RS Husada Utama Surabaya; Kini Miliki Pusat Bedah Syaraf Anak

RS Husada Utama Surabaya; Kini Miliki Pusat Bedah Syaraf Anak

Surabaya, Kabarindo- Tumbuh kembang pada masa anak-anak akan mempengaruhi kehidupan mereka pada masa dewasa.
Setiap orang tua akan mengusahakan yang terbaik untuk perkembangan buah hatinya. Salah satu yang mendapat perhatian khusus adalah otak dan tulang belakang.

Data menunjukkan, di rumah sakit pemerintah Dr. Sutomo Surabaya, jumlah operasi kasus bedah saraf untuk anak meningkat dari tahun ke tahun dengan beberapa kasus yang menonjol seperti hydrocephalus, NTD (Neural Cube Defect), infeksi, tumor otak dan lainnya dengan jumiah operasi 149 kasus (2010), 241 kasus (2011), 317 kasus (2012), 321 kasus (2013) dan 375 kasus (2014).

Tim bedah saraf anak (pediatric neurosurgery) yang terdiri dari Dr.dr. M.Arifin Parenrengi, SpBS, dr. Wihasto Suryaningtyas, SpBS. dan dr. Ananda Haris, SpBS. berkomitmen untuk mengembangkan pelayanan dan keilmuan bedah saraf anak dengan mendirikan Pediatric Neurosurgery and Epilepsy Surgery Center atau Pusat Bedah Syaraf Anak di RS Husada Utama (RSHU) Surabaya yang peresmiannya dilakukan pada Sabtu (6/6/2015).

Penanganan epilepsi dengan bedah mendapat perhatian khusus karena sebagian besar kasus epilepsi dimulai pada masa anak-anak. Disinyalir, sekitar 50 juta orang di seiuruh dunia memiliki epilepsi, hampir 90% berada di negara-negara berkembang. Data menunjukkan jumlah penderita epilepsi di Indonesia tercatat 1-4 juta jiwa.

Semakin tingginya kasus saraf pada anak, terutama epilepsi, menggugah kesadaran para ahii bedah saraf pada anak (pediatri) untuk mensosiaiisasikan tentang bahaya penyakit ini dan bagaimana cara mencegah serta langkah penanganan yang tepat.

Menurut ahli bedah saraf anak, dr. Wihasto SpBS, epilepsi adalah kelainan yang disebabkan oleh gangguan atau cetusan Iistrik di dalam otak yang tidak normal. Seringkali dan umum terjadi, epilepsi diasosiasikan dengan kejang seluruh tubuh yang disertai dengan keluar busa dari mulut. Bentuk kejang tersebut hanya salah satu dari bermacam-macam bentuk kejang yang dapat terjadi pada epilepsi.

Bentuk yang paling ringan disebut sebagai serangan kecil yang penderitanya hanya tampak seperti melamun sesaat, tidak bergerak dan tidak merespon terhadap Iingkungan. Namun dia akan segera sadar kembali tanpa menyadari dirinya telah kehilangan kesadaran sesaat.

Epilepsi yang muncul pada usia dini atau anak biasanya Iebih kompleks dibandingkan yang muncul setelah dewasa. Banyak sindrom epiiepsi yang muncui saat bayi dan berlanjut hingga usia lebih tua. Biasanya mereka cenderung kebal terhadap obat anti epilepsi, bahkan dengan 2 atau lebih jenis obat anti epilepsi, tetapi kejangnya tetap tidak dapat dikendalikan dengan baik. Efek epilepsi yang paiing buruk adalah gangguan tumbuh kembang dan efek psikososial.

"Si anak menjadi malu serta menarik diri dari lingkungan dan pergaulan sosial karena sering diolok-olok oleh teman-temannya. Ini akan mempengaruhi pendidikan dan kehidupan sosiainya,” ujar dr. Wihasto SpBS.

Dengan peresmian Pusat Bedah Syaraf Anak, RS Husada Utama Surabaya siap menjadi rujukan pelayanan dan pusat informasi tentang bedah saraf anak di Surabaya.