Rumah Kelas Menengah; Sambut Tahun Baru 2014

Rumah Kelas Menengah; Sambut  Tahun Baru 2014

Jakarta, Kabarindo- Pasar rumah menengah di 2014 masih menjanjikan. Agenda politik pada tahun ini, diperkirakan tidak akan memengaruhi pasar rumah tapak, khususnya untuk segmen menengah - atas.

Presiden Direktur Paramount Land Adi Nugroho mengatakan, permintaan akan hunian di Indonesia masih sangat tinggi, terutama di kawasan Jabodetabek. Hal tersebut sejalan dengan pertumbuhan masyarakat kelas menengah, yang turut mendorong permintaan tempat tinggal yang layak.

"Kami harapkan tahun politik tidak ada gejolak besar, sehingga tidak mempengaruhi pasar properti yang saat ini sudah cukup baik," kata Adi, di Jakarta, belum lama ini.

Membaiknya pasar ditandai dengan antusiasme konsumen untuk membeli rumah yang dikembangkan Paramount Land di kawasan Gading Serpong. Menurut dia, beberapa klaster baru yang diluncurkan pada akhir 2013, seperti Samara Village sebanyak 600 unit terjual
habis dalam satu hari. Artinya, lanjutnya, kondisi ekonomi masih sangat baik dan kelas menengah juga tumbuh. Properti menjadi salah satu sasaran untuk investasi maupun tempat tinggal.

Hal senada disampaikan oleh Presiden Direktur Prioritas Land Indonesia (PLI) Marcellus Chandra. Dia menegaskan, bisnis properti tidak akan pernah turun setiap tahunnya. Bahkan, harga properti akan terus naik dua kali lipat selama kurun waktu 5 tahun ke depan.

"Saya yakin bisnis properti tidak akan turun, atau bahkan mati. Sebaliknya, harganya dalam 5-7 tahun mendatang bisa sampai 2 digit. Ini luar biasa," kata dia.

Menurut Marcellus, selama 2014 bisnis properti tidak akan seret karena kebutuhan akan hunian masih sangat tinggi. "Proyek-proyek properti yang di bangun oleh PLI juga masih diminati pembeli," kata dia.

Proyek rumah tapak yang dikembangkan oleh PLI pada 2014 antara lain Airia Residence seluas 30 hektare di kawasan Tigaraksa Tangerang, Banten. Proyek senilai Rp 800 miliar ini akan membangun 1.800 unit rumah tapak.

Sementara itu, Komisaris ISPI Group Preadi Ekar to mengatakan, meski kebijakan Bank Indonesia (BI) soal loan to value (LTV) sangat memberatkan pengembang, namun tak membuat perusahannnya menyerah. Berbagai strategi untuk membangun rumah yang diminati konsumen, terus dilakukan. Salah satu strategi adalah meningkatkan kualitas bangunan dan membangun sarana pendukung.

"Strategi kami banyak agar konsumen mau membeli rumah yang kami bangun, seperti kerja sama dengan para tenant, misalnya Giant dan Telkom dalam memberikan fasilitas kepada pembeli. Dan yang terpenting adalah kualitas rumah," kata dia. ISPI Group saat ini sedang meluncurkan klaster Victoria di Bekasi dengan harga jual Rp 250 jutaan.

Hal sama diungkapkan oleh Presiden Direktur Relife Group Gofar. Menurut dia, salah satu kunci agar bisnis rumah tapak diminati pembeli adalah kualitas rumah, selain kedekatan pengembang dengan pembeli. Dengan demikian, kebutuhan dan keinginan pembeli bisa diketahui secara baik.

"Saya yakin, 2014 tidak ada bedanya dengan tahun sebelumnya. Properti tidak melihat kondisi tahun politik. Masyarakat membeli rumah karena ingin memiliki rumah. Dan tentu saja, hanya rumah berkualitas yang akan diserbu pembeli, seperti proyek Relife Group di kawasan Cibubur dan Sawangan Depok," kata dia seperti dilansir dari laman beritasatu.