi sungai terlihat menyedihkan beberapa tahun silam. Banyak timbunan sampah dan sungai berwarna pekat. Di Pos Sedekah Alam, peserta melepaskan bibit ikan ke sungai dan menanam pohon di sekitar hutan. Kemudian mereka meninjau tempat pengelolaan sampah di dalamnya.

Produksi sampah dari setiap kepala keluarga mencapai 7 kilogram, sementara sampah yang didaur ulang hanya 20% – 25% dan sisanya menjadi residu. Peserta diingatkan dengan tiga proses penting dalam pengelolaan sampah yaitu pemilihan sampah, pemisahan berdasarkan kategori hingga pengolahannya menjadi energi terbarukan.

Umumnya, sampah-sampah dibakar agar uapnya dapat digunakan sebagai tenaga penggerak mesin pengolahan sampah, sementara hasilnya yang berupa abu residu akan dimanfaatkan sebagai pupuk.